Thursday, July 19, 2012

Brembeng, Tabanan, Bali

Akhirnya, perjalanan panjang kami dari Mojokerto berakhir. Sekitar jam setengah empat pagi, kenderaan kami berbelok memasuki jalan kecil dan berhenti di pintu pagar sebuah rumah. Sunyi senyap di sekeliling kami, warga sedang berada pada puncak lelapnya. Setengah mengantuk kami turun. Lampu-lampu yang bersinar redup dibalik embun dinihari memancarkan cahaya temaram. Mengikuti tuan rumah, kami melangkah mkelewati pura di depan rumah, terus ke sebuah rumah yang lebih mirip dengan bale-bale tempat bersantai. Dalam keremangan cahaya, kami mengamati bahwa bale-bale tersebut lebih indah dari yang kami sangka, lukiran-lukisan di dinding, ukiran pada tiang-tiang penyangga, ukiran pada pintu masuk yang dibuat dengan penuh kehalusan. Bahkan rangka penyangga atap juga nampak artistik dan penuh selera pembuat dan pemiliknya. Tiga kamar berjejer sejajar di balik beranda. Tidak ada dapur. Kamar mandi terletak di bagian belakang. Ini adalah rumah khas Bali. Tidak ada yang menunggui di rumah ini. Keluarga yang lain, keponakan pemilik rumah, menempati rumah utama, yang terletak di depan rumah yang kami datangi. Dua ekor anjing kecil menyalak kencang dekat kami tuan rumah, sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Sebuah geraman kasar berasal dari seekor anjing berukuran raksasa yang terikat dengan rantai di sudut rumah utama, dekat dengan bale-bale lainnya. Aman.

Tuan rumah mengeluarkan beberapa alas lantai dari kamar. Ternyata pintu kamar tidak ada yang dikunci. "Di sini sangat aman. Tidak ada maling. Rumah-rumah tidak dikunci, sepeda motor diletakkan di luar rumah." Tuan rumah menjelaskan. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat? "Belum pernah terjadi. Tetapi kalau orang luar yang melakukan, bisa dipastikan akan dikerjai warga sampai tewas".

Dua kawan kami beristirahat dalam kamar, tidur di atas tempat tidur yang tersedia. Kami memilih untuk duduk-duduk di luar, menikmati suasana tenteram sambil menunggu azan subuh. "Nanti azan subuh kedengaran dari mesjid yang ada di dekat sini", tuan rumah menjelaskan.

Keluarga tuan rumah membawa bungkusan makanan. Nasi uduk dengan lauk ayam. Membaca pikiran saya, tuan rumah berucap, "Ndak usah khawatir. Halal kok. Wong penjualnya muslim". Saya menjadi malu dan menelan kembali pertanyaan saya yang tidak pernah terucap.

Tempat rumah ini berada - lebih tepat disebut kompleks - terdiri dari beberapa rumah. Di bagian depan, di belakang sebuah kios yang dipakai berjualan berbagai barang kebutuhan sehari-hari, terdapat pura, tempat keluarga tuan rumah melakukan puja. Bentuk-bentuk dibuat dengan sangat artistik, patung-patung buto penjaga yang berwajah menyeramkan, atap-atap yang simetris yang dirancang dengan penuh selera keindahan.

Di bagian belakang rumah, terdapat pura yang lebih besar dan lebih indah. Sebuah bale tempat semedi berdiri teduh, dalam suasana hening yang damai. Sebuah sungai kecil membelah kebun, mengalir tenang di sebelah pura, manawarkan bunyi gemericik air yang sayup. Rumpun bambu yang lebat menawarkan keteduhan yang mistis.

Rata-rata penduduk desa ini memelihara anjing. Nyaris setiap rumah memiliki anjing, lebih dari seekor. Saat saya mencoba mengambil gambar pura di rumah tetangga di depan rumah yang kami kunjungi, tiga ekor anjing berkejaran. Seelor berlari kencang melewati kaki saya, yang karuan saja terloncat karena kaget. Anjing-anjing tuan rumah mendenking kecil sambil mengibaskan ekornya dengan kencang di sekeliling kami, mencoba untuk berteman. Anjing besar yang nampaknya sangat galak tetap terikat kencang di tempatnya, di bagian belakang rumah utama, tetang dan diam, mengawasi dengan matanya yang separuh terpejam. Dengan kondisi terikat rantai yang kuat, kami merasa aman.

Selesai sarapan dan mandi, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tuan rumah akan membawa kami berkeliling pulau Bali, mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan eksotis.



























No comments:

Post a Comment