Sangat menyebaikan!
Ketika kaca depan kenderaan kami kotor dalam perjalanan mudik kemarin, saat tuas pengaktif motor pompa semprotan wiper ditekan, tidak ada yang terjadi. Tidak ada cairan pembersih wiper yang meluncur ke kaca depan.
Coba yang belakang, sama juga. Kedua pompa penyemprot wiper untuk kaca depan dan kaca belakang sudah tewas.
Tidak ada pilihan lain, selain menghentikan kenderaan dan membersihkan kaca secara manual. Begitu yang terjadi sepanjang perjalanan.
Sesampai di Medan, saya mencoba mencari toko spare part mobil yang mungkin buka. Ternyata memang ada yang buka, dan harga pompa wiper tersebut hanya 80000 rupiah saja perbuahnya. Mereknya tidak usah disebutkan, yang penting bisa berfungsi. Pompa depan dan pompa belakang sama saja, hanya berbeda pada soket kabelnya saja. Toka yang buka tersebut tidak ada stock untuk pompa belakang, tetapi tidak ada masalah, hanya membuang tonjolan soket kabel saya yang ada pada pompa depan.
Cara kerjanyapun ternyata mudah saja. Hanya perlu kunci sepuluh saja.
Posisi pompa wiper adalah di bagian bawah tangki reservoar, yang terletak di ruan mesin di sisi penumpang.
Cabut kabel pompa dari soketnya.
Bongkar paut pemegang wiper fluid reservoar dengan menggunakan kunci sepuluh.
Lepaskan selang transparan untuk wiper dari pompa. Awas cairan jangan sampai tumpah.
Tarik pompa keluar, meninggalkan seal karet di tangki reservoar. Lepaskan seal karet dari tangki.
Pasang seal karet pompa baru. Perhatikan arahnya jangan sampai terbalik. Pasang kembali pompanya dengan cara menekan samapi posisinya pas. Pasang kembali sealng dan kabel.
Pasang kembali tangki reservoar ke posisinya semula.
Penyemprot wiper sudah bisa difungsikan kembali.
Showing posts with label mobil. Show all posts
Showing posts with label mobil. Show all posts
Saturday, August 08, 2015
Friday, January 24, 2014
Copet sudako Medan
Medan bagi kami yang berasal dari pelosok pedalaman merupakan belantara yang mengerikan. Penjahat-penjahat jalanan menunggu dan siap memangsa siapa saja yang berada di tempat yang salah pada waktu yang keliru. Saya bersama dengan seorang kawan mengalami sendiri pengalaman yang tidak menyenangkan dalam minibus angkutan kota - sudako - kata orang Medan.
Saat itu, kami baru turun dari bus antar propinsi di Marindal. Hari baru usai subuh, suasana masih gelap menjelang pagi. Tujuan kami adalah Pondok Kelapa, jadi kami menunggu sudako no 64. Beberapa penumpang sudah ada di dalam sudako, beberapa ibu-ibu yang menuju kepasar dan seorang laki-laki tua yang duduk di belakang supir. Baru jalan beberapa puluh meter, sudako berhenti dan empat lelaki naik. Mereka berjaket tebal, tampangnya biasa saja. Satu orang duduk di sebelah kanan saya, dua orang di sebelah kiri, dan satu lagi duduk di samping teman saya di bangku yang berhadapan. Merasa sempit, saya memangku tas saya dan duduk agak membungkuk.
Mereka mulai bercerita, bercakap-cakap dengan riuh. Yang duduk di sebelah kanan saya mencoba melibatkan saya dalam percakapan mereka. Dia bercerita tentang penyakit yang dideritanya, rematik dan kaku tulang yang sudah menahun. Berbagai usaha pengobatan sudah dia coba, mulai dari dokter sampai tradisional. Yang terakhir, katanya, melakukan terapi yang ganjil. Dia memegang lutut kanan saya keras-keras, "Lututku dipegang seperti ini", katanya dengan logat Medan yang kental,"lalu digoyangnya kuat-kuat". Lutut saya ikut digoyangnya kuat-kuat. Sementara itu, kawan saya menatap kami lekat-lekat, mungkin sudah menyadari apa yang akan terjadi.
Sejenak kemudian, orang-orang itu meminta supir untuk berhenti dan mereka turun. Orang yang duduk di sebelah kiri saya sebelum turun menampar kawan saya sekali. Dia diam saja. Setelah sudako berjalan kembali, seorang ibu bertanya, "kena berapa?" Ternyata semua penumpang - kecuali saya - sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Tetapi tidak ada yang berani mengingatkan, takut akan pembalasan gerombolan tersebut. Saya tidak kehilangan apapun, karena sebelum naik sudako tadi dompet saya masukkan ke saku depan jeans. Posisi duduk saya yang membungkuk ditambah dengan mengendong tas membuat mereka tidak bisa mengambil dompet saya.
Saat itu, kami baru turun dari bus antar propinsi di Marindal. Hari baru usai subuh, suasana masih gelap menjelang pagi. Tujuan kami adalah Pondok Kelapa, jadi kami menunggu sudako no 64. Beberapa penumpang sudah ada di dalam sudako, beberapa ibu-ibu yang menuju kepasar dan seorang laki-laki tua yang duduk di belakang supir. Baru jalan beberapa puluh meter, sudako berhenti dan empat lelaki naik. Mereka berjaket tebal, tampangnya biasa saja. Satu orang duduk di sebelah kanan saya, dua orang di sebelah kiri, dan satu lagi duduk di samping teman saya di bangku yang berhadapan. Merasa sempit, saya memangku tas saya dan duduk agak membungkuk.
Mereka mulai bercerita, bercakap-cakap dengan riuh. Yang duduk di sebelah kanan saya mencoba melibatkan saya dalam percakapan mereka. Dia bercerita tentang penyakit yang dideritanya, rematik dan kaku tulang yang sudah menahun. Berbagai usaha pengobatan sudah dia coba, mulai dari dokter sampai tradisional. Yang terakhir, katanya, melakukan terapi yang ganjil. Dia memegang lutut kanan saya keras-keras, "Lututku dipegang seperti ini", katanya dengan logat Medan yang kental,"lalu digoyangnya kuat-kuat". Lutut saya ikut digoyangnya kuat-kuat. Sementara itu, kawan saya menatap kami lekat-lekat, mungkin sudah menyadari apa yang akan terjadi.
Sejenak kemudian, orang-orang itu meminta supir untuk berhenti dan mereka turun. Orang yang duduk di sebelah kiri saya sebelum turun menampar kawan saya sekali. Dia diam saja. Setelah sudako berjalan kembali, seorang ibu bertanya, "kena berapa?" Ternyata semua penumpang - kecuali saya - sudah mengetahui apa yang sedang terjadi. Tetapi tidak ada yang berani mengingatkan, takut akan pembalasan gerombolan tersebut. Saya tidak kehilangan apapun, karena sebelum naik sudako tadi dompet saya masukkan ke saku depan jeans. Posisi duduk saya yang membungkuk ditambah dengan mengendong tas membuat mereka tidak bisa mengambil dompet saya.
Thursday, January 23, 2014
Subscribe to:
Posts (Atom)