Thursday, September 06, 2012

Teh dingin ...

Warung-warung kopi di Aceh - terutama di pelosok-pelosok - dulunya hanya menyediakan beberapa jenis menu saja. Kopi, sudah pasti. Teh juga ada dalam berbagai varian. Kue-kue, sebagai pendamping minum. Kadang di depan warung juga ada rak-rak makanan yang menyediakan mi atau martabak telor, yang biasanya dikelola oleh pedagang yang berbeda. Secara rutin, warung akan buka dari usai subuh sampai larut malam. Kadang - setelah televisi ada - warung buka sampai dua puluh empat jam setiap hari, diawaki secara bergantian.

Warung adalah tempat masyarakat berkumpul, selain beueleuko atau pos jaga. Masyarakat Aceh yang komunal - dalam hal ini laki-laki - pada umumnya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah - berkumpul, selain bekerja - daripada di rumah. Di kampung kami misalnya, sebelum salat subuh antri dulu di WC umum yang terletak di depan pos jaga di sebelah meunasah. Rumah-rumah pada umumnya jarang sekali memliki WC sendiri. Usai dari WC, dilanjutkan dengan salat subuh di meunasah. Kemudian mampir di pos jaga ataupun di warung kopi terdekat untuk ngopi pagi. Baru kemudian pulang ke rumah untuk bersiap-siap bekerja. Sekitar jam sembilan atupun jam sepuluh, singgah lagi di warung kopi. Siang, setelah makan siang, kembali duduk di warung kopi. Sore hari sepulang dari kerja, kembali mampir di warung kopi. Malam hari, seusai makan malam, keluar lagi dan berkumpul di pos jaga atau warung kopi. Seingat saya, walaupun rumah-rumah memiliki televisi sendiri, orang-orang lebih suka menonton televisi di warung kopi.

Di warung, sudah pasti tersedia kopi hitam. Pekat, karena direbus terus menerus dengan air mendidih di atas kompor yang menderu-deru dalam gayung aluminium besar. Saat ada pesanan, gayung diangkat dan kopi di dalamnya yang ditampung dalam saringan kain besar, juga diangkat dan kopinya disaring bolak-balik beberapa kali ke dalam gayung yang lebih kecil. Kemudian baru kopi dimasukkan ke dalam gelas yang sudah berisi gula. Kopinya panas, hitam pekat dan berbuih, meninggalkan noda di piring dan di gelas. Kopi ini akan dinikmati berjam-jam oleh orang-orang yang waktu itu tidak punya kegiatan apapun selain menghabiskan waktu dengan ngobrol ngalor-ngidul.

Dulu sempat populer kopi pancung. Porsinya adalah sekitar tiga perempat dari porsi normal, tetapi berharga separuh. Ini adalah minuman favorit para anak sekolah dan mahasiswa perantau berkantung cekak.  Cara memesannya unit: pemesan mengangkat tangannya dengan jari telunjuk teracung dan ibu jari pada posisi ruas pertama jari telunjuk. Penjaga warung kopi akan memahami isyarat tersebut dan segera mengantar pesanan, kopi berisi tiga perempat gelas yang mengepulkan uap panas, dengan sedikit busa di permukaan kopi.

Teh direbus dalam gayung alumninium yang berukuran lebih kecil, diatas kompor minyak tanah biasa, biasanya terletak di sebelah gayung kopi. Tidak banyak peminat teh, menilik ukuran gayungnya yang terlalu kecil. Jika memesan teh manis, yang datang adalah teh manis panas dalam gelas kecil - sama seperti gelas kopi. sama seperti menikmati kopi, menikmati terh juga makan waktu lama, sambil membaca koran, menonton televisi ataupun sekedar ngobrol saja. Sepiring jajan pasar - biasanya kue-kue basah - akan selalu tersedia di meja di sebelah minuman.

Selain teh manis, juga tersedia teh setengah panas. Ini adalah teh manis hangat yang disediakan dalam gelas yang lebih besar. Hangatnya pas untuk langsung diminum. Juga ada teh dingin. Ini bukan teh panas yang sudah dingin, tetapi teh manis yang diberi potongan-potongan es batu. Di Medan dikenal dengan teh manis dingin, karena di sana ada juga teh tawar dingin, alias teh tawar yang diberi potongan es batu. Di daerah Riau, Sumbar, Jambi dan Sumsel dikenal dengan sebutan teh es. Di tempat lain (mungkin) disebut dengan es teh.

Jika ke Aceh, ingat satu hal: minumlah teh selagi panas. Karena jika tehnya menjadi dingin dan disebut dengan teh dingin, harganya menjadi lebih mahal.

Teh tong alias teh tawar di Medan

No comments:

Post a Comment