Ada perjalanan yang berangkat dengan rencana rapi, peta di kepala, tangki penuh, saldo kartu tol aman, dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
Lalu ada perjalanan yang di tengah jalan disadarkan oleh hidup bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang mudah lapar, gampang mengantuk, dan sangat mungkin salah belok di Kisaran hanya karena terlalu percaya diri pada insting.
Ini cerita tentang jenis perjalanan yang kedua.
Jumat, 19 Juni kemarin, saya memulai perjalanan balik dari Banda Aceh ke Riau.
Sendirian.
Hanya saya, sebuah Toyota Innova matic bensin tahun 2014, beberapa botol air, kantuk yang belum tampak wujudnya, dan keyakinan berlebihan bahwa perjalanan jauh bisa dilibas dengan santai seperti pergi beli kopi ke ujung gang.
Pagi-pagi sekali, sekitar jam enam, saya isi Pertalite full tank di SPBU Cot Iri. Tangki penuh selalu memberi rasa aman yang menipu.
Seolah-olah hidup ini sederhana: selama bensin penuh, semua urusan selesai.
Padahal tidak.
Ada urusan perut, urusan mata yang berat, urusan jalan rusak, urusan bus rombongan haji yang kalau muncul di belakang rasanya seperti konvoi kenegaraan, dan urusan salah belok yang diam-diam bisa menghapus sejam umur di jalan.
Saya meninggalkan rumah pukul 09.30 pagi. Tujuan pertama: tol Blang Bintang. Sebelum masuk tol, saya singgah di Indomaret di Jalan Blang Bintang lama untuk top up kartu tol sebesar lima ratus ribu rupiah. Nominal yang membuat kartu saya sejenak merasa jadi orang penting. Setelah itu saya masuk tol sekitar pukul 10.00.
Tol pagi itu lengang.
Lancar.
Sepi.
Tidak banyak kendaraan.
Aspal membentang seperti karpet hitam yang disiapkan khusus untuk kepergian saya. Mobil melaju tenang, langit terang, dan untuk sesaat saya merasa menjadi tokoh utama dalam film road trip yang anggarannya pas-pasan tapi sinematografinya bagus. Sekitar pukul 10.45 saya keluar tol, lalu perjalanan darat yang sesungguhnya pun dimulai.
Grong-grong lewat. Sigli lewat. Beureunuen lewat. Lueng Putu lewat. Jalan seperti pita panjang yang tak habis-habis, dibentangkan Tuhan untuk menguji sabar para pengemudi dan ketahanan bokong manusia.
Semula rencana saya sederhana: makan siang di Bireuen atau Matang Glumpang Dua. Itu rencana yang tampak dewasa, rasional, dan terukur. Tapi di jalan, rencana sering kalah oleh hal-hal yang lebih purba: kantuk dan lapar.
Di SPBU Ulee Gle saya melihat banyak kendaraan parkir. Itu tanda yang sering lebih jujur daripada review Google. Kalau banyak orang berhenti, biasanya ada sesuatu yang layak diperjuangkan: entah kopi, nasi, atau toilet yang tidak terlalu menyiksa. Saya pun ikut parkir.
Niat awal saya cuma satu: ngopi sederhana, ditemani sekerat pisang raja goreng jumbo, lalu lanjut jalan. Sesederhana itu. Sebab dalam hidup, sering kali yang kita butuhkan hanya secangkir kopi dan gorengan yang tidak pelit minyak.
Tapi rupanya takdir makan siang saya sedang disusun lebih dramatis.
Di warung itu saya mendengar seorang ibu penjual nasi menawarkan kepada seorang dhuafa dengan kalimat yang sangat sederhana, sangat biasa, tapi entah kenapa menampar batin dengan lembut: “Lauk ikan sembilang mau?”
https://darirantau.blogspot.com/2026/06/jumat-di-ulee-gle-saat-kaum-jelata.html
Kalimat itu tidak panjang.
Tidak puitis.
Tidak berlagu.
Tapi di sana, di tengah perjalanan, di tengah rasa kantuk dan lapar, kalimat itu terasa seperti pelajaran yang diam-diam menyamar jadi percakapan warung.
Ada kemurahan hati yang tidak perlu panggung.
Ada kebaikan yang tidak butuh kamera.
Ada kelapangan yang tidak diposting dengan caption motivasi.
Maka dari sekadar ngopi dan sepotong pisang goreng, siang saya berbelok menjadi makan siang yang mewah—mewah bukan karena menunya mahal, tapi karena suasananya membuat hati ikut kenyang. Kadang yang membuat makanan terasa istimewa bukan lauknya, tapi pemandangan kecil tentang kemanusiaan yang ikut tersaji di meja.
Setelah makan, perjalanan saya lanjutkan. Jalanan masih relatif sepi karena waktu Jumat sudah masuk. Ada semacam keuntungan spiritual dan lalu lintas di jam-jam begitu: banyak orang sedang menunaikan kewajiban, dan jalan memberi ruang lebih lapang bagi mereka yang masih menggilas kilometer.
Perjalanan terus mulus sampai melewati Bireuen. Lalu tibalah saya di Cot Ie Ju—tempat godaan duniawi berikutnya menunggu dalam bentuk yang amat berbahaya: pisang goreng.
Di sana tersedia tiga jenis.
Pisang tanduk goreng.
Pisang raja goreng.
Dan satu lagi yang langsung membuat saya takluk tanpa syarat: pisang kepok yang diiris tipis lalu digoreng membentuk lembaran lebar.
Ini favorit saya.
Saya tidak tahu siapa manusia pertama yang punya ide mengiris pisang kepok tipis-tipis lalu menggorengnya jadi lembaran lebar renyah, tapi orang itu layak mendapat tempat terhormat dalam sejarah kuliner Nusantara. Sebab tidak semua penemuan besar lahir di laboratorium. Sebagian lahir di wajan, dari tangan orang-orang sederhana yang paham bahwa kebahagiaan bisa dijual seribu-seribu di pinggir jalan.
Pisang goreng model begini bukan sekadar kudapan. Ia adalah ide besar peradaban. Tipis, lebar, renyah, manis samar, dan punya kemampuan menghapus niat diet tanpa perlu berdebat. Saya membeli pisang tanduk dan pisang kepok. Pisang raja saya abaikan bukan karena tidak enak, tapi karena dalam hidup kita harus belajar memilih, meski pilihan itu sama-sama digoreng dalam minyak panas.
Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju salah satu titik paling sensitif di jalur itu: jembatan Kuta Blang, yang oleh warga setempat diberi nama dengan penuh imajinasi geopolitik: Selat Hormuz.
Nama itu terlalu besar untuk sebuah jembatan di jalur darat, tapi justru di situlah letak keindahannya.
Orang Aceh dan Sumatra memang punya bakat memberi nama yang membuat tempat sederhana terasa seperti simpul nasib dunia.
Dan benar saja, mendekati lokasi itu, antrean kendaraan mulai bergerak pelan.
Pelan sekali.
Lalu ketika tinggal satu mobil lagi sebelum giliran saya melintas, arus lalu lintas dihentikan.
Dari belakang, muncullah bus rombongan haji dari Langsa. Datangnya bukan diam-diam. Mereka datang dengan pengawalan lengkap: polisi, Dishub, dan aura prioritas yang tidak bisa dibantah.
Mereka mendesak masuk ke depan, dan saya hanya bisa menatap dengan pasrah seorang rakyat jelata yang tahu posisinya di hadapan tamu-tamu Allah yang baru pulang.
Biarlah, batin saya.
Untuk berangkat haji antrinya terlalu lama.
Giliran pulang, masa tidak boleh cepat.
Saya ikhlas.
Betul-betul ikhlas.
Toh dalam hidup, kita semua pernah ada di posisi harus mengalah kepada rombongan yang lebih penting.
Kadang rombongan haji.
Kadang truk sawit.
Kadang mantan yang sudah duluan move on.
Begitu rombongan bus lewat, kami yang di belakang buru-buru mengekor. Ada naluri kolektif yang tiba-tiba hidup: kalau ada celah, ikutlah. Maka perjalanan saya berubah. Sekarang lajunya ditentukan oleh bus rombongan haji di depan. Dan karena bus itu juga tidak bisa ngebut, kami semua pun bergerak dalam kecepatan takdir.
Di Krueng Mane, rombongan berbelok ke kanan melewati Jalan Elak yang tembus ke Buket Rata, jadi tidak melewati Lhokseumawe. Saya ikut arus itu. Kadang dalam perjalanan, keputusan terbaik memang bukan hasil perencanaan matang, tapi sekadar ikut kendaraan di depan yang tampak tahu jalan.
Di daerah Bayu, pada lokasi perbaikan jalan, lagi-lagi rombongan haji mendapat prioritas. Kali ini saya malah terbantu. Tinggal ikut mereka saja seperti anak ayam ikut induk, meski induknya berbentuk bus besar dengan spanduk jamaah. Dalam kondisi jalan sempit, perbaikan di sana-sini, dan lalu lintas yang suka berubah perangai, punya “pembuka jalan” semacam itu jelas berkah terselubung.
Rombongan bus akhirnya berbelok ke Masjid Raya Bayu untuk salat Ashar.
Saya tidak ikut masuk.
Saya lanjut dulu, lalu setengah jam kemudian berhenti untuk salat Ashar jamak dengan Zuhur.
Ada nikmat tersendiri dalam salat di tengah perjalanan panjang: tubuh letih, mata berat, tapi ada jeda yang membuat jiwa seperti direbahkan sebentar di tempat yang teduh.
Setelah itu, tanpa bus di depan, perjalanan terasa lebih lancar. Menjelang magrib saya mencapai Peureulak. Sekalian saya berhenti untuk salat Magrib jamak dengan Isya. Jalan jauh memang mengajarkan banyak hal, salah satunya: waktu tempuh boleh panjang, tapi yang membuat kita tetap waras sering kali adalah jeda-jeda kecil yang teratur—salat, kopi, cuci muka, meregangkan kaki, atau sekadar memandang langit sambil bertanya kenapa perjalanan pulang selalu terasa lebih melelahkan daripada pergi.
Malam turun, dan saya sampai di Simpang Commodore, Langsa. Di sana saya berhenti makan malam di Warung Cek Da. Tidak ada yang istimewa, dan justru itu yang istimewa. Sebab tidak semua tempat makan harus heroik.
Ada warung yang tugasnya memang cuma satu: menyelamatkan manusia dari kelaparan malam, tanpa perlu plating cantik, tanpa ambience industrial, tanpa menu fusion yang bikin dompet trauma.
Perut terisi, perjalanan lanjut lagi. Setelah melewati Kuala Simpang saya berhenti di SPBU dan mengisi Pertalite karena jarum bensin sudah jauh di bawah separuh. Total pengisian sampai full: Rp380.000, dengan jarak tempuh 439 kilometer.
Lalu datanglah musuh yang dari tadi hanya mengintai dari jauh: kantuk.
Bukan kantuk ringan yang masih bisa diajak kompromi.
Ini kantuk yang sudah duduk di pundak, memijat pelupuk mata, lalu berbisik, “Sudah. Menepi saja. Kau bukan pembalap reli.”
Saya pun mencari tempat parkir yang nyaman di SPBU itu dan memutuskan tidur di dalam mobil.
Mesin dimatikan, jendela dibuka sedikit.
Malam itu Innova 2014 saya berubah fungsi menjadi kamar hotel bintang nol setengah. Tidak ada resepsionis, tidak ada handuk lipat bentuk angsa, tidak ada sarapan gratis.
Tapi ada rasa aman, ada atap, dan ada kursi yang bisa direbahkan sambil bersyukur bahwa manusia ternyata bisa tidur di mana saja selama badan sudah kalah.
Jam 4 pagi saya bangun. Setelah salat Subuh, perjalanan saya lanjutkan lagi. Subuh di rest area kedua tol Pangkalan Brandan - Kisaran. Ada suasana yang sulit dijelaskan pada jalanan pagi buta: lampu-lampu masih menyala, langit belum benar-benar terang, dan kendaraan yang lewat terasa seperti orang-orang yang sedang membawa nasibnya masing-masing ke kota lain.
Saya istirahat dan sarapan di rest area 65A. Lalu perjalanan terus berlanjut sampai tiba di gerbang tol Kisaran. Di sinilah cerita mulai memasuki bab “orang sok hafal jalan yang akhirnya dipermalukan geografi”.
Keluar gerbang tol Kisaran, entah kenapa saya malah belok kanan ke arah Pane. Padahal seharusnya belok kiri. Mungkin otak saya sedang buffering. Mungkin setir terlalu enteng. Mungkin alam semesta sedang butuh hiburan.
Yang jelas, makin jauh saya melaju, jalan malah makin jelek. Dan jika jalan tiba-tiba memburuk padahal hati merasa harusnya tidak, biasanya ada dua kemungkinan: kita salah jalan, atau negara sedang menguji kesetiaan shockbreaker.
Akhirnya saya terpaksa memakai GPS.
Bukan Google Maps.
Bukan Waze.
Tapi Gunakan Penduduk Setempat.
Inilah GPS paling tua di Nusantara.
Akurasinya tinggi, sinyalnya stabil, dan satu-satunya kelemahan hanya kalau orang yang ditanya ternyata sama bingungnya dengan kita. Untung kali ini berhasil.
Saya putar balik ke arah yang benar. Tapi waktu yang hilang tetap hilang: sekitar satu jam melayang seperti uang receh yang jatuh di sela jok mobil.
Selepas itu, jalan Kisaran–Rantau Prapat menyambut saya dengan kepadatan luar biasa.
Dari kedua arah.
Truk.
Bus.
Mobil kecil.
Sepeda motor.
Semua seperti sedang ikut lomba siapa paling banyak memenuhi jalan. Belum lagi pekerjaan galian pipa dengan alat berat di lebih dari sepuluh titik.
Jalan menyempit.
Buka tutup diberlakukan.
Setiap beberapa ratus meter, laju kendaraan dipaksa menahan napas.
Kalau ada tempat yang bisa membuat manusia belajar sabar tanpa ikut seminar motivasi, mungkin salah satunya ya jalan seperti ini. Di situ kita paham bahwa kemajuan infrastruktur kadang memang lahir dari penderitaan pengguna jalan yang dipaksa merayap sambil memandangi pantat truk berjam-jam.
Menjelang Rantau Prapat saya berhenti makan siang di sebuah warung kecil di pinggir jalan.
Bukan restoran terkenal.
Bukan tempat yang akan direview food vlogger.
Tapi justru warung-warung kecil di pinggir jalan itulah benteng terakhir para musafir. Tempat di mana nasi hangat, sambal, dan lauk sederhana bisa terasa seperti jamuan kenegaraan.
Selesai makan, saya lanjut mengisi Pertalite full di SPBU pertama jalan lingkar. Totalnya Rp389.000 untuk jarak tempuh 385 kilometer sebelumnya. Setelah itu saya istirahat dan salat di SPBU kedua.
Dari Rantau Prapat menuju Riau, perjalanan kembali lancar. Entah kenapa, setelah melewati fase jalan padat, macet, salah belok, dan kantuk, aspal yang lancar terasa seperti hadiah. Saya berhenti lagi untuk salat Magrib jamak Isya di SPBU sebelum Bagan Batu. Setelah itu perjalanan diteruskan.
Malam makin tua. Saya makan malam di warung pecal lele pinggir jalan sekitar Bangko. Pecal lele di pinggir jalan pada jam-jam begitu punya kualitas filosofis yang tinggi: ia tidak berjanji mengubah hidup, tapi ia cukup untuk membuat kita kuat menghadapi sisa malam. Lele goreng, sambal, nasi hangat, dan teh—sering kali itulah definisi kebahagiaan yang paling jujur.
Tapi jalan malam tak selalu ramah. Lalu lintas padat merayap. Kantuk kembali menyerang. Kali ini lebih buas. Maka saya menepi ke Masjid Nurul Amal Km 3 Bangko. Rencananya mau menginap di sana. Dan begitulah malam kedua di perjalanan: saya, mobil, masjid, dan tubuh yang sudah tidak lagi peduli apakah tempat tidur ini empuk atau tidak.
Sekitar jam setengah empat pagi saya terbangun. Setelah bersih-bersih di kamar mandi masjid, saya bersiap berangkat lagi. Di luar, lalu lintas sudah padat. Truk, bus, mobil pribadi berlapis dari dua arah. Keluar dari parkiran masjid ke badan jalan pun perlu perjuangan tersendiri, seperti rakyat biasa yang hendak menyela rapat pejabat.
Perjalanan lanjut, tapi kantuk rupanya belum selesai menagih jatah. Mendekati simpang Bukit Timah, mata kembali berat. Saya pun menepi lagi ke sebuah masjid di sebelah kanan. Salat Subuh dulu, lalu lanjut tidur di dalam mobil. Begitulah kalau bepergian sendirian: ego harus tahu diri. Kalau tubuh minta berhenti, berhentilah. Sampai rumah cepat tapi selamat selalu lebih penting daripada memaksakan jadwal.
Matahari sudah naik waktu saya bangun.
Udara pagi mulai terasa biasa, tidak lagi sakral seperti sebelum Subuh.
Saya melanjutkan perjalanan dan sarapan nasi goreng sederhana di warung dekat gerbang tol Batin Solapan. Sarapan itu tidak mewah, tapi ia datang pada waktu yang tepat. Dan makanan yang datang pada waktu yang tepat hampir selalu terasa enak.
Akhirnya saya keluar di gerbang tol Rumbai. Di sana saya isi Pertalite full lagi. Jarak tempuh saat itu 345 kilometer, dengan biaya Rp300.000.
Kalau dihitung dari Aceh sampai titik itu, total perjalanan saya sudah mencapai 1.256 kilometer. Total biaya BBM yang keluar Rp1.069.000. Dan rumah tinggal sekitar empat puluh kilometer lagi.
Empat puluh kilometer.
Angka yang di awal perjalanan terasa sepele, tapi di ujung perjalanan panjang justru terasa seperti hadiah.
Seperti pengumuman bahwa penderitaan akan segera selesai.
Bahwa sebentar lagi kita tak perlu lagi mencari masjid untuk tidur, tak perlu lagi mengandalkan pisang goreng sebagai penopang moral, tak perlu lagi bersitegang dengan truk, bus, jalan rusak, dan rombongan kendaraan yang selalu merasa punya urusan lebih penting daripada kita.
Perjalanan ini panjang.
Melelahkan.
Dan kalau mau jujur, sedikit nekat juga.
Sendirian, menyetir lintas provinsi, tidur di mobil, tidur di SPBU, tidur di masjid, makan di warung-warung pinggir jalan, melawan kantuk berkali-kali, salah belok, terjebak padatnya Kisaran–Rantau Prapat, lalu terus lanjut seolah-olah tubuh ini terbuat dari baja dan kopi hitam.
Padahal tidak.
Tubuh tetap tubuh.
Bisa lelah.
Bisa salah.
Bisa goyah.
Bisa mengantuk di tengah jalan.
Bisa rindu rumah sebelum benar-benar sampai rumah.
Tapi mungkin justru di situlah indahnya perjalanan seperti ini: ia mengingatkan bahwa kita tidak harus selalu perkasa untuk bisa sampai.
Kadang kita hanya perlu cukup sabar, cukup waras untuk tahu kapan harus berhenti, dan cukup rendah hati untuk bertanya arah ketika nyasar.
Perjalanan jauh juga selalu punya cara sendiri untuk menyisakan oleh-oleh.
Bukan cuma foto, bukan cuma bon bensin, bukan cuma plastik berisi pisang goreng yang mulai melempem di jok belakang.
Tapi juga serpihan pengalaman yang diam-diam tinggal di kepala.
Saya akan ingat SPBU Ulee Gle dan makan siang yang mendadak terasa mewah karena sebuah kalimat sederhana tentang lauk ikan sembilang.
Saya akan ingat Cot Ie Ju dan pisang kepok tipis lebar yang renyah itu.
Saya akan ingat jembatan Kuta Blang yang disebut Selat Hormuz, tempat saya belajar bahwa bus rombongan haji punya kelas prioritas yang bahkan membuat hukum lalu lintas tampak lebih religius.
Saya akan ingat Jalan Elak, Bayu, Peureulak, Langsa, Kuala Simpang, Kisaran, Rantau Prapat, Bangko, Bukit Timah, Batin Solapan, dan Rumbai sebagai titik-titik kecil yang dijahit menjadi satu garis panjang bernama pulang.
Dan saya juga akan ingat Innova matic bensin tahun 2014 itu.
Mobil yang mungkin tidak muda lagi, tapi tetap setia membawa saya menelan ribuan kilometer.
Ia tidak protes.
Tidak mengeluh.
Hanya minta Pertalite, oli sehat, dan sesekali sopirnya jangan terlalu sok kuat.
Sampai akhirnya saya sadar, perjalanan seperti ini memang tidak selalu menghadirkan pemandangan spektakuler. Tidak selalu ada momen sinematik yang bisa dipajang sebagai kemenangan. Kadang isinya cuma jalan panjang, warung sederhana, antrean kendaraan, masjid pinggir jalan, rest area, dan rasa kantuk yang datang seperti debt collector.
Tapi justru dari hal-hal seperti itulah cerita dibentuk.
Dari berhenti karena lapar.
Dari menepi karena mengantuk.
Dari salah belok lalu putar balik.
Dari mengalah pada rombongan haji.
Dari tidur di mobil dengan jendela dibuka sedikit.
Dari salat di sela-sela perjalanan.
Dari lelah yang dipikul diam-diam.
Dari keinginan sederhana untuk sampai rumah dengan selamat.
Pada akhirnya, perjalanan ini bukan soal berapa cepat saya tiba.
Bukan juga soal seberapa hebat saya bisa menyetir sendirian lintas Aceh, Sumut, sampai Riau.
Ini lebih sederhana dari itu.
Ini soal pulang.
Soal menjaga diri agar tetap sadar kapan harus berhenti.
Soal menghormati tubuh yang lelah.
Soal mensyukuri jalan yang lancar dan menerima jalan yang macet.
Soal mengumpulkan cerita dari tempat-tempat yang bahkan tak pernah kita rencanakan untuk singgahi lama.
Dan soal memahami bahwa kadang, pengalaman paling berharga justru lahir dari perjalanan yang tidak sepenuhnya mulus.
Saya sampai bukan sebagai pahlawan.
Saya sampai sebagai pengemudi biasa yang kebetulan punya waktu, bensin, doa, dan cukup banyak pisang goreng untuk bertahan.
Dan untuk itu, semua kantuk, semua macet, semua salah belok, semua parkir darurat, semua nasi warung, semua kopi, semua lele, dan semua pisang goreng itu—senilai.
Dan itu sudah lebih dari cukup.
#CatatanPerjalanan
#BandaAcehKeRiau
#RoadTripSumatra
#Innova2014
#PerjalananPulang
#CeritaDariJalan
#SPBUUleeGle
#CotIeJu
#SelatHormuzKutaBlang
#Langsa
#RantauPrapat
#Bangko
#BatinSolapan
#PisangGoreng
#KopiHitam
#MusafirJalanan
#JalanPanjang
#CeritaMusafir
#PerjalananSendiri
#SampaiDenganSelamat










