Tuesday, January 21, 2014

Batu Angkek-angkek

Sepulang dari pemandian umum di Desa Minangkabau, tuan rumah mengajak kami ke lokasi batu angkek-angkek. Tidak jauh, lebih kurang lima belas menit perjalanan. Tempatnya menyelip diantara rumah-rumah dalam gang kecil, yang hanya bisa dilewati satu kenderaan roda empat. Sebuah rumah gadang yang berusia puluhan - mungkin ratusan tahun, dilihat dari penampilannya.

Rumah gadang ini walaupun merupakan situs budaya adalah milik pribadi, dan dikelola oleh pemilik secara pribadi. Halaman depan rumah gadang ini sempit, hanya cukup untuk parkir beberapa mobil kecil. Tidak ada tempat untuk memutar kenderaan. Pengunjung yang ingin pulang harus melalui semacam gang di sebelah sekolah, dan tembus ke jalan masuk tadi. Beberapa anak muda setempat cukup sigap bertugas sebagai tukang parkir dengan bayaran 5000 rupiah.

Di depan rumah terpancang plang nama dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tanah Datar mengenai sejarah batu angkek-angkek tersebut. Semacam cerita percaya-atau-tidak, dengan kandungan mistis yang sangat kentara. Adalah Datuk Bandaro Kayo, penghulu kaum dari Suku Piliang, yang bermimpi didatangi oleh Syek Ahmad - tidak dijelaskan siapa Syeh Ahmad tersebut - dan diperintahkan untuk mendirikan sebuah perkampungan, yang sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Palangan. Saat dilakukan pembangunan tiang pertama, di lokasi tersebut terjadi gempa dan hujan panas - hujan yang terjadi saat matahari bersinar - selama empat belas hari berturut-turut, siang dan malam. Tidak ada penjelasan bagaimana kerusakan yang timbul akibat gempa selama itu. Ketika diadakan musyawarah untuk membahas kejadian tersebut (tidak dijelaskan kapan dilakukan, kemungkinan hari ke lima belas saat kejadian tersebut berakhir), terdengan semacam suara yang memberitahu bahwa dalam lubang untuk tiang yang sedang dibangun tersebut terdapat semacam batu, dan batu tersebut supaya diambil dan dirawat baik-baik.  Batu tersebut kemudian diambil dan disebut dengan batu Pandapatan. Tidak ada penjelasan lanjutan kenapa batu tersebut harus dijaga dan kenapa harus diangkat-angkat (angkek-angkek), sehingga kemudian namanya berubah menjadi batu angkek-angkek.

Mendaki tangga beton menuju ke atas rumah, kami disambut suasana rumah gadang tradisional Sumatera Barat. Konstruksi bagunan sebagian besar terbuat dari kayu, berwarna asli coklat tua tanpa polesan cat apapun. Nuansa gelap menanti, menampilkan suasana mistis yang ganjil. Di ujung tangga masuk, sebelah kiri, beranda depan dijadikan semacam kios suvenir. Pemilik rumah menjajakan berbagai pernak-pernik khas setempat, mulai dari kaos yang bertuliskan berbagai tulisan tentang Batusangkar, sampai gantungan kunci dan sandal buatan setempat. Juga tersedia obat-obatan tradisional bagi siapa saja yang memerlukan.

Di ruangan lainnya, yang dibedakan dengan ketinggian sekitar tiga puluh sentimeter - seperti rumah tradisional Aceh - beberapa pengunjung merubungi semacam ruangan berbentuk segiempat yang dibatasi oleh kain. Seorang lelaki usia akhir tiga puluhan sedang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Indonesia logat Minang. Saya naik ke tempat tersebut, bergabung dengan pengunjung lainnya untuk ikut mendengarkan penjelasan lelaki tersebut - yang ternyata adalah juru kunci batu angkek-angkek tersebut. Di dinding kamar tercantum tata cara ritual untuk pengunjung yang ingin mencoba mengangkat batu tersebut.

Di atas sepotong kain putih di lantai kayu yang dialas karpet, terletaklah batu tersebut. Mirip seperti potongan buah yang dibelah, berbentuk lonjong dengan salah satu sisi yang rata. Berwarna merah tembaga, sama sekali tidak mirip batu, tetapi lebih mirip logam tembaga dengan bercak kehitaman, mengilap oleh pegangan ribuan pasang tangan pengunjung dari masa ke masa. Kabarnya, di bawah rumah gadang ini, dalam kedalaman tanah, ada pasangan batu ini, belahan yang mirip, yang tidak bisa diangkat kluar dengan cara apapun dan lebih memilih untuk tetap berada di sana. Kemudian, saat melangkah masuk, supaya mengucapkan salam dalam hati. Kenapa harus mengucapkan salam ke benda mati? Tidak ada penjelasan. Semuanya berdasarkan aturan dengar-dan-patuhi-tanpa-pertanyaan. Jika ragu jangan ke sini.

Saya menyimak penjelasan juru kunci.

Sebelum memasuki lokasi segi empat tempat batu tersebut terletak, pengunjung yang berhajat harus berwudhu dulu, juru kunci melanjutkan.

Kemudian pengunjung supaya duduk bersimpuh di depan baru dan membaca Bismillah dan Salawat Nabi 3x dalam hati. Kemudian niat sambil berdoa. Sebagaima tercantum dalam petunjuk bergambar di dinding, contoh doanya adalah sebagai berikut, "Ya Allah kepada engkau aku bermohon, engkaulah yang akan mengabulkan permohonanku ... (sebutkan niatnya), kalau niatku terkabul berikanlah pertanda, ringankanlah batu ini / mohon terangkat". Kemudian posisikan diri setengah bersujud, dengan kedua tangan dibawah batu dengan telapak tangan menghadap ke atas. Tarik batu ke arah pangkuan. Kemudian turunkan kembali ke lantai. Terakhir, yang paling penting, masukkan persyaratan (biasanya berupa uang / sedekah) ke tempat yang di sediakan di sebelah kiri. Jangan lupa, sebelum meninggalkan lokasi kembali ucapkan salam dalam hati.

"Batu ini," lanjut juru kunci, "tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dia tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan terkabulnya sebuah niat atau tidak, apalagi punya kemampuan untuk mengabulkan sebuah pengharapan. Adalah Allah yang memiliki kemampuan tersebut. Jadi jangan memohon kepada batu, jangan meminta kepada batu untuk menunjukkan sebuah niat terkabul atau tidak. Bermohonlah kepada Allah. Usaha untuk mengangkat batu ini hanya sebagai tanda kekuatan niat kita untuk berusaha mencapai niat kita".

Sekali berada dalam ruangan tempat batu tersebut berada, pengunjung boleh mencoba tiga kali. Dua kali dengan niat, dan sekali tanpa ada niat apa-apa, hanya usaha untuk mengangkat saja.

Penjelasan usai. Pengunjung yang datang sebelum kami mendapat kesempatan pertama untuk mencoba. Duduk bersimpuh di depan batu, tangan diatas paha. mata terpejam mendaraskan niat dan doa. Kemudian kedua tangan terjulur ke bawah batu. Hup! Batu terseret kearah pangkuan. Senyum puas mengisi wajah.  Kemudian batu diletakkan kembali ke tempatnya semula. Angkatan kedua adalah kosong, tanpa niat apa-apa. Wajah berkerut, urat-urat pelipis menonjol. Batu tidak terangkat, bahkan tidak bergeser sedikitpun. Percobaan ketiga - sesuai arahan juru kunci - kembali diisi dengan niat dan doa. Batu kembali terangkat dan terseret ke pangkuan, seolah tanpa berat.

Saya tidak tertarik untuk mencoba, walaupun berulang kali juru kunci meminta. "Kalau tidak dialami sendiri, sudah menjelaskannya", katanya. Begitu juga tuan rumah kami. "Bagi saya, cukup doa langsung ke Yang Maha Kuasa, sehabis shalat. Tidak perlu petunjuk dari sebongkah batu untuk memberi tanda diterima atau tidak," tandas tuan rumah kami.



















No comments:

Post a Comment