Wednesday, June 24, 2026

Jumat di Ulee Gle: Saat Kaum Jelata Bertemu Lauk Sultan

Jumat kemarin, di tengah perjalanan panjang dari Banda Aceh menuju Riau, saya singgah di SPBU Ulee Gle. Singgah yang awalnya cuma diniatkan sebagai jeda. Jeda dari setir, dari jalan, dari kantuk yang mulai menagih haknya, dan dari pikiran yang sejak pagi berisik sendiri seperti knalpot bocor. Mata sudah mulai berat. Kelopak seperti sedang rapat internal, membahas kemungkinan mogok kerja. Kepala mulai mengangguk-angguk kecil, semacam salam hormat kepada bahaya. Maka saya menepi. Menyelamatkan diri. Sebab orang bijak tahu, rasa kantuk di jalan bukan isyarat untuk sok perkasa, melainkan panggilan suci untuk berhenti sejenak, ngopi, dan menata ulang hidup—atau setidaknya menata ulang denyut jantung.

Di warung kecil di area SPBU itu, saya memesan kopi hitam. Gulanya sedikit saja. Bukan karena saya sedang menjaga pola hidup sehat. Bukan pula karena saya sedang menempuh jalan spiritual menuju hidup tanpa manis-manis berlebihan. Tidak. Alasannya sederhana: saya memang maunya begitu. Kopi pahit sedikit manis. Biar ada rasa dewasa, tapi tidak sampai terasa seperti minum kekecewaan mantan.

Saya ini bukan penikmat kopi. 

Bukan penggemar kopi. 

Saya tidak paham perbedaan body, acidity, fruity notes, floral notes, earthy notes, dan segala notes lain yang membuat secangkir kopi terdengar seperti hasil rapat besar para penyair dan ahli botani. 

Bagi saya, kopi ya kopi. 

Hitam. 

Panas. 

Bisa diminum. 

Kalau habis lalu mata agak melek, berarti fungsinya berjalan. 

Maka ketika kopi itu datang, saya seruput perlahan, sambil mencoba menghormati profesi para peminum kopi sejati. 

Saya rasakan. 

Saya timbang-timbang. 

Saya ajak lidah bermusyawarah.

Kesimpulannya: biasa saja.

Bahkan sangat biasa.

Kopi itu tidak buruk. Tidak juga istimewa. Ia bukan kopi yang akan membuat saya terharu lalu ingin menelepon ibu di kampung. Bukan kopi yang akan membuat saya menulis puisi tentang hujan, tanah basah, dan luka batin yang belum lunas. Bukan. Ia kopi yang sederhana. Jujur. Tidak sok eksklusif. Tidak berusaha tampil sebagai minuman kaum intelektual yang diminum sambil menatap senja dan berpikir tentang masa depan bangsa. Ia cuma kopi. Hadir, diminum, habis, selesai. Dan barangkali justru di situlah letak kemuliaannya. Tidak semua yang kita jumpai dalam hidup harus spektakuler. Ada yang memang diciptakan untuk sekadar menemani kantuk lewat.

Saya duduk sambil menyeruput kopi, mengamati warung, meja, piring-piring, lalu lintas orang, dan suara-suara kecil yang sering kali lebih jujur daripada pidato panjang para pejabat. Di luar warung, ada seorang kaum dhuafa duduk di kursi roda. Wajahnya tenang, tubuhnya ringkih, dan ia duduk di sana seperti bagian dari pemandangan siang itu—sunyi, biasa, nyaris tak dianggap. Lalu saya mendengar ibu-ibu penjual makan siang menawarkan lauk kepadanya.

“Lauk ikan sembilang mau?” katanya.

Saya berhenti sejenak.

Ikan sembilang?

Di telinga orang-orang tertentu, mungkin itu hanya nama lauk. Biasa saja. Sama seperti menyebut ikan tongkol, ikan lele, atau ikan asin. Tapi bagi kami, kaum ekonomi bawah yang kadang harus menimbang lauk dengan kalkulator batin, sembilang bukan sekadar ikan. Ia adalah legenda. Ia aristokrat dunia perairan. Ia lauk bangsawan yang kadang nyasar ke meja rakyat jelata karena belas kasihan nasib.

Ikan sembilang itu mahal.

Langka.

Tidak setiap hari ada di pasar.

Kalau pun ada, belum tentu kita tega membelinya. Kadang kita cuma berdiri di depan lapak, menatapnya dengan hormat, lalu beralih membeli tempe sambil menenangkan hati: yang penting sama-sama protein. Padahal jauh di dalam dada, ada bagian kecil dari jiwa yang berbisik, “Andai gajian masih panjang dan harga cabai tidak sekejam ini…”

Sembilang itu juga bukan ikan yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia harus masih hidup ketika hendak dimasak. Sebab kalau sudah terlalu lama mati, rasanya bisa hambar. Dan bagi lauk semahal itu, hambar adalah penghinaan. Membeli sembilang mati lalu rasanya datar itu ibarat membeli jas pengantin mahal, tapi yang datang cuma sarung bantal. Menyakitkan. Maka sembilang menuntut kesegaran, perhatian, dan perlakuan yang hampir romantis.

Sejak mendengar kalimat “lauk ikan sembilang mau?”, fokus saya kepada kopi mendadak goyah. Kantuk pun minggir pelan-pelan, mungkin tersinggung karena posisinya direbut seekor ikan. Dalam kepala saya mulai berlangsung rapat darurat. Ada suara hati yang berkata, sudah, ngopi saja, lanjut jalan. Ada suara lain yang lebih jujur dan lebih rakus berbisik, kapan lagi ketemu sembilang?.

Kopi saya habiskan. Gelas kosong saya letakkan. Lalu saya berjalan mendekati rak nasi dengan perasaan campur aduk seperti anak sekolah yang mau beli mainan mahal tapi uang jajannya terbatas. Di sana tersusun lauk-pauk, sayur, dan kuah-kuah yang menggoda iman. Saya bilang ingin makan dengan lauk ikan sembilang. Tersedia asam keueung.

Asam keueung sembilang.

Nah, ini bukan kalimat biasa. Ini adalah undangan resmi dari takdir.

“Ambil saja sendiri,” kata ibu pemilik rak nasi.

Sebuah kalimat sederhana yang bagi orang lapar terdengar seperti mandat kenegaraan. Saya pun mengambil piring, menakar nasi, lalu berdiri di hadapan rak lauk seperti penjelajah yang baru menemukan peradaban baru.

Saya ambil nasi secukupnya. Tidak terlalu banyak. Saya masih berusaha menjaga citra sebagai manusia waras yang datang untuk makan siang, bukan membalas dendam kepada masa kecil. Lalu mata saya tertumbuk pada pecal. Pecal Aceh. Sayurannya menggoda. Bumbunya mengundang. Saya ambil. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat piring mulai tampak seperti peta konflik rasa yang menjanjikan.

Di sebelahnya ada kuah pliek. Saya ambil juga. Ini bukan soal lapar semata. Ini soal prinsip. Kalau sudah singgah di warung Aceh dan tersedia kuah pliek, menolaknya tanpa alasan kuat terasa seperti melewatkan salam dari tradisi. Kuah pliek itu bukan sekadar kuah. Ia semacam museum rasa yang cair, tempat kelapa, rempah, dan sejarah rumah tangga Aceh berkumpul dalam satu sendok. Aromanya punya kewibawaan. Warnanya punya cerita.

Lalu ada asam udeung.

Saya memandangnya beberapa detik, lalu memutuskan tidak mengambil.

Bukan karena tidak suka. Bukan karena sedang bermusuhan dengan udang. Sama sekali tidak. Saya hanya takut kombinasi rasa di piring saya nanti terlalu ramai. Ikan sembilang asam keueung, pecal, kuah pliek—itu sudah seperti tiga tokoh utama dalam satu panggung. Kalau ditambah asam udeung, saya khawatir meja makan berubah menjadi konser besar yang terlalu bising. Lidah saya ini rakyat biasa. 

Ia punya keterbatasan. 

Ia butuh kestabilan politik.

“Mau badan atau kepala ikan?” tanya ibu itu.

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi bagi saya, itu seperti pertanyaan hidup yang menuntut kebijaksanaan, keberanian, dan perhitungan ekonomi.

Kepala atau badan?

Bagi ikan jenis ini, kepala bukan bagian sisa. 

Kepala adalah mahkota. 

Kepala adalah tahta. 

Kepala adalah milik para sultan. 

Di situlah kenikmatan bersemayam, tapi di situlah juga harga menunjukkan taringnya. 

Kepala sembilang bukan lauk, melainkan investasi jangka pendek yang bisa menggoyang anggaran perjalanan.

Dalam sepersekian detik, saya berdialog dengan isi dompet, dengan nalar, dengan harga diri, dan dengan bayangan kebutuhan bensin di perjalanan berikutnya.

Lalu saya menjawab dengan rendah hati, penuh kesadaran kelas, dan sedikit getir yang saya bungkus dengan senyum:

“Badan saja, Bu.”

Begitulah. 

Di hadapan kepala ikan sembilang, saya kembali sadar diri sebagai rakyat jelata yang tahu batas antara hasrat dan kemampuan. Sultan itu indah, tapi premium. Sementara saya masih harus melanjutkan perjalanan. Masih harus menjaga agar dompet tidak tiba-tiba masuk ICU.

Ikan itu lalu ditaruh di piring kecil terpisah. Kuah asam keueung merahnya menyala seperti senja yang sedang marah. Potongan sembilangnya berbaring tenang di tengah kuah, seolah tahu dirinya bukan ikan sembarangan. Piring hijau kecil itu mendadak tampak megah. Tidak mewah dalam pengertian restoran berbintang, bukan. Mewah dalam cara yang lebih tua dan lebih jujur: lauk bagus, dimasak benar, disajikan tanpa drama, lalu dimakan oleh orang lapar yang tahu betul nilai setiap suapan.

Saya kembali ke meja.

Di depan saya kini terhidang satu set makan siang yang kalau difoto mungkin tampak sederhana, tapi bagi perut dan batin saya siang itu, ia setara jamuan kenegaraan. 

Ada nasi putih. 

Ada pecal Aceh. 

Ada kuah pliek. 

Ada sembilang asam keueung. 

Di satu sisi, kopi hitam tadi sudah tinggal kenangan. 

Di sisi lain, pisang raja goreng ukuran jumbo menunggu entah sebagai pembuka, penutup, atau bonus takdir.

Saya mulai dari kuah asam keueung sembilang.

Suapan pertama itu seperti tamparan lembut dari kampung halaman. 

Asamnya pas. 

Pedasnya tidak sok jagoan, tapi cukup untuk membuat lidah melek dan kening sedikit berkeringat. Kuahnya kaya, otentik, dan tidak bertele-tele. 

Tidak ada upaya untuk tampil modern. 

Tidak ada plating aneh-aneh. 

Tidak ada daun mint nyasar di atas ikan untuk pura-pura estetik. 

Ini masakan yang tahu identitasnya. Ia lahir untuk dimakan, bukan untuk difoto dua puluh kali lalu dibiarkan dingin.

Daging sembilangnya lembut, gurih, dan punya rasa yang tidak bisa dipalsukan. Ada semacam kedalaman rasa yang hanya dimiliki bahan bagus dan tangan masak yang paham apa yang sedang dikerjakan. Saya makan perlahan. Bukan karena ingin tampak beradab, tapi karena sungguh sayang kalau lauk begini ditelan terburu-buru seperti dikejar debt collector.

Lalu saya pindah ke pecal.

Pecal Aceh ini seperti tetangga ramah yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Sayurannya segar, bumbunya bersahaja, dan kehadirannya menenangkan kegaduhan asam keueung. Di sela rasa tajam kuah sembilang, pecal datang sebagai penyeimbang. Ia seperti teman yang menepuk bahu kita sambil berkata, “Sudah, jangan terlalu emosional. Makan saja dulu.”

Kuah pliek pun tak mau kalah. Ia masuk ke piring saya seperti tokoh senior yang tidak banyak bicara tapi sekali hadir langsung menguasai ruangan. Ada rasa khas yang dalam, sedikit liar, sedikit rumit, tapi sangat Aceh. Ia bukan jenis kuah yang gampang dipahami sekali cicip. Ia harus dihormati. Dikenali pelan-pelan. Dan ketika cocok, ia akan tinggal di ingatan lebih lama daripada beberapa nama pejabat daerah.

Saya makan sambil sesekali memandang piring kecil sembilang itu. Aneh juga, pikir saya. Tadi saya singgah cuma karena ngantuk dan ingin kopi. Saya bahkan bukan peminum kopi. Kopinya pun biasa saja. Sangat biasa. Tapi justru di warung kecil yang kopinya biasa itulah saya menemukan makan siang yang luar biasa. 

Kadang hidup memang suka bercanda. 

Kita datang mencari satu hal, pulangnya membawa cerita lain. 

Kita menepi hanya untuk istirahat, eh malah bertemu lauk yang biasanya cuma lewat di angan-angan.

Dan yang paling menggetarkan justru momen ketika ibu penjual tadi menawarkan lauk sembilang kepada seorang kaum dhuafa di kursi roda.

Saya tidak tahu apakah bapak itu jadi makan sembilang atau tidak. Tapi adegan kecil itu menempel di kepala saya lebih kuat daripada rasa kopi. Ada sesuatu yang halus, yang tak ribut, yang membuat siang itu terasa hangat. Di tengah tempat singgah sederhana, di tepi jalan, di warung SPBU yang mungkin bagi banyak orang cuma tempat lewat, ada kemurahan hati yang bekerja tanpa perlu spanduk dan pidato. Tidak semua kebaikan datang dengan suara besar. Ada yang datang pelan, dengan celemek dapur, dengan tangan yang sibuk melayani, dengan kalimat singkat: “Lauk ikan sembilang mau?”

Dan kalimat itu, entah kenapa, terasa lebih mewah daripada nama-nama menu mahal di restoran kota.

Karena hidup memang begitu. Kadang kemewahan bukan soal ruangan ber-AC, kursi empuk, musik jazz, dan tagihan yang bikin kita menelan ludah. 

Kadang kemewahan adalah saat lauk mahal hadir di meja orang yang membutuhkannya. 

Kadang kemewahan adalah kesempatan makan enak di tengah perjalanan panjang, saat tubuh lelah, mata berat, dan hati sedang tidak meminta banyak. 

Kadang kemewahan adalah warung sederhana yang tidak berisik mempromosikan diri, tapi diam-diam menyajikan rasa otentik dengan harga yang nyaris terasa salah ketik.

Nah, soal harga ini saya memang harus memberi hormat.

Setelah semua itu: makan nasi, pecal, kuah pliek, asam keueung sembilang, kopi hitam sedikit gula, plus pisang raja goreng ukuran jumbo…

Totalnya 27 ribu rupiah.

Dua puluh tujuh ribu.

Saya ulangi sekali lagi supaya hati kita sama-sama sempat merenung:

dua puluh tujuh ribu rupiah.

Di zaman ketika segelas kopi di tempat tertentu bisa dihargai seolah biji kopinya ditanam sambil dibacakan puisi oleh malaikat, angka 27 ribu untuk paket seindah ini terasa seperti kabar gembira nasional. Di beberapa tempat, uang segitu mungkin baru cukup untuk kopi dan gengsi. Di sini, ia menjelma makan siang lengkap, kopi, pisang goreng jumbo, dan bonus rasa syukur yang tidak masuk struk.

Saya bahkan sempat curiga. Jangan-jangan ibu warung salah hitung. Jangan-jangan saya sedang diuji integritas. Tapi tidak. Memang segitu. Saya membayar dengan rasa takjub yang sulit disembunyikan. Rasanya seperti menemukan celah kecil di dunia yang semakin mahal, lalu dari celah itu keluar aroma kuah asam keueung dan harapan.

Perjalanan jauh memang sering melelahkan. Jalan panjang mengajarkan banyak hal: tentang sabar, tentang bensin, tentang punggung yang protes, tentang warung-warung singgah yang kadang lebih jujur daripada tempat-tempat besar. Dan Jumat kemarin, di Ulee Gle, saya belajar lagi satu hal sederhana: jangan remehkan tempat singgah.

Sebab bisa jadi, di warung kecil dekat SPBU, saat Anda hanya berniat menumpas kantuk dengan kopi biasa, takdir malah menyiapkan perjamuan kecil yang membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.

Bisa jadi, di tempat yang tampak sederhana itu, Anda menemukan rasa yang otentik, harga yang bersahabat, dan adegan kecil tentang kebaikan yang diam-diam menampar hati.

Bisa jadi, Anda datang sebagai pengendara lelah, lalu pulang sebagai manusia yang sedikit lebih kenyang, sedikit lebih bahagia, dan sedikit lebih percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan akal sehat.

Dan saya, siang itu, meninggalkan warung tersebut dengan perut senang, mata kembali melek, dan hati yang diam-diam masih memikirkan satu hal penting:

Seandainya saya tadi pilih kepala ikan, mungkin tulisan ini akan lebih dramatis lagi.

Tapi tak apa.

Kaum jelata juga punya martabat.

Badan sembilang pun sudah cukup untuk membuat Jumat terasa seperti hari raya kecil.


#JumatDiUleeGle 

#AsamKeueung 

#IkanSembilang 

#KulinerAceh 

#WarungSPBU 

#CeritaPerjalanan 

#PecalAceh 

#KuahPliek 

#BandaAcehRiau 

#KulinerJalanan #CatatanPerjalanan #MakanSiangSultan #KaumJelataNaikKelas 

#KopiHitam 

#PisangRajaGoreng 



Saturday, August 08, 2015

DIY ganti popa wiper fluid Aganza G

Sangat menyebaikan!

Ketika kaca depan kenderaan kami kotor dalam perjalanan mudik kemarin, saat tuas pengaktif motor pompa semprotan wiper ditekan, tidak ada yang terjadi. Tidak ada cairan pembersih wiper yang meluncur ke kaca depan.
Coba yang belakang, sama juga. Kedua pompa penyemprot wiper untuk kaca depan dan kaca belakang sudah tewas.
Tidak ada pilihan lain, selain menghentikan kenderaan dan membersihkan kaca secara manual. Begitu yang terjadi sepanjang perjalanan.

Sesampai di Medan, saya mencoba mencari toko spare part mobil yang mungkin buka. Ternyata memang ada yang buka, dan harga pompa wiper tersebut hanya 80000 rupiah saja perbuahnya. Mereknya tidak usah disebutkan, yang penting bisa berfungsi. Pompa depan dan pompa belakang sama saja, hanya berbeda pada soket kabelnya saja. Toka yang buka tersebut tidak ada stock untuk pompa belakang, tetapi tidak ada masalah, hanya membuang tonjolan soket kabel saya yang ada pada pompa depan.



Cara kerjanyapun ternyata mudah saja. Hanya perlu kunci sepuluh saja.

Posisi pompa wiper adalah di bagian bawah tangki reservoar, yang terletak di ruan mesin di sisi penumpang.

Cabut kabel pompa dari soketnya.
Bongkar paut pemegang wiper fluid reservoar dengan menggunakan kunci sepuluh.



Lepaskan selang transparan untuk  wiper dari pompa. Awas cairan jangan sampai tumpah.



Tarik pompa keluar, meninggalkan seal karet di tangki reservoar. Lepaskan seal karet dari tangki.


 

 Pasang seal karet pompa baru. Perhatikan arahnya jangan sampai terbalik. Pasang kembali pompanya dengan cara menekan samapi posisinya pas. Pasang kembali sealng dan kabel.




Pasang kembali tangki reservoar ke posisinya semula.

Penyemprot wiper sudah bisa difungsikan kembali.

Thursday, March 06, 2014

Palasik di Sumbar

Ainia baru berumur satu bulan ketika kami membawanya ke berbagai tempat di Sumatra Barat. Di Pasar Atas Bukittinggi, menengok Ainia lelap dalam gendongan, ibu-ibu pedagang kain mengajukan pertanyaan, "Sudah berapa umurnya?" Beberapa orang pembeli juga menanyakan hal yang sama. Ada rasa kasihan terpancar di wajah mereka, menimbulkan tanda tanya. Kami tidak menggubrisnya, toh Ainia juga tidak apa-apa.

Kali kedua kami membawa Ainia ke Sumatra Barat, usianya sudah tiga bulan. Di Batusangkar, begitu kami sampai ke rumah tempat kami berkunjung, Ainia menangis keras. Keras sekali sampai terpekik-pekik. Kami panik dan khawatir, mungkin Ainia masuk angin atau sakit perut karena perjalanan jauh, yang umum untuk bayi seusia dia. Tetapi, tuan rumah kami, seorang lelaki berusia lima puluhan, punya pendapat lain. Dia segera ke kebun samping rumahnya, menembus hujan gerimis, dan kembali dengan segenggam daun. Berwarna hijau pekat, sedikit basah oleh air hujan, nampak seperti daun kare yang harum, tetapi bukan. Dia meremas daun tersebut dalam semangkok air, kemudian mengusap sedikit air remasan daun tersebut ke wajah Ainia. Dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Minang, artinya tidak jelas bagi saya karena dia mengucapkannya terlalu cepat. Yang terdengar, "Inyiak, iko cucu, baru tibo. Pailah, tinggalkan inyo surang". Ajaib. Sontak tangisan Ainia terhenti.

"Jika air remasan daun ini berbau harum, berarti ada yang ganggu. Ini tidak berbau harum. Mungkin Ainia hanya menampak saja", jelas tuan rumah kami.

Saat pulang dari Maninjau, di daerah Lubuk Basung, saat magrib Ainia menangis lagi. Kali ini lebih lama. Upaya tuan rumah kami untuk menenangkan Ainia makan waktu lebih lama. Ketika tangisan Ainia berhenti saat kami singgah salat, tuan rumah kami mengatakan bahwa Ainia mungkin sakit perut. Nanti sesampai di Batusangkar biar dibawa ke tempat di Man, yang terkenal ahli dalam menangani bayi yang rewel.

Tempat Man ternyata dalah sebuah warung kebutuhan sehari-hari, yang juga merangkap sebagai warung kopi. Lokasinya masih di Kotopanjang, hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah tempat kami menginap di Batusangkar. Man berusia sedikit lebih muda dari tuan rumah kami, mungkin akhir empat puluhan.

"Iko kanai palasik", simpul Man. Obatnya sederhana saja, air perasan jeruk nipis dan abu tungku dapur, diaduk dan dioleskan ke perut. Terlihat Man membaca sesuatu - tidak jelas terdengar, karena Man mengucapkannya nyaris berbisik dan dalam bahasa setempat.

"Besok kemari lagi biar dibikin penangkalnya", kata Man. Karena kami akan balik ke kota kami besok, tuan rumah kami memohon supaya penangkal yang ada pesanan orang lain didahulukan untuk kami. "Boleh", kata Man. Tetapi kami tetap harus mengambilnya besok pagi.

Palasik adalah sejenis makhluk jadi-jadian dalam kepercayaan masyarakat Minang. Asalnya adalah dari para penganut ilmu hitam, dan diwariskan secara turun temurun. Yang mewarisi hanya keturunan perempuan - karena itu belum ada terdengar adanya palasik yang laki-laki.

Palasik biasanya mengisap darah bayi melalui ubun-ubunya. Cerita Wak, seorang Melayu Asli yang berasal dari Bagan, palasik harus diberi makan secara teratur. Jika, tidak, orang-orang di sekelilingnya - kadang keluarga dekatnya - yang akan menjadi korban. Palasik bisa mengisap dayah bayi yang ubun-ubunnya masih lunak hanya dengan memandangnya saja. Karena itu, hati-hati saat membawa bayi jika berpapasan dengan seorang wanita - biasanya yang sudah tua -, wanita tersebut menengok si bayi dalam-dalam, bisa jadi dia sedang memangsa si bayi. Si bayi akan terkejut, menangis hebat sampai kejang-kejang dan payah berhenti sampai kecapekan sendiri. Tanda-tanda lain bayi yang terkena palasik adalah matanya mengeluarkan kotoran, demam tinggi, dan diare.

Obatnya? "Jika sibayi menangis saat berpapasan dengan seorang wanita tua dan dicurigai wanita tersebut adalah palasik, kasihkan saja bayinya ke orang tersebut. Usahakan sampai dia memegangnya", kata seorang kawan dari Sumbar. Dengan menyerahkan bayi kepada si palasik, pengaruh palasik atas bayi tersebut akan hilang dengan sendirinya.

Selain itu, rukiyah juga sangat membantu. Dalam http://quranic-healing.blogspot.com/2013/12/meruqyah-anak-yang-kena-sihir-palasik.html, seorang blogger menulis tentang rukiyah  seorang bayi berusia 5 bulan yang terkena palasik. "Alhamdulillah tadi pagi jam 9-10 meruqyah bayi perempuan berumur 5 bulan dengan gejala selalu nangis sampai kejang2 dan terkadang menurut pengakuan bundanya sampai jam 2 malam baru berhenti nangis dan tertidur.biasanya anak ini mulai nangis habis ashar.ketika sang bunda memberikan ASI dia sering terkejut.kejadian ini berlangsung hampir 2 bulan.membuat sang bunda pun bingung dan menangis.kalau orang kampung bilang gejala ini mirip dengan sihir PALASIK ( MINANG). ketika di ruqyah tidak ada reaksi apa2 cuma anak itu kelihatan lebih tenang. setelah diruqyah anak ini tertidur pulas,dan sampai detik ini sang bunda gak ada mengeluhkan tentang anaknya.mudah2an sudah tidak terjadi apa2.amiin.salam tauhid !"

Tetapi, Dr.H.Jondri akmal, MARS, melalui blognya http://blogdjondris.blogspot.com mempunyai pendapat yang berbeda. Katanya, bayi dengan ciri-ciri seperti kena palasik itu sama dengan bayi yang mengalami gizi buruk. Lebih jelas, Dr.H.Jondri akmal, MARS menuturkan sebagai berikut:

Lebih lengkapnya di  http://blogdjondris.blogspot.com/2013/09/palasik-dan-gizi-buruk.html.

Bagaimana dengan Ainia? Dia memang tidak menangis lagi seperti kejadian yang lalu yang menyebabkan semua orang panik. Kami juga tidak ingin memasang jimat apapun, karena jimat adalah benda yang tidak punya kuasa apapun untuk melindungi apapun dan siapapun. Untuk tidak melukai hati tuan rumah dan Man, esoknya kami mengambil tangkal. Berbentuk seperti dompet kecil yang berisi beberapa bahan (kata Man berisi beberapa jenis bumbu dapur yang konon ditakuti oleh palasik) terbuat dari kain hitam dengan benang warna-warni untuk dijadikan kalung. Man berbesan supaya dipakai setiap waktu. Insya Allah palasik tidak akan berani mendekat. Juga jika Ainia sakit perut, supaya perutnya diolesi dengan campuran abu dapur dan air perasan jeruk nipis.

Apakah Ainia memang terkena palasik? Wallahu 'alam. Sampai saat ini Ainia tumbuh sehat seperti bayi normal lainnya, Insya Allah.

Makhluk gaib memang aada, palasik bisa jadi ada, tetapi kami sudah bertekad tidak akan memasang jimat apapun pada Ainia. Penangkal jimat yang diberi Man mungkin ditakuti oleh palasik, tetapi kami tidak mau berlindung pada benda yang jelas tidak punya daya apapun. Penangkal palasik itu masih saya simpan, sebagai kenang-kenangan etnis dari Sumbar. Sesekali, kami membaca atau memutar kaset ayat-ayat rukiyah untuk berjaga-jaga. Kami lebih yakin atas perlindungan Yang Maha Kuasa dibanding dengan jimat penangkal.




Monday, February 10, 2014

Purnama Merah

Ketika bulan ikut menjadi merah tertutup kabut asap tebal ...


Wednesday, February 05, 2014

Asap

Sepanjang hari matahari sembunyi di balik kabut asap tebal. Hari sepenti mendung, tetapi ini bukan awan mendung yang menggantung di langit. Ini adalah asap, hasil dari berbagai titik api yang dilakukan dengan sengaja oleh pemilik lahan untuk membersihkan area tanahnya dengan cepat.


Tuesday, February 04, 2014

Kering ...

Belum sebulan hujan tidak turun, kekeringan sudah melanda. Langit kelabu gelap oleh asap, biang keladinya dituduhkan  kepada para pembakar lahan. Titik api disinyalir mulai bermunculan di berbagai tempat, memberikan kontribusi asap ke udara, yang semakin lama semakin menebal. Matahari muncul kemerehan, bulat dan nyaris bisa ditatap langsung dengan mata telanjang.

Udara panas, pekat seolah bisa dilipat dan dikantongi. Dalam ruangan serasa dalam oven membara.

Debu jalan berterbangan oleh angin, memenuhi saluran napas. Berbagai penyakit pernafasan mulai melanda, dari balita hingga orang tua.

Ironis. Di berbagai daerah lain banjir melanda, sementara di sini hujan entah kemana perginya.