Jumat kemarin, di tengah perjalanan panjang dari Banda Aceh menuju Riau, saya singgah di SPBU Ulee Gle. Singgah yang awalnya cuma diniatkan sebagai jeda. Jeda dari setir, dari jalan, dari kantuk yang mulai menagih haknya, dan dari pikiran yang sejak pagi berisik sendiri seperti knalpot bocor. Mata sudah mulai berat. Kelopak seperti sedang rapat internal, membahas kemungkinan mogok kerja. Kepala mulai mengangguk-angguk kecil, semacam salam hormat kepada bahaya. Maka saya menepi. Menyelamatkan diri. Sebab orang bijak tahu, rasa kantuk di jalan bukan isyarat untuk sok perkasa, melainkan panggilan suci untuk berhenti sejenak, ngopi, dan menata ulang hidup—atau setidaknya menata ulang denyut jantung.
Di warung kecil di area SPBU itu, saya memesan kopi hitam. Gulanya sedikit saja. Bukan karena saya sedang menjaga pola hidup sehat. Bukan pula karena saya sedang menempuh jalan spiritual menuju hidup tanpa manis-manis berlebihan. Tidak. Alasannya sederhana: saya memang maunya begitu. Kopi pahit sedikit manis. Biar ada rasa dewasa, tapi tidak sampai terasa seperti minum kekecewaan mantan.
Saya ini bukan penikmat kopi.
Bukan penggemar kopi.
Saya tidak paham perbedaan body, acidity, fruity notes, floral notes, earthy notes, dan segala notes lain yang membuat secangkir kopi terdengar seperti hasil rapat besar para penyair dan ahli botani.
Bagi saya, kopi ya kopi.
Hitam.
Panas.
Bisa diminum.
Kalau habis lalu mata agak melek, berarti fungsinya berjalan.
Maka ketika kopi itu datang, saya seruput perlahan, sambil mencoba menghormati profesi para peminum kopi sejati.
Saya rasakan.
Saya timbang-timbang.
Saya ajak lidah bermusyawarah.
Kesimpulannya: biasa saja.
Bahkan sangat biasa.
Kopi itu tidak buruk. Tidak juga istimewa. Ia bukan kopi yang akan membuat saya terharu lalu ingin menelepon ibu di kampung. Bukan kopi yang akan membuat saya menulis puisi tentang hujan, tanah basah, dan luka batin yang belum lunas. Bukan. Ia kopi yang sederhana. Jujur. Tidak sok eksklusif. Tidak berusaha tampil sebagai minuman kaum intelektual yang diminum sambil menatap senja dan berpikir tentang masa depan bangsa. Ia cuma kopi. Hadir, diminum, habis, selesai. Dan barangkali justru di situlah letak kemuliaannya. Tidak semua yang kita jumpai dalam hidup harus spektakuler. Ada yang memang diciptakan untuk sekadar menemani kantuk lewat.
Saya duduk sambil menyeruput kopi, mengamati warung, meja, piring-piring, lalu lintas orang, dan suara-suara kecil yang sering kali lebih jujur daripada pidato panjang para pejabat. Di luar warung, ada seorang kaum dhuafa duduk di kursi roda. Wajahnya tenang, tubuhnya ringkih, dan ia duduk di sana seperti bagian dari pemandangan siang itu—sunyi, biasa, nyaris tak dianggap. Lalu saya mendengar ibu-ibu penjual makan siang menawarkan lauk kepadanya.
“Lauk ikan sembilang mau?” katanya.
Saya berhenti sejenak.
Ikan sembilang?
Di telinga orang-orang tertentu, mungkin itu hanya nama lauk. Biasa saja. Sama seperti menyebut ikan tongkol, ikan lele, atau ikan asin. Tapi bagi kami, kaum ekonomi bawah yang kadang harus menimbang lauk dengan kalkulator batin, sembilang bukan sekadar ikan. Ia adalah legenda. Ia aristokrat dunia perairan. Ia lauk bangsawan yang kadang nyasar ke meja rakyat jelata karena belas kasihan nasib.
Ikan sembilang itu mahal.
Langka.
Tidak setiap hari ada di pasar.
Kalau pun ada, belum tentu kita tega membelinya. Kadang kita cuma berdiri di depan lapak, menatapnya dengan hormat, lalu beralih membeli tempe sambil menenangkan hati: yang penting sama-sama protein. Padahal jauh di dalam dada, ada bagian kecil dari jiwa yang berbisik, “Andai gajian masih panjang dan harga cabai tidak sekejam ini…”
Sembilang itu juga bukan ikan yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia harus masih hidup ketika hendak dimasak. Sebab kalau sudah terlalu lama mati, rasanya bisa hambar. Dan bagi lauk semahal itu, hambar adalah penghinaan. Membeli sembilang mati lalu rasanya datar itu ibarat membeli jas pengantin mahal, tapi yang datang cuma sarung bantal. Menyakitkan. Maka sembilang menuntut kesegaran, perhatian, dan perlakuan yang hampir romantis.
Sejak mendengar kalimat “lauk ikan sembilang mau?”, fokus saya kepada kopi mendadak goyah. Kantuk pun minggir pelan-pelan, mungkin tersinggung karena posisinya direbut seekor ikan. Dalam kepala saya mulai berlangsung rapat darurat. Ada suara hati yang berkata, sudah, ngopi saja, lanjut jalan. Ada suara lain yang lebih jujur dan lebih rakus berbisik, kapan lagi ketemu sembilang?.
Kopi saya habiskan. Gelas kosong saya letakkan. Lalu saya berjalan mendekati rak nasi dengan perasaan campur aduk seperti anak sekolah yang mau beli mainan mahal tapi uang jajannya terbatas. Di sana tersusun lauk-pauk, sayur, dan kuah-kuah yang menggoda iman. Saya bilang ingin makan dengan lauk ikan sembilang. Tersedia asam keueung.
Asam keueung sembilang.
Nah, ini bukan kalimat biasa. Ini adalah undangan resmi dari takdir.
“Ambil saja sendiri,” kata ibu pemilik rak nasi.
Sebuah kalimat sederhana yang bagi orang lapar terdengar seperti mandat kenegaraan. Saya pun mengambil piring, menakar nasi, lalu berdiri di hadapan rak lauk seperti penjelajah yang baru menemukan peradaban baru.
Saya ambil nasi secukupnya. Tidak terlalu banyak. Saya masih berusaha menjaga citra sebagai manusia waras yang datang untuk makan siang, bukan membalas dendam kepada masa kecil. Lalu mata saya tertumbuk pada pecal. Pecal Aceh. Sayurannya menggoda. Bumbunya mengundang. Saya ambil. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat piring mulai tampak seperti peta konflik rasa yang menjanjikan.
Di sebelahnya ada kuah pliek. Saya ambil juga. Ini bukan soal lapar semata. Ini soal prinsip. Kalau sudah singgah di warung Aceh dan tersedia kuah pliek, menolaknya tanpa alasan kuat terasa seperti melewatkan salam dari tradisi. Kuah pliek itu bukan sekadar kuah. Ia semacam museum rasa yang cair, tempat kelapa, rempah, dan sejarah rumah tangga Aceh berkumpul dalam satu sendok. Aromanya punya kewibawaan. Warnanya punya cerita.
Lalu ada asam udeung.
Saya memandangnya beberapa detik, lalu memutuskan tidak mengambil.
Bukan karena tidak suka. Bukan karena sedang bermusuhan dengan udang. Sama sekali tidak. Saya hanya takut kombinasi rasa di piring saya nanti terlalu ramai. Ikan sembilang asam keueung, pecal, kuah pliek—itu sudah seperti tiga tokoh utama dalam satu panggung. Kalau ditambah asam udeung, saya khawatir meja makan berubah menjadi konser besar yang terlalu bising. Lidah saya ini rakyat biasa.
Ia punya keterbatasan.
Ia butuh kestabilan politik.
“Mau badan atau kepala ikan?” tanya ibu itu.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi bagi saya, itu seperti pertanyaan hidup yang menuntut kebijaksanaan, keberanian, dan perhitungan ekonomi.
Kepala atau badan?
Bagi ikan jenis ini, kepala bukan bagian sisa.
Kepala adalah mahkota.
Kepala adalah tahta.
Kepala adalah milik para sultan.
Di situlah kenikmatan bersemayam, tapi di situlah juga harga menunjukkan taringnya.
Kepala sembilang bukan lauk, melainkan investasi jangka pendek yang bisa menggoyang anggaran perjalanan.
Dalam sepersekian detik, saya berdialog dengan isi dompet, dengan nalar, dengan harga diri, dan dengan bayangan kebutuhan bensin di perjalanan berikutnya.
Lalu saya menjawab dengan rendah hati, penuh kesadaran kelas, dan sedikit getir yang saya bungkus dengan senyum:
“Badan saja, Bu.”
Begitulah.
Di hadapan kepala ikan sembilang, saya kembali sadar diri sebagai rakyat jelata yang tahu batas antara hasrat dan kemampuan. Sultan itu indah, tapi premium. Sementara saya masih harus melanjutkan perjalanan. Masih harus menjaga agar dompet tidak tiba-tiba masuk ICU.
Ikan itu lalu ditaruh di piring kecil terpisah. Kuah asam keueung merahnya menyala seperti senja yang sedang marah. Potongan sembilangnya berbaring tenang di tengah kuah, seolah tahu dirinya bukan ikan sembarangan. Piring hijau kecil itu mendadak tampak megah. Tidak mewah dalam pengertian restoran berbintang, bukan. Mewah dalam cara yang lebih tua dan lebih jujur: lauk bagus, dimasak benar, disajikan tanpa drama, lalu dimakan oleh orang lapar yang tahu betul nilai setiap suapan.
Saya kembali ke meja.
Di depan saya kini terhidang satu set makan siang yang kalau difoto mungkin tampak sederhana, tapi bagi perut dan batin saya siang itu, ia setara jamuan kenegaraan.
Ada nasi putih.
Ada pecal Aceh.
Ada kuah pliek.
Ada sembilang asam keueung.
Di satu sisi, kopi hitam tadi sudah tinggal kenangan.
Di sisi lain, pisang raja goreng ukuran jumbo menunggu entah sebagai pembuka, penutup, atau bonus takdir.
Saya mulai dari kuah asam keueung sembilang.
Suapan pertama itu seperti tamparan lembut dari kampung halaman.
Asamnya pas.
Pedasnya tidak sok jagoan, tapi cukup untuk membuat lidah melek dan kening sedikit berkeringat. Kuahnya kaya, otentik, dan tidak bertele-tele.
Tidak ada upaya untuk tampil modern.
Tidak ada plating aneh-aneh.
Tidak ada daun mint nyasar di atas ikan untuk pura-pura estetik.
Ini masakan yang tahu identitasnya. Ia lahir untuk dimakan, bukan untuk difoto dua puluh kali lalu dibiarkan dingin.
Daging sembilangnya lembut, gurih, dan punya rasa yang tidak bisa dipalsukan. Ada semacam kedalaman rasa yang hanya dimiliki bahan bagus dan tangan masak yang paham apa yang sedang dikerjakan. Saya makan perlahan. Bukan karena ingin tampak beradab, tapi karena sungguh sayang kalau lauk begini ditelan terburu-buru seperti dikejar debt collector.
Lalu saya pindah ke pecal.
Pecal Aceh ini seperti tetangga ramah yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Sayurannya segar, bumbunya bersahaja, dan kehadirannya menenangkan kegaduhan asam keueung. Di sela rasa tajam kuah sembilang, pecal datang sebagai penyeimbang. Ia seperti teman yang menepuk bahu kita sambil berkata, “Sudah, jangan terlalu emosional. Makan saja dulu.”
Kuah pliek pun tak mau kalah. Ia masuk ke piring saya seperti tokoh senior yang tidak banyak bicara tapi sekali hadir langsung menguasai ruangan. Ada rasa khas yang dalam, sedikit liar, sedikit rumit, tapi sangat Aceh. Ia bukan jenis kuah yang gampang dipahami sekali cicip. Ia harus dihormati. Dikenali pelan-pelan. Dan ketika cocok, ia akan tinggal di ingatan lebih lama daripada beberapa nama pejabat daerah.
Saya makan sambil sesekali memandang piring kecil sembilang itu. Aneh juga, pikir saya. Tadi saya singgah cuma karena ngantuk dan ingin kopi. Saya bahkan bukan peminum kopi. Kopinya pun biasa saja. Sangat biasa. Tapi justru di warung kecil yang kopinya biasa itulah saya menemukan makan siang yang luar biasa.
Kadang hidup memang suka bercanda.
Kita datang mencari satu hal, pulangnya membawa cerita lain.
Kita menepi hanya untuk istirahat, eh malah bertemu lauk yang biasanya cuma lewat di angan-angan.
Dan yang paling menggetarkan justru momen ketika ibu penjual tadi menawarkan lauk sembilang kepada seorang kaum dhuafa di kursi roda.
Saya tidak tahu apakah bapak itu jadi makan sembilang atau tidak. Tapi adegan kecil itu menempel di kepala saya lebih kuat daripada rasa kopi. Ada sesuatu yang halus, yang tak ribut, yang membuat siang itu terasa hangat. Di tengah tempat singgah sederhana, di tepi jalan, di warung SPBU yang mungkin bagi banyak orang cuma tempat lewat, ada kemurahan hati yang bekerja tanpa perlu spanduk dan pidato. Tidak semua kebaikan datang dengan suara besar. Ada yang datang pelan, dengan celemek dapur, dengan tangan yang sibuk melayani, dengan kalimat singkat: “Lauk ikan sembilang mau?”
Dan kalimat itu, entah kenapa, terasa lebih mewah daripada nama-nama menu mahal di restoran kota.
Karena hidup memang begitu. Kadang kemewahan bukan soal ruangan ber-AC, kursi empuk, musik jazz, dan tagihan yang bikin kita menelan ludah.
Kadang kemewahan adalah saat lauk mahal hadir di meja orang yang membutuhkannya.
Kadang kemewahan adalah kesempatan makan enak di tengah perjalanan panjang, saat tubuh lelah, mata berat, dan hati sedang tidak meminta banyak.
Kadang kemewahan adalah warung sederhana yang tidak berisik mempromosikan diri, tapi diam-diam menyajikan rasa otentik dengan harga yang nyaris terasa salah ketik.
Nah, soal harga ini saya memang harus memberi hormat.
Setelah semua itu: makan nasi, pecal, kuah pliek, asam keueung sembilang, kopi hitam sedikit gula, plus pisang raja goreng ukuran jumbo…
Totalnya 27 ribu rupiah.
Dua puluh tujuh ribu.
Saya ulangi sekali lagi supaya hati kita sama-sama sempat merenung:
dua puluh tujuh ribu rupiah.
Di zaman ketika segelas kopi di tempat tertentu bisa dihargai seolah biji kopinya ditanam sambil dibacakan puisi oleh malaikat, angka 27 ribu untuk paket seindah ini terasa seperti kabar gembira nasional. Di beberapa tempat, uang segitu mungkin baru cukup untuk kopi dan gengsi. Di sini, ia menjelma makan siang lengkap, kopi, pisang goreng jumbo, dan bonus rasa syukur yang tidak masuk struk.
Saya bahkan sempat curiga. Jangan-jangan ibu warung salah hitung. Jangan-jangan saya sedang diuji integritas. Tapi tidak. Memang segitu. Saya membayar dengan rasa takjub yang sulit disembunyikan. Rasanya seperti menemukan celah kecil di dunia yang semakin mahal, lalu dari celah itu keluar aroma kuah asam keueung dan harapan.
Perjalanan jauh memang sering melelahkan. Jalan panjang mengajarkan banyak hal: tentang sabar, tentang bensin, tentang punggung yang protes, tentang warung-warung singgah yang kadang lebih jujur daripada tempat-tempat besar. Dan Jumat kemarin, di Ulee Gle, saya belajar lagi satu hal sederhana: jangan remehkan tempat singgah.
Sebab bisa jadi, di warung kecil dekat SPBU, saat Anda hanya berniat menumpas kantuk dengan kopi biasa, takdir malah menyiapkan perjamuan kecil yang membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.
Bisa jadi, di tempat yang tampak sederhana itu, Anda menemukan rasa yang otentik, harga yang bersahabat, dan adegan kecil tentang kebaikan yang diam-diam menampar hati.
Bisa jadi, Anda datang sebagai pengendara lelah, lalu pulang sebagai manusia yang sedikit lebih kenyang, sedikit lebih bahagia, dan sedikit lebih percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan akal sehat.
Dan saya, siang itu, meninggalkan warung tersebut dengan perut senang, mata kembali melek, dan hati yang diam-diam masih memikirkan satu hal penting:
Seandainya saya tadi pilih kepala ikan, mungkin tulisan ini akan lebih dramatis lagi.
Tapi tak apa.
Kaum jelata juga punya martabat.
Badan sembilang pun sudah cukup untuk membuat Jumat terasa seperti hari raya kecil.
#JumatDiUleeGle
#AsamKeueung
#IkanSembilang
#KulinerAceh
#WarungSPBU
#CeritaPerjalanan
#PecalAceh
#KuahPliek
#BandaAcehRiau
#KulinerJalanan #CatatanPerjalanan #MakanSiangSultan #KaumJelataNaikKelas
#KopiHitam
#PisangRajaGoreng


