Ainia baru berumur satu bulan ketika kami membawanya ke berbagai tempat di Sumatra Barat. Di Pasar Atas Bukittinggi, menengok Ainia lelap dalam gendongan, ibu-ibu pedagang kain mengajukan pertanyaan, "Sudah berapa umurnya?" Beberapa orang pembeli juga menanyakan hal yang sama. Ada rasa kasihan terpancar di wajah mereka, menimbulkan tanda tanya. Kami tidak menggubrisnya, toh Ainia juga tidak apa-apa.
Kali kedua kami membawa Ainia ke Sumatra Barat, usianya sudah tiga bulan. Di Batusangkar, begitu kami sampai ke rumah tempat kami berkunjung, Ainia menangis keras. Keras sekali sampai terpekik-pekik. Kami panik dan khawatir, mungkin Ainia masuk angin atau sakit perut karena perjalanan jauh, yang umum untuk bayi seusia dia. Tetapi, tuan rumah kami, seorang lelaki berusia lima puluhan, punya pendapat lain. Dia segera ke kebun samping rumahnya, menembus hujan gerimis, dan kembali dengan segenggam daun. Berwarna hijau pekat, sedikit basah oleh air hujan, nampak seperti daun kare yang harum, tetapi bukan. Dia meremas daun tersebut dalam semangkok air, kemudian mengusap sedikit air remasan daun tersebut ke wajah Ainia. Dia mengucapkan sesuatu dalam bahasa Minang, artinya tidak jelas bagi saya karena dia mengucapkannya terlalu cepat. Yang terdengar, "Inyiak, iko cucu, baru tibo. Pailah, tinggalkan inyo surang". Ajaib. Sontak tangisan Ainia terhenti.
"Jika air remasan daun ini berbau harum, berarti ada yang ganggu. Ini tidak berbau harum. Mungkin Ainia hanya menampak saja", jelas tuan rumah kami.
Saat pulang dari Maninjau, di daerah Lubuk Basung, saat magrib Ainia menangis lagi. Kali ini lebih lama. Upaya tuan rumah kami untuk menenangkan Ainia makan waktu lebih lama. Ketika tangisan Ainia berhenti saat kami singgah salat, tuan rumah kami mengatakan bahwa Ainia mungkin sakit perut. Nanti sesampai di Batusangkar biar dibawa ke tempat di Man, yang terkenal ahli dalam menangani bayi yang rewel.
Tempat Man ternyata dalah sebuah warung kebutuhan sehari-hari, yang juga merangkap sebagai warung kopi. Lokasinya masih di Kotopanjang, hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah tempat kami menginap di Batusangkar. Man berusia sedikit lebih muda dari tuan rumah kami, mungkin akhir empat puluhan.
"Iko kanai palasik", simpul Man. Obatnya sederhana saja, air perasan jeruk nipis dan abu tungku dapur, diaduk dan dioleskan ke perut. Terlihat Man membaca sesuatu - tidak jelas terdengar, karena Man mengucapkannya nyaris berbisik dan dalam bahasa setempat.
"Besok kemari lagi biar dibikin penangkalnya", kata Man. Karena kami akan balik ke kota kami besok, tuan rumah kami memohon supaya penangkal yang ada pesanan orang lain didahulukan untuk kami. "Boleh", kata Man. Tetapi kami tetap harus mengambilnya besok pagi.
Palasik adalah sejenis makhluk jadi-jadian dalam kepercayaan masyarakat Minang. Asalnya adalah dari para penganut ilmu hitam, dan diwariskan secara turun temurun. Yang mewarisi hanya keturunan perempuan - karena itu belum ada terdengar adanya palasik yang laki-laki.
Palasik biasanya mengisap darah bayi melalui ubun-ubunya. Cerita Wak, seorang Melayu Asli yang berasal dari Bagan, palasik harus diberi makan secara teratur. Jika, tidak, orang-orang di sekelilingnya - kadang keluarga dekatnya - yang akan menjadi korban. Palasik bisa mengisap dayah bayi yang ubun-ubunnya masih lunak hanya dengan memandangnya saja. Karena itu, hati-hati saat membawa bayi jika berpapasan dengan seorang wanita - biasanya yang sudah tua -, wanita tersebut menengok si bayi dalam-dalam, bisa jadi dia sedang memangsa si bayi. Si bayi akan terkejut, menangis hebat sampai kejang-kejang dan payah berhenti sampai kecapekan sendiri. Tanda-tanda lain bayi yang terkena palasik adalah matanya mengeluarkan kotoran, demam tinggi, dan diare.
Obatnya? "Jika sibayi menangis saat berpapasan dengan seorang wanita tua dan dicurigai wanita tersebut adalah palasik, kasihkan saja bayinya ke orang tersebut. Usahakan sampai dia memegangnya", kata seorang kawan dari Sumbar. Dengan menyerahkan bayi kepada si palasik, pengaruh palasik atas bayi tersebut akan hilang dengan sendirinya.
Selain itu, rukiyah juga sangat membantu. Dalam http://quranic-healing.blogspot.com/2013/12/meruqyah-anak-yang-kena-sihir-palasik.html, seorang blogger menulis tentang rukiyah seorang bayi berusia 5 bulan yang terkena palasik. "Alhamdulillah tadi pagi jam 9-10 meruqyah bayi perempuan berumur 5 bulan dengan gejala selalu nangis sampai kejang2 dan terkadang menurut pengakuan bundanya sampai jam 2 malam baru berhenti nangis dan tertidur.biasanya anak ini mulai nangis habis ashar.ketika sang bunda memberikan ASI dia sering terkejut.kejadian ini berlangsung hampir 2 bulan.membuat sang bunda pun bingung dan menangis.kalau orang kampung bilang gejala ini mirip dengan sihir PALASIK ( MINANG). ketika di ruqyah tidak ada reaksi apa2 cuma anak itu kelihatan lebih tenang. setelah diruqyah anak ini tertidur pulas,dan sampai detik ini sang bunda gak ada mengeluhkan tentang anaknya.mudah2an sudah tidak terjadi apa2.amiin.salam tauhid !"
Tetapi, Dr.H.Jondri akmal, MARS, melalui blognya http://blogdjondris.blogspot.com mempunyai pendapat yang berbeda. Katanya, bayi dengan ciri-ciri seperti kena palasik itu sama dengan bayi yang mengalami gizi buruk. Lebih jelas, Dr.H.Jondri akmal, MARS menuturkan sebagai berikut:
Lebih lengkapnya di http://blogdjondris.blogspot.com/2013/09/palasik-dan-gizi-buruk.html.
Bagaimana dengan Ainia? Dia memang tidak menangis lagi seperti kejadian yang lalu yang menyebabkan semua orang panik. Kami juga tidak ingin memasang jimat apapun, karena jimat adalah benda yang tidak punya kuasa apapun untuk melindungi apapun dan siapapun. Untuk tidak melukai hati tuan rumah dan Man, esoknya kami mengambil tangkal. Berbentuk seperti dompet kecil yang berisi beberapa bahan (kata Man berisi beberapa jenis bumbu dapur yang konon ditakuti oleh palasik) terbuat dari kain hitam dengan benang warna-warni untuk dijadikan kalung. Man berbesan supaya dipakai setiap waktu. Insya Allah palasik tidak akan berani mendekat. Juga jika Ainia sakit perut, supaya perutnya diolesi dengan campuran abu dapur dan air perasan jeruk nipis.
Apakah Ainia memang terkena palasik? Wallahu 'alam. Sampai saat ini Ainia tumbuh sehat seperti bayi normal lainnya, Insya Allah.
Makhluk gaib memang aada, palasik bisa jadi ada, tetapi kami sudah bertekad tidak akan memasang jimat apapun pada Ainia. Penangkal jimat yang diberi Man mungkin ditakuti oleh palasik, tetapi kami tidak mau berlindung pada benda yang jelas tidak punya daya apapun. Penangkal palasik itu masih saya simpan, sebagai kenang-kenangan etnis dari Sumbar. Sesekali, kami membaca atau memutar kaset ayat-ayat rukiyah untuk berjaga-jaga. Kami lebih yakin atas perlindungan Yang Maha Kuasa dibanding dengan jimat penangkal.
Showing posts with label tradisi. Show all posts
Showing posts with label tradisi. Show all posts
Thursday, March 06, 2014
Tuesday, January 21, 2014
Batu Angkek-angkek
Sepulang dari
pemandian umum di Desa Minangkabau, tuan rumah mengajak kami ke lokasi
batu angkek-angkek. Tidak jauh, lebih kurang lima belas menit
perjalanan. Tempatnya menyelip diantara rumah-rumah dalam gang kecil,
yang hanya bisa dilewati satu kenderaan roda empat. Sebuah rumah gadang
yang berusia puluhan - mungkin ratusan tahun, dilihat dari
penampilannya.
Rumah gadang ini walaupun merupakan situs budaya adalah milik pribadi, dan dikelola oleh pemilik secara pribadi. Halaman depan rumah gadang ini sempit, hanya cukup untuk parkir beberapa mobil kecil. Tidak ada tempat untuk memutar kenderaan. Pengunjung yang ingin pulang harus melalui semacam gang di sebelah sekolah, dan tembus ke jalan masuk tadi. Beberapa anak muda setempat cukup sigap bertugas sebagai tukang parkir dengan bayaran 5000 rupiah.
Di depan rumah terpancang plang nama dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tanah Datar mengenai sejarah batu angkek-angkek tersebut. Semacam cerita percaya-atau-tidak, dengan kandungan mistis yang sangat kentara. Adalah Datuk Bandaro Kayo, penghulu kaum dari Suku Piliang, yang bermimpi didatangi oleh Syek Ahmad - tidak dijelaskan siapa Syeh Ahmad tersebut - dan diperintahkan untuk mendirikan sebuah perkampungan, yang sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Palangan. Saat dilakukan pembangunan tiang pertama, di lokasi tersebut terjadi gempa dan hujan panas - hujan yang terjadi saat matahari bersinar - selama empat belas hari berturut-turut, siang dan malam. Tidak ada penjelasan bagaimana kerusakan yang timbul akibat gempa selama itu. Ketika diadakan musyawarah untuk membahas kejadian tersebut (tidak dijelaskan kapan dilakukan, kemungkinan hari ke lima belas saat kejadian tersebut berakhir), terdengan semacam suara yang memberitahu bahwa dalam lubang untuk tiang yang sedang dibangun tersebut terdapat semacam batu, dan batu tersebut supaya diambil dan dirawat baik-baik. Batu tersebut kemudian diambil dan disebut dengan batu Pandapatan. Tidak ada penjelasan lanjutan kenapa batu tersebut harus dijaga dan kenapa harus diangkat-angkat (angkek-angkek), sehingga kemudian namanya berubah menjadi batu angkek-angkek.
Mendaki tangga beton menuju ke atas rumah, kami disambut suasana rumah gadang tradisional Sumatera Barat. Konstruksi bagunan sebagian besar terbuat dari kayu, berwarna asli coklat tua tanpa polesan cat apapun. Nuansa gelap menanti, menampilkan suasana mistis yang ganjil. Di ujung tangga masuk, sebelah kiri, beranda depan dijadikan semacam kios suvenir. Pemilik rumah menjajakan berbagai pernak-pernik khas setempat, mulai dari kaos yang bertuliskan berbagai tulisan tentang Batusangkar, sampai gantungan kunci dan sandal buatan setempat. Juga tersedia obat-obatan tradisional bagi siapa saja yang memerlukan.
Di ruangan lainnya, yang dibedakan dengan ketinggian sekitar tiga puluh sentimeter - seperti rumah tradisional Aceh - beberapa pengunjung merubungi semacam ruangan berbentuk segiempat yang dibatasi oleh kain. Seorang lelaki usia akhir tiga puluhan sedang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Indonesia logat Minang. Saya naik ke tempat tersebut, bergabung dengan pengunjung lainnya untuk ikut mendengarkan penjelasan lelaki tersebut - yang ternyata adalah juru kunci batu angkek-angkek tersebut. Di dinding kamar tercantum tata cara ritual untuk pengunjung yang ingin mencoba mengangkat batu tersebut.
Di atas sepotong kain putih di lantai kayu yang dialas karpet, terletaklah batu tersebut. Mirip seperti potongan buah yang dibelah, berbentuk lonjong dengan salah satu sisi yang rata. Berwarna merah tembaga, sama sekali tidak mirip batu, tetapi lebih mirip logam tembaga dengan bercak kehitaman, mengilap oleh pegangan ribuan pasang tangan pengunjung dari masa ke masa. Kabarnya, di bawah rumah gadang ini, dalam kedalaman tanah, ada pasangan batu ini, belahan yang mirip, yang tidak bisa diangkat kluar dengan cara apapun dan lebih memilih untuk tetap berada di sana. Kemudian, saat melangkah masuk, supaya mengucapkan salam dalam hati. Kenapa harus mengucapkan salam ke benda mati? Tidak ada penjelasan. Semuanya berdasarkan aturan dengar-dan-patuhi-tanpa-pertanyaan. Jika ragu jangan ke sini.
Saya menyimak penjelasan juru kunci.
Sebelum memasuki lokasi segi empat tempat batu tersebut terletak, pengunjung yang berhajat harus berwudhu dulu, juru kunci melanjutkan.
Kemudian pengunjung supaya duduk bersimpuh di depan baru dan membaca Bismillah dan Salawat Nabi 3x dalam hati. Kemudian niat sambil berdoa. Sebagaima tercantum dalam petunjuk bergambar di dinding, contoh doanya adalah sebagai berikut, "Ya Allah kepada engkau aku bermohon, engkaulah yang akan mengabulkan permohonanku ... (sebutkan niatnya), kalau niatku terkabul berikanlah pertanda, ringankanlah batu ini / mohon terangkat". Kemudian posisikan diri setengah bersujud, dengan kedua tangan dibawah batu dengan telapak tangan menghadap ke atas. Tarik batu ke arah pangkuan. Kemudian turunkan kembali ke lantai. Terakhir, yang paling penting, masukkan persyaratan (biasanya berupa uang / sedekah) ke tempat yang di sediakan di sebelah kiri. Jangan lupa, sebelum meninggalkan lokasi kembali ucapkan salam dalam hati.
"Batu ini," lanjut juru kunci, "tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dia tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan terkabulnya sebuah niat atau tidak, apalagi punya kemampuan untuk mengabulkan sebuah pengharapan. Adalah Allah yang memiliki kemampuan tersebut. Jadi jangan memohon kepada batu, jangan meminta kepada batu untuk menunjukkan sebuah niat terkabul atau tidak. Bermohonlah kepada Allah. Usaha untuk mengangkat batu ini hanya sebagai tanda kekuatan niat kita untuk berusaha mencapai niat kita".
Sekali berada dalam ruangan tempat batu tersebut berada, pengunjung boleh mencoba tiga kali. Dua kali dengan niat, dan sekali tanpa ada niat apa-apa, hanya usaha untuk mengangkat saja.
Penjelasan usai. Pengunjung yang datang sebelum kami mendapat kesempatan pertama untuk mencoba. Duduk bersimpuh di depan batu, tangan diatas paha. mata terpejam mendaraskan niat dan doa. Kemudian kedua tangan terjulur ke bawah batu. Hup! Batu terseret kearah pangkuan. Senyum puas mengisi wajah. Kemudian batu diletakkan kembali ke tempatnya semula. Angkatan kedua adalah kosong, tanpa niat apa-apa. Wajah berkerut, urat-urat pelipis menonjol. Batu tidak terangkat, bahkan tidak bergeser sedikitpun. Percobaan ketiga - sesuai arahan juru kunci - kembali diisi dengan niat dan doa. Batu kembali terangkat dan terseret ke pangkuan, seolah tanpa berat.
Saya tidak tertarik untuk mencoba, walaupun berulang kali juru kunci meminta. "Kalau tidak dialami sendiri, sudah menjelaskannya", katanya. Begitu juga tuan rumah kami. "Bagi saya, cukup doa langsung ke Yang Maha Kuasa, sehabis shalat. Tidak perlu petunjuk dari sebongkah batu untuk memberi tanda diterima atau tidak," tandas tuan rumah kami.
Rumah gadang ini walaupun merupakan situs budaya adalah milik pribadi, dan dikelola oleh pemilik secara pribadi. Halaman depan rumah gadang ini sempit, hanya cukup untuk parkir beberapa mobil kecil. Tidak ada tempat untuk memutar kenderaan. Pengunjung yang ingin pulang harus melalui semacam gang di sebelah sekolah, dan tembus ke jalan masuk tadi. Beberapa anak muda setempat cukup sigap bertugas sebagai tukang parkir dengan bayaran 5000 rupiah.
Di depan rumah terpancang plang nama dari Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tanah Datar mengenai sejarah batu angkek-angkek tersebut. Semacam cerita percaya-atau-tidak, dengan kandungan mistis yang sangat kentara. Adalah Datuk Bandaro Kayo, penghulu kaum dari Suku Piliang, yang bermimpi didatangi oleh Syek Ahmad - tidak dijelaskan siapa Syeh Ahmad tersebut - dan diperintahkan untuk mendirikan sebuah perkampungan, yang sekarang ini dikenal dengan nama Kampung Palangan. Saat dilakukan pembangunan tiang pertama, di lokasi tersebut terjadi gempa dan hujan panas - hujan yang terjadi saat matahari bersinar - selama empat belas hari berturut-turut, siang dan malam. Tidak ada penjelasan bagaimana kerusakan yang timbul akibat gempa selama itu. Ketika diadakan musyawarah untuk membahas kejadian tersebut (tidak dijelaskan kapan dilakukan, kemungkinan hari ke lima belas saat kejadian tersebut berakhir), terdengan semacam suara yang memberitahu bahwa dalam lubang untuk tiang yang sedang dibangun tersebut terdapat semacam batu, dan batu tersebut supaya diambil dan dirawat baik-baik. Batu tersebut kemudian diambil dan disebut dengan batu Pandapatan. Tidak ada penjelasan lanjutan kenapa batu tersebut harus dijaga dan kenapa harus diangkat-angkat (angkek-angkek), sehingga kemudian namanya berubah menjadi batu angkek-angkek.
Mendaki tangga beton menuju ke atas rumah, kami disambut suasana rumah gadang tradisional Sumatera Barat. Konstruksi bagunan sebagian besar terbuat dari kayu, berwarna asli coklat tua tanpa polesan cat apapun. Nuansa gelap menanti, menampilkan suasana mistis yang ganjil. Di ujung tangga masuk, sebelah kiri, beranda depan dijadikan semacam kios suvenir. Pemilik rumah menjajakan berbagai pernak-pernik khas setempat, mulai dari kaos yang bertuliskan berbagai tulisan tentang Batusangkar, sampai gantungan kunci dan sandal buatan setempat. Juga tersedia obat-obatan tradisional bagi siapa saja yang memerlukan.
Di ruangan lainnya, yang dibedakan dengan ketinggian sekitar tiga puluh sentimeter - seperti rumah tradisional Aceh - beberapa pengunjung merubungi semacam ruangan berbentuk segiempat yang dibatasi oleh kain. Seorang lelaki usia akhir tiga puluhan sedang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Indonesia logat Minang. Saya naik ke tempat tersebut, bergabung dengan pengunjung lainnya untuk ikut mendengarkan penjelasan lelaki tersebut - yang ternyata adalah juru kunci batu angkek-angkek tersebut. Di dinding kamar tercantum tata cara ritual untuk pengunjung yang ingin mencoba mengangkat batu tersebut.
Di atas sepotong kain putih di lantai kayu yang dialas karpet, terletaklah batu tersebut. Mirip seperti potongan buah yang dibelah, berbentuk lonjong dengan salah satu sisi yang rata. Berwarna merah tembaga, sama sekali tidak mirip batu, tetapi lebih mirip logam tembaga dengan bercak kehitaman, mengilap oleh pegangan ribuan pasang tangan pengunjung dari masa ke masa. Kabarnya, di bawah rumah gadang ini, dalam kedalaman tanah, ada pasangan batu ini, belahan yang mirip, yang tidak bisa diangkat kluar dengan cara apapun dan lebih memilih untuk tetap berada di sana. Kemudian, saat melangkah masuk, supaya mengucapkan salam dalam hati. Kenapa harus mengucapkan salam ke benda mati? Tidak ada penjelasan. Semuanya berdasarkan aturan dengar-dan-patuhi-tanpa-pertanyaan. Jika ragu jangan ke sini.
Saya menyimak penjelasan juru kunci.
Sebelum memasuki lokasi segi empat tempat batu tersebut terletak, pengunjung yang berhajat harus berwudhu dulu, juru kunci melanjutkan.
Kemudian pengunjung supaya duduk bersimpuh di depan baru dan membaca Bismillah dan Salawat Nabi 3x dalam hati. Kemudian niat sambil berdoa. Sebagaima tercantum dalam petunjuk bergambar di dinding, contoh doanya adalah sebagai berikut, "Ya Allah kepada engkau aku bermohon, engkaulah yang akan mengabulkan permohonanku ... (sebutkan niatnya), kalau niatku terkabul berikanlah pertanda, ringankanlah batu ini / mohon terangkat". Kemudian posisikan diri setengah bersujud, dengan kedua tangan dibawah batu dengan telapak tangan menghadap ke atas. Tarik batu ke arah pangkuan. Kemudian turunkan kembali ke lantai. Terakhir, yang paling penting, masukkan persyaratan (biasanya berupa uang / sedekah) ke tempat yang di sediakan di sebelah kiri. Jangan lupa, sebelum meninggalkan lokasi kembali ucapkan salam dalam hati.
"Batu ini," lanjut juru kunci, "tidak memiliki kekuatan apa-apa. Dia tidak memiliki kemampuan untuk menunjukkan terkabulnya sebuah niat atau tidak, apalagi punya kemampuan untuk mengabulkan sebuah pengharapan. Adalah Allah yang memiliki kemampuan tersebut. Jadi jangan memohon kepada batu, jangan meminta kepada batu untuk menunjukkan sebuah niat terkabul atau tidak. Bermohonlah kepada Allah. Usaha untuk mengangkat batu ini hanya sebagai tanda kekuatan niat kita untuk berusaha mencapai niat kita".
Sekali berada dalam ruangan tempat batu tersebut berada, pengunjung boleh mencoba tiga kali. Dua kali dengan niat, dan sekali tanpa ada niat apa-apa, hanya usaha untuk mengangkat saja.
Penjelasan usai. Pengunjung yang datang sebelum kami mendapat kesempatan pertama untuk mencoba. Duduk bersimpuh di depan batu, tangan diatas paha. mata terpejam mendaraskan niat dan doa. Kemudian kedua tangan terjulur ke bawah batu. Hup! Batu terseret kearah pangkuan. Senyum puas mengisi wajah. Kemudian batu diletakkan kembali ke tempatnya semula. Angkatan kedua adalah kosong, tanpa niat apa-apa. Wajah berkerut, urat-urat pelipis menonjol. Batu tidak terangkat, bahkan tidak bergeser sedikitpun. Percobaan ketiga - sesuai arahan juru kunci - kembali diisi dengan niat dan doa. Batu kembali terangkat dan terseret ke pangkuan, seolah tanpa berat.
Saya tidak tertarik untuk mencoba, walaupun berulang kali juru kunci meminta. "Kalau tidak dialami sendiri, sudah menjelaskannya", katanya. Begitu juga tuan rumah kami. "Bagi saya, cukup doa langsung ke Yang Maha Kuasa, sehabis shalat. Tidak perlu petunjuk dari sebongkah batu untuk memberi tanda diterima atau tidak," tandas tuan rumah kami.
Subscribe to:
Posts (Atom)
