Thursday, June 25, 2026

Catatan pulang dari Banda Aceh ke Riau: tentang jalan panjang, kantuk yang keras kepala, rombongan haji yang selalu didahulukan, dan betapa setianya Innova tua menelan aspal Sumatra

Ada perjalanan yang berangkat dengan rencana rapi, peta di kepala, tangki penuh, saldo kartu tol aman, dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.

Lalu ada perjalanan yang di tengah jalan disadarkan oleh hidup bahwa manusia hanyalah makhluk kecil yang mudah lapar, gampang mengantuk, dan sangat mungkin salah belok di Kisaran hanya karena terlalu percaya diri pada insting.

Ini cerita tentang jenis perjalanan yang kedua.

Jumat, 19 Juni kemarin, saya memulai perjalanan balik dari Banda Aceh ke Riau. 

Sendirian. 

Hanya saya, sebuah Toyota Innova matic bensin tahun 2014, beberapa botol air, kantuk yang belum tampak wujudnya, dan keyakinan berlebihan bahwa perjalanan jauh bisa dilibas dengan santai seperti pergi beli kopi ke ujung gang.

Pagi-pagi sekali, sekitar jam enam, saya isi Pertalite full tank di SPBU Cot Iri. Tangki penuh selalu memberi rasa aman yang menipu. 

Seolah-olah hidup ini sederhana: selama bensin penuh, semua urusan selesai. 

Padahal tidak. 

Ada urusan perut, urusan mata yang berat, urusan jalan rusak, urusan bus rombongan haji yang kalau muncul di belakang rasanya seperti konvoi kenegaraan, dan urusan salah belok yang diam-diam bisa menghapus sejam umur di jalan.

Saya meninggalkan rumah pukul 09.30 pagi. Tujuan pertama: tol Blang Bintang. Sebelum masuk tol, saya singgah di Indomaret di Jalan Blang Bintang lama untuk top up kartu tol sebesar lima ratus ribu rupiah. Nominal yang membuat kartu saya sejenak merasa jadi orang penting. Setelah itu saya masuk tol sekitar pukul 10.00.

Tol pagi itu lengang. 

Lancar. 

Sepi. 

Tidak banyak kendaraan. 

Aspal membentang seperti karpet hitam yang disiapkan khusus untuk kepergian saya. Mobil melaju tenang, langit terang, dan untuk sesaat saya merasa menjadi tokoh utama dalam film road trip yang anggarannya pas-pasan tapi sinematografinya bagus. Sekitar pukul 10.45 saya keluar tol, lalu perjalanan darat yang sesungguhnya pun dimulai.

Grong-grong lewat. Sigli lewat. Beureunuen lewat. Lueng Putu lewat. Jalan seperti pita panjang yang tak habis-habis, dibentangkan Tuhan untuk menguji sabar para pengemudi dan ketahanan bokong manusia.

Semula rencana saya sederhana: makan siang di Bireuen atau Matang Glumpang Dua. Itu rencana yang tampak dewasa, rasional, dan terukur. Tapi di jalan, rencana sering kalah oleh hal-hal yang lebih purba: kantuk dan lapar.

Di SPBU Ulee Gle saya melihat banyak kendaraan parkir. Itu tanda yang sering lebih jujur daripada review Google. Kalau banyak orang berhenti, biasanya ada sesuatu yang layak diperjuangkan: entah kopi, nasi, atau toilet yang tidak terlalu menyiksa. Saya pun ikut parkir.

Niat awal saya cuma satu: ngopi sederhana, ditemani sekerat pisang raja goreng jumbo, lalu lanjut jalan. Sesederhana itu. Sebab dalam hidup, sering kali yang kita butuhkan hanya secangkir kopi dan gorengan yang tidak pelit minyak.

Tapi rupanya takdir makan siang saya sedang disusun lebih dramatis.

Di warung itu saya mendengar seorang ibu penjual nasi menawarkan kepada seorang dhuafa dengan kalimat yang sangat sederhana, sangat biasa, tapi entah kenapa menampar batin dengan lembut: “Lauk ikan sembilang mau?”

https://darirantau.blogspot.com/2026/06/jumat-di-ulee-gle-saat-kaum-jelata.html

Kalimat itu tidak panjang. 

Tidak puitis. 

Tidak berlagu. 

Tapi di sana, di tengah perjalanan, di tengah rasa kantuk dan lapar, kalimat itu terasa seperti pelajaran yang diam-diam menyamar jadi percakapan warung. 

Ada kemurahan hati yang tidak perlu panggung. 

Ada kebaikan yang tidak butuh kamera. 

Ada kelapangan yang tidak diposting dengan caption motivasi.

Maka dari sekadar ngopi dan sepotong pisang goreng, siang saya berbelok menjadi makan siang yang mewah—mewah bukan karena menunya mahal, tapi karena suasananya membuat hati ikut kenyang. Kadang yang membuat makanan terasa istimewa bukan lauknya, tapi pemandangan kecil tentang kemanusiaan yang ikut tersaji di meja.


Setelah makan, perjalanan saya lanjutkan. Jalanan masih relatif sepi karena waktu Jumat sudah masuk. Ada semacam keuntungan spiritual dan lalu lintas di jam-jam begitu: banyak orang sedang menunaikan kewajiban, dan jalan memberi ruang lebih lapang bagi mereka yang masih menggilas kilometer.

Perjalanan terus mulus sampai melewati Bireuen. Lalu tibalah saya di Cot Ie Ju—tempat godaan duniawi berikutnya menunggu dalam bentuk yang amat berbahaya: pisang goreng.

Di sana tersedia tiga jenis.

Pisang tanduk goreng.

Pisang raja goreng.

Dan satu lagi yang langsung membuat saya takluk tanpa syarat: pisang kepok yang diiris tipis lalu digoreng membentuk lembaran lebar.

Ini favorit saya.

Saya tidak tahu siapa manusia pertama yang punya ide mengiris pisang kepok tipis-tipis lalu menggorengnya jadi lembaran lebar renyah, tapi orang itu layak mendapat tempat terhormat dalam sejarah kuliner Nusantara. Sebab tidak semua penemuan besar lahir di laboratorium. Sebagian lahir di wajan, dari tangan orang-orang sederhana yang paham bahwa kebahagiaan bisa dijual seribu-seribu di pinggir jalan.

Pisang goreng model begini bukan sekadar kudapan. Ia adalah ide besar peradaban. Tipis, lebar, renyah, manis samar, dan punya kemampuan menghapus niat diet tanpa perlu berdebat. Saya membeli pisang tanduk dan pisang kepok. Pisang raja saya abaikan bukan karena tidak enak, tapi karena dalam hidup kita harus belajar memilih, meski pilihan itu sama-sama digoreng dalam minyak panas.


Setelah itu, perjalanan berlanjut menuju salah satu titik paling sensitif di jalur itu: jembatan Kuta Blang, yang oleh warga setempat diberi nama dengan penuh imajinasi geopolitik: Selat Hormuz.

Nama itu terlalu besar untuk sebuah jembatan di jalur darat, tapi justru di situlah letak keindahannya. 

Orang Aceh dan Sumatra memang punya bakat memberi nama yang membuat tempat sederhana terasa seperti simpul nasib dunia. 

Dan benar saja, mendekati lokasi itu, antrean kendaraan mulai bergerak pelan. 

Pelan sekali. 

Lalu ketika tinggal satu mobil lagi sebelum giliran saya melintas, arus lalu lintas dihentikan.

Dari belakang, muncullah bus rombongan haji dari Langsa. Datangnya bukan diam-diam. Mereka datang dengan pengawalan lengkap: polisi, Dishub, dan aura prioritas yang tidak bisa dibantah. 

Mereka mendesak masuk ke depan, dan saya hanya bisa menatap dengan pasrah seorang rakyat jelata yang tahu posisinya di hadapan tamu-tamu Allah yang baru pulang.

Biarlah, batin saya.

Untuk berangkat haji antrinya terlalu lama.

Giliran pulang, masa tidak boleh cepat.

Saya ikhlas. 

Betul-betul ikhlas. 

Toh dalam hidup, kita semua pernah ada di posisi harus mengalah kepada rombongan yang lebih penting. 

Kadang rombongan haji. 

Kadang truk sawit. 

Kadang mantan yang sudah duluan move on.


Begitu rombongan bus lewat, kami yang di belakang buru-buru mengekor. Ada naluri kolektif yang tiba-tiba hidup: kalau ada celah, ikutlah. Maka perjalanan saya berubah. Sekarang lajunya ditentukan oleh bus rombongan haji di depan. Dan karena bus itu juga tidak bisa ngebut, kami semua pun bergerak dalam kecepatan takdir.

Di Krueng Mane, rombongan berbelok ke kanan melewati Jalan Elak yang tembus ke Buket Rata, jadi tidak melewati Lhokseumawe. Saya ikut arus itu. Kadang dalam perjalanan, keputusan terbaik memang bukan hasil perencanaan matang, tapi sekadar ikut kendaraan di depan yang tampak tahu jalan.

Di daerah Bayu, pada lokasi perbaikan jalan, lagi-lagi rombongan haji mendapat prioritas. Kali ini saya malah terbantu. Tinggal ikut mereka saja seperti anak ayam ikut induk, meski induknya berbentuk bus besar dengan spanduk jamaah. Dalam kondisi jalan sempit, perbaikan di sana-sini, dan lalu lintas yang suka berubah perangai, punya “pembuka jalan” semacam itu jelas berkah terselubung.

Rombongan bus akhirnya berbelok ke Masjid Raya Bayu untuk salat Ashar. 

Saya tidak ikut masuk. 

Saya lanjut dulu, lalu setengah jam kemudian berhenti untuk salat Ashar jamak dengan Zuhur. 

Ada nikmat tersendiri dalam salat di tengah perjalanan panjang: tubuh letih, mata berat, tapi ada jeda yang membuat jiwa seperti direbahkan sebentar di tempat yang teduh.

Setelah itu, tanpa bus di depan, perjalanan terasa lebih lancar. Menjelang magrib saya mencapai Peureulak. Sekalian saya berhenti untuk salat Magrib jamak dengan Isya. Jalan jauh memang mengajarkan banyak hal, salah satunya: waktu tempuh boleh panjang, tapi yang membuat kita tetap waras sering kali adalah jeda-jeda kecil yang teratur—salat, kopi, cuci muka, meregangkan kaki, atau sekadar memandang langit sambil bertanya kenapa perjalanan pulang selalu terasa lebih melelahkan daripada pergi.

Malam turun, dan saya sampai di Simpang Commodore, Langsa. Di sana saya berhenti makan malam di Warung Cek Da. Tidak ada yang istimewa, dan justru itu yang istimewa. Sebab tidak semua tempat makan harus heroik. 

Ada warung yang tugasnya memang cuma satu: menyelamatkan manusia dari kelaparan malam, tanpa perlu plating cantik, tanpa ambience industrial, tanpa menu fusion yang bikin dompet trauma.


Perut terisi, perjalanan lanjut lagi. Setelah melewati Kuala Simpang saya berhenti di SPBU dan mengisi Pertalite karena jarum bensin sudah jauh di bawah separuh. Total pengisian sampai full: Rp380.000, dengan jarak tempuh 439 kilometer.

Lalu datanglah musuh yang dari tadi hanya mengintai dari jauh: kantuk.

Bukan kantuk ringan yang masih bisa diajak kompromi. 

Ini kantuk yang sudah duduk di pundak, memijat pelupuk mata, lalu berbisik, “Sudah. Menepi saja. Kau bukan pembalap reli.”

Saya pun mencari tempat parkir yang nyaman di SPBU itu dan memutuskan tidur di dalam mobil. 

Mesin dimatikan, jendela dibuka sedikit. 

Malam itu Innova 2014 saya berubah fungsi menjadi kamar hotel bintang nol setengah. Tidak ada resepsionis, tidak ada handuk lipat bentuk angsa, tidak ada sarapan gratis. 

Tapi ada rasa aman, ada atap, dan ada kursi yang bisa direbahkan sambil bersyukur bahwa manusia ternyata bisa tidur di mana saja selama badan sudah kalah.

Jam 4 pagi saya bangun. Setelah salat Subuh, perjalanan saya lanjutkan lagi. Subuh di rest area kedua tol Pangkalan Brandan - Kisaran. Ada suasana yang sulit dijelaskan pada jalanan pagi buta: lampu-lampu masih menyala, langit belum benar-benar terang, dan kendaraan yang lewat terasa seperti orang-orang yang sedang membawa nasibnya masing-masing ke kota lain.

Saya istirahat dan sarapan di rest area 65A. Lalu perjalanan terus berlanjut sampai tiba di gerbang tol Kisaran. Di sinilah cerita mulai memasuki bab “orang sok hafal jalan yang akhirnya dipermalukan geografi”.


Keluar gerbang tol Kisaran, entah kenapa saya malah belok kanan ke arah Pane. Padahal seharusnya belok kiri. Mungkin otak saya sedang buffering. Mungkin setir terlalu enteng. Mungkin alam semesta sedang butuh hiburan. 

Yang jelas, makin jauh saya melaju, jalan malah makin jelek. Dan jika jalan tiba-tiba memburuk padahal hati merasa harusnya tidak, biasanya ada dua kemungkinan: kita salah jalan, atau negara sedang menguji kesetiaan shockbreaker.

Akhirnya saya terpaksa memakai GPS.

Bukan Google Maps.

Bukan Waze.

Tapi Gunakan Penduduk Setempat.

Inilah GPS paling tua di Nusantara. 

Akurasinya tinggi, sinyalnya stabil, dan satu-satunya kelemahan hanya kalau orang yang ditanya ternyata sama bingungnya dengan kita. Untung kali ini berhasil. 

Saya putar balik ke arah yang benar. Tapi waktu yang hilang tetap hilang: sekitar satu jam melayang seperti uang receh yang jatuh di sela jok mobil.

Selepas itu, jalan Kisaran–Rantau Prapat menyambut saya dengan kepadatan luar biasa. 

Dari kedua arah. 

Truk. 

Bus. 

Mobil kecil. 

Sepeda motor. 

Semua seperti sedang ikut lomba siapa paling banyak memenuhi jalan. Belum lagi pekerjaan galian pipa dengan alat berat di lebih dari sepuluh titik. 

Jalan menyempit. 

Buka tutup diberlakukan. 

Setiap beberapa ratus meter, laju kendaraan dipaksa menahan napas.


Kalau ada tempat yang bisa membuat manusia belajar sabar tanpa ikut seminar motivasi, mungkin salah satunya ya jalan seperti ini. Di situ kita paham bahwa kemajuan infrastruktur kadang memang lahir dari penderitaan pengguna jalan yang dipaksa merayap sambil memandangi pantat truk berjam-jam.

Menjelang Rantau Prapat saya berhenti makan siang di sebuah warung kecil di pinggir jalan. 

Bukan restoran terkenal. 

Bukan tempat yang akan direview food vlogger. 

Tapi justru warung-warung kecil di pinggir jalan itulah benteng terakhir para musafir. Tempat di mana nasi hangat, sambal, dan lauk sederhana bisa terasa seperti jamuan kenegaraan.

Selesai makan, saya lanjut mengisi Pertalite full di SPBU pertama jalan lingkar. Totalnya Rp389.000 untuk jarak tempuh 385 kilometer sebelumnya. Setelah itu saya istirahat dan salat di SPBU kedua.

Dari Rantau Prapat menuju Riau, perjalanan kembali lancar. Entah kenapa, setelah melewati fase jalan padat, macet, salah belok, dan kantuk, aspal yang lancar terasa seperti hadiah. Saya berhenti lagi untuk salat Magrib jamak Isya di SPBU sebelum Bagan Batu. Setelah itu perjalanan diteruskan.

Malam makin tua. Saya makan malam di warung pecal lele pinggir jalan sekitar Bangko. Pecal lele di pinggir jalan pada jam-jam begitu punya kualitas filosofis yang tinggi: ia tidak berjanji mengubah hidup, tapi ia cukup untuk membuat kita kuat menghadapi sisa malam. Lele goreng, sambal, nasi hangat, dan teh—sering kali itulah definisi kebahagiaan yang paling jujur.

Tapi jalan malam tak selalu ramah. Lalu lintas padat merayap. Kantuk kembali menyerang. Kali ini lebih buas. Maka saya menepi ke Masjid Nurul Amal Km 3 Bangko. Rencananya mau menginap di sana. Dan begitulah malam kedua di perjalanan: saya, mobil, masjid, dan tubuh yang sudah tidak lagi peduli apakah tempat tidur ini empuk atau tidak.

Sekitar jam setengah empat pagi saya terbangun. Setelah bersih-bersih di kamar mandi masjid, saya bersiap berangkat lagi. Di luar, lalu lintas sudah padat. Truk, bus, mobil pribadi berlapis dari dua arah. Keluar dari parkiran masjid ke badan jalan pun perlu perjuangan tersendiri, seperti rakyat biasa yang hendak menyela rapat pejabat.


Perjalanan lanjut, tapi kantuk rupanya belum selesai menagih jatah. Mendekati simpang Bukit Timah, mata kembali berat. Saya pun menepi lagi ke sebuah masjid di sebelah kanan. Salat Subuh dulu, lalu lanjut tidur di dalam mobil. Begitulah kalau bepergian sendirian: ego harus tahu diri. Kalau tubuh minta berhenti, berhentilah. Sampai rumah cepat tapi selamat selalu lebih penting daripada memaksakan jadwal.


Matahari sudah naik waktu saya bangun. 

Udara pagi mulai terasa biasa, tidak lagi sakral seperti sebelum Subuh. 

Saya melanjutkan perjalanan dan sarapan nasi goreng sederhana di warung dekat gerbang tol Batin Solapan. Sarapan itu tidak mewah, tapi ia datang pada waktu yang tepat. Dan makanan yang datang pada waktu yang tepat hampir selalu terasa enak.

Akhirnya saya keluar di gerbang tol Rumbai. Di sana saya isi Pertalite full lagi. Jarak tempuh saat itu 345 kilometer, dengan biaya Rp300.000.


Kalau dihitung dari Aceh sampai titik itu, total perjalanan saya sudah mencapai 1.256 kilometer. Total biaya BBM yang keluar Rp1.069.000. Dan rumah tinggal sekitar empat puluh kilometer lagi.

Empat puluh kilometer.

Angka yang di awal perjalanan terasa sepele, tapi di ujung perjalanan panjang justru terasa seperti hadiah. 

Seperti pengumuman bahwa penderitaan akan segera selesai. 

Bahwa sebentar lagi kita tak perlu lagi mencari masjid untuk tidur, tak perlu lagi mengandalkan pisang goreng sebagai penopang moral, tak perlu lagi bersitegang dengan truk, bus, jalan rusak, dan rombongan kendaraan yang selalu merasa punya urusan lebih penting daripada kita.

Perjalanan ini panjang. 

Melelahkan. 

Dan kalau mau jujur, sedikit nekat juga. 

Sendirian, menyetir lintas provinsi, tidur di mobil, tidur di SPBU, tidur di masjid, makan di warung-warung pinggir jalan, melawan kantuk berkali-kali, salah belok, terjebak padatnya Kisaran–Rantau Prapat, lalu terus lanjut seolah-olah tubuh ini terbuat dari baja dan kopi hitam.

Padahal tidak.

Tubuh tetap tubuh. 

Bisa lelah. 

Bisa salah. 

Bisa goyah. 

Bisa mengantuk di tengah jalan. 

Bisa rindu rumah sebelum benar-benar sampai rumah. 

Tapi mungkin justru di situlah indahnya perjalanan seperti ini: ia mengingatkan bahwa kita tidak harus selalu perkasa untuk bisa sampai. 

Kadang kita hanya perlu cukup sabar, cukup waras untuk tahu kapan harus berhenti, dan cukup rendah hati untuk bertanya arah ketika nyasar.

Perjalanan jauh juga selalu punya cara sendiri untuk menyisakan oleh-oleh. 

Bukan cuma foto, bukan cuma bon bensin, bukan cuma plastik berisi pisang goreng yang mulai melempem di jok belakang. 

Tapi juga serpihan pengalaman yang diam-diam tinggal di kepala.

Saya akan ingat SPBU Ulee Gle dan makan siang yang mendadak terasa mewah karena sebuah kalimat sederhana tentang lauk ikan sembilang.

Saya akan ingat Cot Ie Ju dan pisang kepok tipis lebar yang renyah itu.

Saya akan ingat jembatan Kuta Blang yang disebut Selat Hormuz, tempat saya belajar bahwa bus rombongan haji punya kelas prioritas yang bahkan membuat hukum lalu lintas tampak lebih religius.

Saya akan ingat Jalan Elak, Bayu, Peureulak, Langsa, Kuala Simpang, Kisaran, Rantau Prapat, Bangko, Bukit Timah, Batin Solapan, dan Rumbai sebagai titik-titik kecil yang dijahit menjadi satu garis panjang bernama pulang.

Dan saya juga akan ingat Innova matic bensin tahun 2014 itu. 

Mobil yang mungkin tidak muda lagi, tapi tetap setia membawa saya menelan ribuan kilometer. 

Ia tidak protes. 

Tidak mengeluh. 

Hanya minta Pertalite, oli sehat, dan sesekali sopirnya jangan terlalu sok kuat.

Sampai akhirnya saya sadar, perjalanan seperti ini memang tidak selalu menghadirkan pemandangan spektakuler. Tidak selalu ada momen sinematik yang bisa dipajang sebagai kemenangan. Kadang isinya cuma jalan panjang, warung sederhana, antrean kendaraan, masjid pinggir jalan, rest area, dan rasa kantuk yang datang seperti debt collector.

Tapi justru dari hal-hal seperti itulah cerita dibentuk.

Dari berhenti karena lapar.

Dari menepi karena mengantuk.

Dari salah belok lalu putar balik.

Dari mengalah pada rombongan haji.

Dari tidur di mobil dengan jendela dibuka sedikit.

Dari salat di sela-sela perjalanan.

Dari lelah yang dipikul diam-diam.

Dari keinginan sederhana untuk sampai rumah dengan selamat.

Pada akhirnya, perjalanan ini bukan soal berapa cepat saya tiba. 

Bukan juga soal seberapa hebat saya bisa menyetir sendirian lintas Aceh, Sumut, sampai Riau. 

Ini lebih sederhana dari itu.

Ini soal pulang.

Soal menjaga diri agar tetap sadar kapan harus berhenti.

Soal menghormati tubuh yang lelah.

Soal mensyukuri jalan yang lancar dan menerima jalan yang macet.

Soal mengumpulkan cerita dari tempat-tempat yang bahkan tak pernah kita rencanakan untuk singgahi lama.

Dan soal memahami bahwa kadang, pengalaman paling berharga justru lahir dari perjalanan yang tidak sepenuhnya mulus.

Saya sampai bukan sebagai pahlawan.

Saya sampai sebagai pengemudi biasa yang kebetulan punya waktu, bensin, doa, dan cukup banyak pisang goreng untuk bertahan.

Dan untuk itu, semua kantuk, semua macet, semua salah belok, semua parkir darurat, semua nasi warung, semua kopi, semua lele, dan semua pisang goreng itu—senilai.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

#CatatanPerjalanan 

#BandaAcehKeRiau 

#RoadTripSumatra 

#Innova2014 

#PerjalananPulang 

#CeritaDariJalan 

#SPBUUleeGle 

#CotIeJu 

#SelatHormuzKutaBlang 

#Langsa 

#RantauPrapat 

#Bangko 

#BatinSolapan 

#PisangGoreng 

#KopiHitam 

#MusafirJalanan 

#JalanPanjang 

#CeritaMusafir 

#PerjalananSendiri 

#SampaiDenganSelamat

Wednesday, June 24, 2026

Jumat di Ulee Gle: Saat Kaum Jelata Bertemu Lauk Sultan

Jumat kemarin, di tengah perjalanan panjang dari Banda Aceh menuju Riau, saya singgah di SPBU Ulee Gle. Singgah yang awalnya cuma diniatkan sebagai jeda. Jeda dari setir, dari jalan, dari kantuk yang mulai menagih haknya, dan dari pikiran yang sejak pagi berisik sendiri seperti knalpot bocor. Mata sudah mulai berat. Kelopak seperti sedang rapat internal, membahas kemungkinan mogok kerja. Kepala mulai mengangguk-angguk kecil, semacam salam hormat kepada bahaya. Maka saya menepi. Menyelamatkan diri. Sebab orang bijak tahu, rasa kantuk di jalan bukan isyarat untuk sok perkasa, melainkan panggilan suci untuk berhenti sejenak, ngopi, dan menata ulang hidup—atau setidaknya menata ulang denyut jantung.

Di warung kecil di area SPBU itu, saya memesan kopi hitam. Gulanya sedikit saja. Bukan karena saya sedang menjaga pola hidup sehat. Bukan pula karena saya sedang menempuh jalan spiritual menuju hidup tanpa manis-manis berlebihan. Tidak. Alasannya sederhana: saya memang maunya begitu. Kopi pahit sedikit manis. Biar ada rasa dewasa, tapi tidak sampai terasa seperti minum kekecewaan mantan.

Saya ini bukan penikmat kopi. 

Bukan penggemar kopi. 

Saya tidak paham perbedaan body, acidity, fruity notes, floral notes, earthy notes, dan segala notes lain yang membuat secangkir kopi terdengar seperti hasil rapat besar para penyair dan ahli botani. 

Bagi saya, kopi ya kopi. 

Hitam. 

Panas. 

Bisa diminum. 

Kalau habis lalu mata agak melek, berarti fungsinya berjalan. 

Maka ketika kopi itu datang, saya seruput perlahan, sambil mencoba menghormati profesi para peminum kopi sejati. 

Saya rasakan. 

Saya timbang-timbang. 

Saya ajak lidah bermusyawarah.

Kesimpulannya: biasa saja.

Bahkan sangat biasa.

Kopi itu tidak buruk. Tidak juga istimewa. Ia bukan kopi yang akan membuat saya terharu lalu ingin menelepon ibu di kampung. Bukan kopi yang akan membuat saya menulis puisi tentang hujan, tanah basah, dan luka batin yang belum lunas. Bukan. Ia kopi yang sederhana. Jujur. Tidak sok eksklusif. Tidak berusaha tampil sebagai minuman kaum intelektual yang diminum sambil menatap senja dan berpikir tentang masa depan bangsa. Ia cuma kopi. Hadir, diminum, habis, selesai. Dan barangkali justru di situlah letak kemuliaannya. Tidak semua yang kita jumpai dalam hidup harus spektakuler. Ada yang memang diciptakan untuk sekadar menemani kantuk lewat.

Saya duduk sambil menyeruput kopi, mengamati warung, meja, piring-piring, lalu lintas orang, dan suara-suara kecil yang sering kali lebih jujur daripada pidato panjang para pejabat. Di luar warung, ada seorang kaum dhuafa duduk di kursi roda. Wajahnya tenang, tubuhnya ringkih, dan ia duduk di sana seperti bagian dari pemandangan siang itu—sunyi, biasa, nyaris tak dianggap. Lalu saya mendengar ibu-ibu penjual makan siang menawarkan lauk kepadanya.

“Lauk ikan sembilang mau?” katanya.

Saya berhenti sejenak.

Ikan sembilang?

Di telinga orang-orang tertentu, mungkin itu hanya nama lauk. Biasa saja. Sama seperti menyebut ikan tongkol, ikan lele, atau ikan asin. Tapi bagi kami, kaum ekonomi bawah yang kadang harus menimbang lauk dengan kalkulator batin, sembilang bukan sekadar ikan. Ia adalah legenda. Ia aristokrat dunia perairan. Ia lauk bangsawan yang kadang nyasar ke meja rakyat jelata karena belas kasihan nasib.

Ikan sembilang itu mahal.

Langka.

Tidak setiap hari ada di pasar.

Kalau pun ada, belum tentu kita tega membelinya. Kadang kita cuma berdiri di depan lapak, menatapnya dengan hormat, lalu beralih membeli tempe sambil menenangkan hati: yang penting sama-sama protein. Padahal jauh di dalam dada, ada bagian kecil dari jiwa yang berbisik, “Andai gajian masih panjang dan harga cabai tidak sekejam ini…”

Sembilang itu juga bukan ikan yang bisa diperlakukan sembarangan. Ia harus masih hidup ketika hendak dimasak. Sebab kalau sudah terlalu lama mati, rasanya bisa hambar. Dan bagi lauk semahal itu, hambar adalah penghinaan. Membeli sembilang mati lalu rasanya datar itu ibarat membeli jas pengantin mahal, tapi yang datang cuma sarung bantal. Menyakitkan. Maka sembilang menuntut kesegaran, perhatian, dan perlakuan yang hampir romantis.

Sejak mendengar kalimat “lauk ikan sembilang mau?”, fokus saya kepada kopi mendadak goyah. Kantuk pun minggir pelan-pelan, mungkin tersinggung karena posisinya direbut seekor ikan. Dalam kepala saya mulai berlangsung rapat darurat. Ada suara hati yang berkata, sudah, ngopi saja, lanjut jalan. Ada suara lain yang lebih jujur dan lebih rakus berbisik, kapan lagi ketemu sembilang?.

Kopi saya habiskan. Gelas kosong saya letakkan. Lalu saya berjalan mendekati rak nasi dengan perasaan campur aduk seperti anak sekolah yang mau beli mainan mahal tapi uang jajannya terbatas. Di sana tersusun lauk-pauk, sayur, dan kuah-kuah yang menggoda iman. Saya bilang ingin makan dengan lauk ikan sembilang. Tersedia asam keueung.

Asam keueung sembilang.

Nah, ini bukan kalimat biasa. Ini adalah undangan resmi dari takdir.

“Ambil saja sendiri,” kata ibu pemilik rak nasi.

Sebuah kalimat sederhana yang bagi orang lapar terdengar seperti mandat kenegaraan. Saya pun mengambil piring, menakar nasi, lalu berdiri di hadapan rak lauk seperti penjelajah yang baru menemukan peradaban baru.

Saya ambil nasi secukupnya. Tidak terlalu banyak. Saya masih berusaha menjaga citra sebagai manusia waras yang datang untuk makan siang, bukan membalas dendam kepada masa kecil. Lalu mata saya tertumbuk pada pecal. Pecal Aceh. Sayurannya menggoda. Bumbunya mengundang. Saya ambil. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat piring mulai tampak seperti peta konflik rasa yang menjanjikan.

Di sebelahnya ada kuah pliek. Saya ambil juga. Ini bukan soal lapar semata. Ini soal prinsip. Kalau sudah singgah di warung Aceh dan tersedia kuah pliek, menolaknya tanpa alasan kuat terasa seperti melewatkan salam dari tradisi. Kuah pliek itu bukan sekadar kuah. Ia semacam museum rasa yang cair, tempat kelapa, rempah, dan sejarah rumah tangga Aceh berkumpul dalam satu sendok. Aromanya punya kewibawaan. Warnanya punya cerita.

Lalu ada asam udeung.

Saya memandangnya beberapa detik, lalu memutuskan tidak mengambil.

Bukan karena tidak suka. Bukan karena sedang bermusuhan dengan udang. Sama sekali tidak. Saya hanya takut kombinasi rasa di piring saya nanti terlalu ramai. Ikan sembilang asam keueung, pecal, kuah pliek—itu sudah seperti tiga tokoh utama dalam satu panggung. Kalau ditambah asam udeung, saya khawatir meja makan berubah menjadi konser besar yang terlalu bising. Lidah saya ini rakyat biasa. 

Ia punya keterbatasan. 

Ia butuh kestabilan politik.

“Mau badan atau kepala ikan?” tanya ibu itu.

Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tapi bagi saya, itu seperti pertanyaan hidup yang menuntut kebijaksanaan, keberanian, dan perhitungan ekonomi.

Kepala atau badan?

Bagi ikan jenis ini, kepala bukan bagian sisa. 

Kepala adalah mahkota. 

Kepala adalah tahta. 

Kepala adalah milik para sultan. 

Di situlah kenikmatan bersemayam, tapi di situlah juga harga menunjukkan taringnya. 

Kepala sembilang bukan lauk, melainkan investasi jangka pendek yang bisa menggoyang anggaran perjalanan.

Dalam sepersekian detik, saya berdialog dengan isi dompet, dengan nalar, dengan harga diri, dan dengan bayangan kebutuhan bensin di perjalanan berikutnya.

Lalu saya menjawab dengan rendah hati, penuh kesadaran kelas, dan sedikit getir yang saya bungkus dengan senyum:

“Badan saja, Bu.”

Begitulah. 

Di hadapan kepala ikan sembilang, saya kembali sadar diri sebagai rakyat jelata yang tahu batas antara hasrat dan kemampuan. Sultan itu indah, tapi premium. Sementara saya masih harus melanjutkan perjalanan. Masih harus menjaga agar dompet tidak tiba-tiba masuk ICU.

Ikan itu lalu ditaruh di piring kecil terpisah. Kuah asam keueung merahnya menyala seperti senja yang sedang marah. Potongan sembilangnya berbaring tenang di tengah kuah, seolah tahu dirinya bukan ikan sembarangan. Piring hijau kecil itu mendadak tampak megah. Tidak mewah dalam pengertian restoran berbintang, bukan. Mewah dalam cara yang lebih tua dan lebih jujur: lauk bagus, dimasak benar, disajikan tanpa drama, lalu dimakan oleh orang lapar yang tahu betul nilai setiap suapan.

Saya kembali ke meja.

Di depan saya kini terhidang satu set makan siang yang kalau difoto mungkin tampak sederhana, tapi bagi perut dan batin saya siang itu, ia setara jamuan kenegaraan. 

Ada nasi putih. 

Ada pecal Aceh. 

Ada kuah pliek. 

Ada sembilang asam keueung. 

Di satu sisi, kopi hitam tadi sudah tinggal kenangan. 

Di sisi lain, pisang raja goreng ukuran jumbo menunggu entah sebagai pembuka, penutup, atau bonus takdir.

Saya mulai dari kuah asam keueung sembilang.

Suapan pertama itu seperti tamparan lembut dari kampung halaman. 

Asamnya pas. 

Pedasnya tidak sok jagoan, tapi cukup untuk membuat lidah melek dan kening sedikit berkeringat. Kuahnya kaya, otentik, dan tidak bertele-tele. 

Tidak ada upaya untuk tampil modern. 

Tidak ada plating aneh-aneh. 

Tidak ada daun mint nyasar di atas ikan untuk pura-pura estetik. 

Ini masakan yang tahu identitasnya. Ia lahir untuk dimakan, bukan untuk difoto dua puluh kali lalu dibiarkan dingin.

Daging sembilangnya lembut, gurih, dan punya rasa yang tidak bisa dipalsukan. Ada semacam kedalaman rasa yang hanya dimiliki bahan bagus dan tangan masak yang paham apa yang sedang dikerjakan. Saya makan perlahan. Bukan karena ingin tampak beradab, tapi karena sungguh sayang kalau lauk begini ditelan terburu-buru seperti dikejar debt collector.

Lalu saya pindah ke pecal.

Pecal Aceh ini seperti tetangga ramah yang tahu kapan harus bercanda dan kapan harus diam. Sayurannya segar, bumbunya bersahaja, dan kehadirannya menenangkan kegaduhan asam keueung. Di sela rasa tajam kuah sembilang, pecal datang sebagai penyeimbang. Ia seperti teman yang menepuk bahu kita sambil berkata, “Sudah, jangan terlalu emosional. Makan saja dulu.”

Kuah pliek pun tak mau kalah. Ia masuk ke piring saya seperti tokoh senior yang tidak banyak bicara tapi sekali hadir langsung menguasai ruangan. Ada rasa khas yang dalam, sedikit liar, sedikit rumit, tapi sangat Aceh. Ia bukan jenis kuah yang gampang dipahami sekali cicip. Ia harus dihormati. Dikenali pelan-pelan. Dan ketika cocok, ia akan tinggal di ingatan lebih lama daripada beberapa nama pejabat daerah.

Saya makan sambil sesekali memandang piring kecil sembilang itu. Aneh juga, pikir saya. Tadi saya singgah cuma karena ngantuk dan ingin kopi. Saya bahkan bukan peminum kopi. Kopinya pun biasa saja. Sangat biasa. Tapi justru di warung kecil yang kopinya biasa itulah saya menemukan makan siang yang luar biasa. 

Kadang hidup memang suka bercanda. 

Kita datang mencari satu hal, pulangnya membawa cerita lain. 

Kita menepi hanya untuk istirahat, eh malah bertemu lauk yang biasanya cuma lewat di angan-angan.

Dan yang paling menggetarkan justru momen ketika ibu penjual tadi menawarkan lauk sembilang kepada seorang kaum dhuafa di kursi roda.

Saya tidak tahu apakah bapak itu jadi makan sembilang atau tidak. Tapi adegan kecil itu menempel di kepala saya lebih kuat daripada rasa kopi. Ada sesuatu yang halus, yang tak ribut, yang membuat siang itu terasa hangat. Di tengah tempat singgah sederhana, di tepi jalan, di warung SPBU yang mungkin bagi banyak orang cuma tempat lewat, ada kemurahan hati yang bekerja tanpa perlu spanduk dan pidato. Tidak semua kebaikan datang dengan suara besar. Ada yang datang pelan, dengan celemek dapur, dengan tangan yang sibuk melayani, dengan kalimat singkat: “Lauk ikan sembilang mau?”

Dan kalimat itu, entah kenapa, terasa lebih mewah daripada nama-nama menu mahal di restoran kota.

Karena hidup memang begitu. Kadang kemewahan bukan soal ruangan ber-AC, kursi empuk, musik jazz, dan tagihan yang bikin kita menelan ludah. 

Kadang kemewahan adalah saat lauk mahal hadir di meja orang yang membutuhkannya. 

Kadang kemewahan adalah kesempatan makan enak di tengah perjalanan panjang, saat tubuh lelah, mata berat, dan hati sedang tidak meminta banyak. 

Kadang kemewahan adalah warung sederhana yang tidak berisik mempromosikan diri, tapi diam-diam menyajikan rasa otentik dengan harga yang nyaris terasa salah ketik.

Nah, soal harga ini saya memang harus memberi hormat.

Setelah semua itu: makan nasi, pecal, kuah pliek, asam keueung sembilang, kopi hitam sedikit gula, plus pisang raja goreng ukuran jumbo…

Totalnya 27 ribu rupiah.

Dua puluh tujuh ribu.

Saya ulangi sekali lagi supaya hati kita sama-sama sempat merenung:

dua puluh tujuh ribu rupiah.

Di zaman ketika segelas kopi di tempat tertentu bisa dihargai seolah biji kopinya ditanam sambil dibacakan puisi oleh malaikat, angka 27 ribu untuk paket seindah ini terasa seperti kabar gembira nasional. Di beberapa tempat, uang segitu mungkin baru cukup untuk kopi dan gengsi. Di sini, ia menjelma makan siang lengkap, kopi, pisang goreng jumbo, dan bonus rasa syukur yang tidak masuk struk.

Saya bahkan sempat curiga. Jangan-jangan ibu warung salah hitung. Jangan-jangan saya sedang diuji integritas. Tapi tidak. Memang segitu. Saya membayar dengan rasa takjub yang sulit disembunyikan. Rasanya seperti menemukan celah kecil di dunia yang semakin mahal, lalu dari celah itu keluar aroma kuah asam keueung dan harapan.

Perjalanan jauh memang sering melelahkan. Jalan panjang mengajarkan banyak hal: tentang sabar, tentang bensin, tentang punggung yang protes, tentang warung-warung singgah yang kadang lebih jujur daripada tempat-tempat besar. Dan Jumat kemarin, di Ulee Gle, saya belajar lagi satu hal sederhana: jangan remehkan tempat singgah.

Sebab bisa jadi, di warung kecil dekat SPBU, saat Anda hanya berniat menumpas kantuk dengan kopi biasa, takdir malah menyiapkan perjamuan kecil yang membuat perjalanan terasa lebih manusiawi.

Bisa jadi, di tempat yang tampak sederhana itu, Anda menemukan rasa yang otentik, harga yang bersahabat, dan adegan kecil tentang kebaikan yang diam-diam menampar hati.

Bisa jadi, Anda datang sebagai pengendara lelah, lalu pulang sebagai manusia yang sedikit lebih kenyang, sedikit lebih bahagia, dan sedikit lebih percaya bahwa dunia belum sepenuhnya kehilangan akal sehat.

Dan saya, siang itu, meninggalkan warung tersebut dengan perut senang, mata kembali melek, dan hati yang diam-diam masih memikirkan satu hal penting:

Seandainya saya tadi pilih kepala ikan, mungkin tulisan ini akan lebih dramatis lagi.

Tapi tak apa.

Kaum jelata juga punya martabat.

Badan sembilang pun sudah cukup untuk membuat Jumat terasa seperti hari raya kecil.


#JumatDiUleeGle 

#AsamKeueung 

#IkanSembilang 

#KulinerAceh 

#WarungSPBU 

#CeritaPerjalanan 

#PecalAceh 

#KuahPliek 

#BandaAcehRiau 

#KulinerJalanan #CatatanPerjalanan #MakanSiangSultan #KaumJelataNaikKelas 

#KopiHitam 

#PisangRajaGoreng