Wednesday, September 22, 2010

Mudik - Intat Dara Baro

Masih dalam suasana lebaran, kami menerima undangan dari seorang kerabat untuk ikut serta dalam acara intat dara baro anak perempuannya yang pertama. Biasanya, rombongan intat dara baro melulu berisi kaum ibu dan para perempuan, tetapi biasanya yang dianggap para famili dekat ikut serta. Pestanya berlangsung di rumah penganten lak-laki di Meuredu, sekitar dua puluhan kilometer dari rumah penganten perempuan. Untuk transportasi sudah tersedia dua bus berukuran sedang, atau boleh saja membawa transportasi sendiri. Kebiasaan di daerah kami, setiap kali diajak untuk intat linto atau intat dara baro, biasanya masing-masing urunan untuk membayar ongkos transportasi - berapapun jauhnya - kecuali tuan rumah sudah menyatakan akan menanggung biaya transportasi. Acara akan dimulai jam sembilan, biasanya menurut jam Aceh, kemungkinan acara sebenarnya akan mulai sekitar jam sepuluh.

Dan benar saja. Jam delapan kami sampai ke kampung dari Banda Aceh, singgah dulu di sebuah rumah famili yang juga akan ikut dalam acara tersebut. Jam sembilan kami kerangkat ke rumah dara baro, dan belum ada tanda-tanda keberangkatan. Dua bus sudah dikerubuti para penumpang, menunggu keberangkatan. Beberapa kenderaan pribadi malah sudah bersiap-siap untuk berangkat, begitu juga dengan belasan sepeda motor. Jam setengah sepuluh bus bergerak meninggalkan rumah dara baro, diikuri oleh kenderaan-kenderaan lainnya. Dara baro sendiri masih berada di rumah, dan akan menyusul kemudian. Sekitar jam sepuluh dara baro keluar dari rumah - sudah dipeungui habis-habisan sebagaimana layaknya darabaro didandani - dan masuk ke mobil yang sudah disediakan. Mereka berangkat dan kamipun berangkat.

Jalanan ke rumah linto baro adalah jalan utama yang menghubungkan Banda Aceh dengan Medan. Dalam suasana lebaran, jalanan ini ramai oleh berbagai macam kenderaan yang melintas. Sepeda motor tidak putus-putusnya meramaikan jalan, dalam berbagai kecepatan. Yang tua berkendara dengan santun, pelan-pelan, diberengi dengan sedikit ketakutan tersenggol oleh kenderaan lain yang lebih cepat. Yang melaju kencang-kencang adalah para anak tanggung yang sepertinya baru bisa bersepeda motor - dan ini jumlahnya paling banyak. Jalanan, seperti biasanya, menjadi lebih berbahaya.

Di jalanan yang ramai, mobil rombongan dara baro yang berplat nomor ibukota terus menerus menghidupkan lampu hazard - kami tidak mengerti alasannya kenapa. Toh para pemakai jalan lainnya juga tidak peduli.


Dimanapun berada - selalu ingat kampung halaman ...



Sungai tersebut berbatu-batu dengan berbagai ukuran, airnya dangkal dan mengalir cepat, jernih dan sepertinya cukup sejuk untuk dipakai mandi dalam cuaca yang terik seperti hari ini. Para pengantar lainnya sudah menunggu di depan jalan masuk, dan mereka hanya menunggu dara baro tiba untuk menuju ke rumah linto baro tempat pesta tueng dara baro. Rombongan bergerak melintasi jalan beton, disebelah kirinya adalah saluran irigasi dengan air jernih dan bersih. Di seberangnya adalah rumah-rumah penduduk. Sesampai di depan rumah linto baro, kamu lelaki memisahkan diri. Para perempuan akan mendapat kesempatan duluan untuk makan. Saya memilih ikut bergabung dengan para perempuan - walaupun beberapa menatap dengan aneh, tetapi tidak ada yang protes ataupun mengatakan apa-apa. Makanannya beragam. Yang utama adalah masakan kari aceh - daging, bisa lembu atau kerbau, tetapi jarang daging kambing - yang dimasak dengan nangka. Ada juga pecal, goreng ikan tongkol yang disambal, ayam gulai (tidak ada ayam goreng), sambal goreng hati dan lain-lain. Cukup lengkap, dibandingkan dengan menu dikebanyakan pesta-pesta perkawinan yang kami hadiri di tempat kami tinggal.

Dulu, setiap ada pesta seperti ini, jarang ada yang menyediakan makanan dengasn sistem prasmanan. Biasanya dihidangkan dalam piring-piring, dan para tamu tinggal duduk dan makan, karena dalam keyakinan kami dulu, sistem prasmanan adalah "kurang terhormat". Yang pasti, penyelenggara pesta repot sekali. Sekarang, dengan sistem ambil sendiri, urusan menjadi lebih ringan. Urusan cuci-mencuci menjadi lebih sedikit, apalagi saat ini air minum yang disediakan adalah air minum dalam kemasan. Praktis sekali.

Jadi, saya mengambil makanan dan mencari tempat duduk. Hanya saya sendiri yang laki-laki. Tidak masalah. Makanannya cukup enak, khas daerah Pidie. Cuma, tempat kami makan luar biasa panasnya. Sebentar saja semua tamu mulai berkeringat, apalagi para perempuan yang berpakaian berlapis-lapis dan nyaris semuanya berkerudung, termasuk anak-anak. Atap dibuat dari terpal, dan dindingnya juga dari terpal. Teriknya matahari membuat udara menjadi panas, dan udara panas ini terkurung dibawah atap karena tidak bisa kemana-mana. Saya makan dengan terburu-buru, dan selesai makan langsung keluar mencari kesejukan dibawah keteduhan pepohonan di rumah di sebelah. Tamu-tamu yang lainpun saya tengok menyelesaikan makannya dengan terburu-buru dan satu persatu meninggalkan lokasi. Setelah kosong, kini giliran para pria untuk makan.

Siap makan, semuanya bergerak menuju ke kenderaan masing-masing. Betul-belul SMP - siap makan pulang. Tidak ada pamitan dengan tuan rumah, apalagi salaman mengucapkan selamat kepada para penganten. Itu bukan kebiasaan di kampung. Hanya para famili yang bergabung dengan penganten. Yang lainnya, ya seperti tadi. Datang, makan, pulang. Saya bertanya kepada salah satu famili, apakah tidak ingin masuk ke rumah untuk menyalami penganten? Tidak usah katanya. Nanti pada saat pesta tueng linto baro - yang akan diadakan dua hari lagi- juga bisa menengok pengantennya. Salaman dengan penganten untuk mengucapkan selamat? Entah ya, kayaknya jarang yang berbuat seperti itu. Tidak lazim, katanya.






No comments:

Post a Comment