Showing posts with label Aceh 2005. Show all posts
Showing posts with label Aceh 2005. Show all posts

Friday, January 17, 2014

Kelapa Muda Meulaboh

Tidak sulit untuk menemukan kelapa muda di Meulaboh. Di iklim yang panas terik seperti di Meulaboh, penjual kelapa muda bertebaran di berbagai tempat. Ada yang berkeliling dengan menggunakan becak yang dimuati timbunan kelapa muda yang bertandan-tandan, segar baru diturunkan dipohon – ini betul-betul diturunkan, karena jika dijatuhkan, buah kelapa akan lepas dari tandannya – ataupun di warung-warung penjual es kelapa muda. Jika minum air kelapa muda di becak, biasanya airnya asli dari buahnya tanpa campuran apapun. Seringkali bahkan tanpa sedotan, tetapi langsung diminum dari buah kelapa yang dilubangi dengan menggunakan parang yang super tajam. Tidak ada tempat duduk, kelapanya dinikmati sambil berdiri atau jongkok di sebelah becak penjual. Penjualnya dengan sabar akan menunggu sampai selesai, kemudian kelapa akan dibelah untuk menikmati isinya. Tidak ada sendok yang tersedia. Sepotong kulit kelapa yang disayat dengan rapi dan dibersihkan dengan menggosok beberapa kali ke kulit kelapa lainnya yang bekas disayat akan menjadi sendok untuk mencongkel isi buah kelapa. Rasanya luar biasa. Jika minum air kelapa di warung, ada tersedia pilihan-pilihan, apakah mau kelapa bulat ataupun mau kelapa yang sudah diolah. Yang sudah diolah adalah yang sudah tersedia dalam wadah, biasanya sudah diberi gula, jeruk nipis dengan bongkahan-bongkahan es batu di dalamnya. Daging kelapanya biasanya keras, karena yang seringkali hasil dari membelah kelapa yang ditolak oleh pembeli sebelumnya karena daging kelapanya sudah kelewat keras. Dihidangkan dalam gelas, diberi sedotan dan siap untuk dinikmati di kursi panjang warung. Yang bulatpun masih menyisakan pilihan: mau asli seperti apa adanya, ataupun diolah: diberi gula, sirup, jeruk nipis dan es.

Diluar kota, di pinggir jalan juga banyak yang menjual kelapa muda. Harganya lebih murah dibandingkan dengan yang dijual di kota. Jika kebetulan kita betul-betul keluar kota dan sedang ada penduduk yang memanen kelapa, kita bisa minta dipetikkan kelapa muda, dan kelapa muda bisa dinikmati sepuasnya. Tidak ada bayaran tertentu yang diminta, seikhlasnya saja.

Memetik kelapa di Aceh kebanyakan dilakukan oleh manusia. Seutas tali – biasanya terbuat dari kulit kayu waru yang disatukan sehingga membentuk lingkaran – akan dibelitkan ke kaki membentuk angka delapan. Tali ini akan menjadi pijakan kaki pada batang kelapa. Sedangkan tangan biasanya memegang parang tajam, dan ditakikkan ke batang kelapa untuk menarik tubuh sipemanjat ke atas. Cepat dan efisien. Sesampai di atas, pemanjat akan menyelinap di antara pelepah daun dan duduk nyaman diposisi tertentu yang memudahkan dia untuk memotongi tandan-tandan kelapa yang sudah tua. Tandan akan berjatuhan ke bawah, buahnya akan lepas dan berserakan dan akan dikumpulkan nantinya.

Bukan cuma kami yang doyan kelapa muda. Beberapa kali saat melakukan pekerjaan di desa-desa dan kebetulan berjumpa dengan penduduk yang sedang memetik kelapa, kami mengajak Jamie Ashe untuk ikut menikmati kelapa muda langsung di kebun, di bawah pokoknya. Awalnya canggung bagi Jamie untuk ikut berjongkok sambil mencongkeli isi kelapa dengan menggunakan sayatan kulit kelapa, tetapi kemudian diapun ikut menikmatinya.








Thursday, September 08, 2011

Singkil Nopember 2005 (7) - habis

Orang-orang berkerumun disekitar beberapa lembar kertas yang ditempel di dinding mushalla. Ternyata itu adalah informasi mengenai asal usul nama tempat ini.

Berikut ini adalah kisah asal usul nama Glee Kuburan Aneuk Manyak, berdasarkan informasi yang dikeluarkan oleh Pemangku Adat Kecamatan Geumpang Pidie.

Sejarah Singkat Kuburan Aneuk Manyak (Kuburan Anak-Anak)

Adapun kuburan yang berada di sini disebut kuburan Aneuk Manyak (kuburan anak-anak), yang pada dasarnya ditempat ini dikuburkan dua mayat, satu diantaranya adalah seorang lelaki dewasa sedangkan seorang lagi adalah mayat anak laki-laki berumur empat tahun. Kedua orang tersebut adalah korban pembunuhan dengan tujuan perampokan, sesuai sumber yang diperoleh. Kejadian ini terjadi sekitar tahun 1935.

Di daerah ini sejak jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1925 telah dibangun jalan setapak yang menghubungkan Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie dengan Kecamatan Sungai Mas (Kabupaten Aceh Barat). Sejak dahulu jalan ini sudah ramai digunakan oleh pejalan kaki, baik oleh serdadu Belanda untuk patroli, maupun oleh pejuang Aceh yang pada saat itu disebut Muslimin, dalam rangka membawa serta mencari informasi antara Pidie dan Meulaboh. Jalan ini juga berfungsi sebagai sarana perekonomian yang pada saat itu sangat menonjol perdagangan ternak hewan (kerbau) yang berasal dari dari daerah pedalaman Meulaboh dipasarkan ke daerah Pidie. Dengan demikian terjadilah perbauran antara masyarakat Meulaboh dengan masyarakat Pidie, yang wujudnya banyak masyarakat Pidie berumah tangga (kawin) di Meulaboh begitu juga sebaliknya yang hingga saat ini kedua daerah tersebut banyak masyarakat yang memiliki ikatan keturunan.

Tersebutlah suatu kisah yaitu seorang laki-laki yang bernama Tgk. Murhaban yang berasal dari Meulaboh (desa asli tidak diketahui) dalam perjalanan pulang pergi antara Meulaboh dan Pidie sekitar tahun 1932 berumah tangga dengan salah seorang perempuan Pidie (Geumpang Keumala) yang bernama Maisarah, dari hasil perkawinan mereka dikaruniai Allah seorang anak laki-laki namun menjelang anak itu berumur 4 tahun, Maisarah (ibunya) meninggal dunia, sejak saat itu tinggallah Tgk. Murhaban berdua dengan anaknya tersebut.

Selang beberapa bulan setelah kematian istrinya kira-kira pertengahan tahun 1935, Tgk Marhaban memutuskan akan pulang dan menetap di Meulaboh. Hal itu disampaikan pada mantan mertuanya. Sesudah mendapatkan persetujuan dari mantan mertua, Tgk Murhaban menjual semua harta bendanya yang tidak bergerak untuk dijadikan uang. Sebagai seorang pengusaha maka ia memiliki banyak uang, emas dan harta harta benda yang akan dibawa pulang Tgk Murhaban ke daerah asalnya Meulaboh.

Atas rencana tersebut Tgk Murhaban memberitahukan kepada seluruh shabat serta teman-temannya. Salah seorang temannya secara sengaja mendatangi Tgk Murhaban untuk menanyakan kapan rencana keberangkatannya. Hal tersebut disambut baik oleh Tgk Murhaban dan ia tidak menaruh curiga walaupun temannya tadi bermaksud tidak baik terhadapnya.
Pada hari yang ditetapkan berangkatlah Tgk Murhaban beserta anaknya ditemani oleh temannya tadi, setelah beberapa hari berjalan maka pada suatu sore rombongan Tgk Murhaban tiba di Geumpang tepatnya di Gampong Bangkeh dan ia langsung mendatagi rumah Geuchik (kepala desa) serta memohon untuk bermalam satu malam di rumah Geuchik, yang pada saat itu Geuchik Gampong Bangkeh dijabat oleh M. Daud. Keesokan harinya setelah diberikan sedikit bekal berupa bu kulah (nasi bungkus) ketiga orang tersebut melanjutkan perjalanan menuju Meulaboh. Tetapi dua hari kemudian teman Tgk Murhaban sudah pulang ke Geumpang dan berjumpa dengan Geuchik M. Daud serta beberapa orang masyarakat lainnya, orang itu menceritakan bahwa ia tidak dapat melanjutkan perjalanannya ke Meulaboh karena badannya terserang demam. Ia khawatir penyakitnya semakin parah, oleh karena itu ia memutuskan untuk pulang ke kampung dan pada hari itu pula orang tersebut meninggalkan Geumpang.

Keesokan harinya di Geumpang datanglah serombongan serdadu Belanda yang berangkat dari Meulaboh menuju Pidie dalam tugas operasi. Setelah sampai di Geumpang tepatnya di Gampong Bangkeh, mereka langsung menjumpai Geuchik dan menanyakan apakah ada diantara masyarakat dalam beberapa hari ini menuju ke Meulaboh. Pimpinan serdadu tersebut menceritakan bahwa mereka melihat ada orang mayat tergeletak di kawasan Neungoh Ukheu Kayee (pendakian akar kayu) dan mereka menyebutkan bahwa mayat tersebut bekas penganiayaan/pembunuhan dan setelah dikumpulkan beberapa informasi yang ada pada saat itu berat dugaan mayat tersebut ialah mayat tgk Murhaban beserta anaknya. Pada hari itu juga atas perintah Ulee Balang melalui Geuchik langsung diperintahkan beberapa orang masyarakat untuk melihat dan menguburkan kedua mayat tersebut. Dua hari kemudian rombongan yang diutus itu sudah kembali ke Geumpang dan langsung melaporkan pada Geuchik bahwa mayat yang baru mereka kebumikan benar mayat Tgk Murhaban beserta anaknya yang meninggal akibat penganiayaan (lehernya digorok). Karena sudah agak membusuk kedua mayat tersebut dikebumikan dalam satu lubang.

Hal tersebut oleh Geuchik dilaporkan kepada Ulee Balang yang untuk selanjutnya diadakan penyelidikan dan setelah terkumpul beberapa informasi, berat dugaan yang membunuh Tgk Murhaban adalah temannya sendiri. Maka atas dasar tersebut ditangkaplah teman yang menemani Tgk Murhaban tempoh hari, ternyata sesudah diperiksa secara teliti orang tersebut mengaku sesungguhnya benar ia yang membunuh Tgk Murhaban dengan tujuan perampokan harta benda yang dibawa Tgk Murhaban. Maka atas pengakuan tersebut ia dijatuhi hukuman.
Atas dasar tersebut maka banyak orang menganggap kuburan ini adalah kuburan keramat karena merupakan kuburan anak-anak yang dianiaya.

Demikianlah sejarah singkat tentang kuburan ini yang dapat disajikan mudah-mudahan ada manfaatnya bagi kita semua.

Geumpang, tgl 6 Ramadhan 1425H/10 Oktober 2005.
Penulis,

Pemangku Adat Kecamatan Geumpang, Pidie.

Catatan: Sumber:
Wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat yang pernah hidup di zaman penjajahan Belanda dan zaman kemerdekaan
Wawancara dengan keluarga Almarhum M. Daud (Geuchik Gampong Bangkeh sejak tahun 1934 sampai dengan 1963)


Sejak April 2005 saya sudah berkali-kali melewati dan singgah di tempat ini, tetapi baru kali ini ada informasi yang dikeluarkans ecara resmi mengenai asal usul nama Glee Kuburan Aneuk Manyak. Selama ini yang sering saya dengar adalah berbagai versi cerita yang berbeda dari sesama penumpang bus.

Perjalanan dari Glee Aneuk Manyak ke Tutut tidak begitu berat lagi. Ada satu tanjakan yang kami khawatirkan susah untuk dilewati, ternyata bisa kami lewati dengan gampang, sambil juga menarik sebuah L-300. Jalanan sudah berubah menjadi kubangan berlumpur. Sebuah FJ40 (Toyota Hardtop) sibuk menarik kenderaan ke atas. Kabarnya dipungut bayaran Rp. 50000 per L-300 yang ditarik. Setelah beberapa tanjakan kecil lainnya yang bisa dilewati dengan gampang, kamipun mencapai jalan kerikil berbatu yang sudah dipadatkan. Perjalananpun menjadi nyaman, walaupun tidak bisa kencang karena hujan kembali turun dengan lebatnya. Setengah jam kemudian, kami mencapai jalan yang beraspal, dan Juantopun bisa tidur dengan pulas dibangku belakang. Kiri kanan jalan merupakan hutan yang sunyi. Tidak ada perkampungan penduduk disini sampai mendekati wilayah Tutut. Sesekali kami lewati pondok-pondok pencari hasil hutan di pinggir jalan. Kadang juga ada tumpukan-tumpukan kayu olahan menunggu pengangkutan.
Tutut kami lewati dalam hujan lebat. Rencananya kami akan makan malam di Padang Sikabu, sebuah kota kecil antara Tutut dan Meulaboh. Terletak di jalan lintas Meulaboh Tutut dan dikelilingi oleh perkebunan, kota ini menjadi ramai. Kenderaan-kenderaan yang melintas dari Meulaboh kebanyakan berhenti di sini pada waktu makan. Kebiasaan buruk pedagang muncul, harga menjadi tidak wajar, karena penjual menjadi paham bagaimana menganiaya pembeli dengan harga tinggi. Bagaimana tidak, makan malam kami bertiga dihargai satu setengah kali harga di Meulaboh yang terkenal dengan harga-harga makanan yang mahal. Saat kami minta bon, pelayan menjadi kebingungan memperinci harga, supaya cocok dengan harga total yang asal sebut saja.

Sekitar jam 10 malam kami memasuki kota Meulaboh, yang sudah sunyi, ditambah lagi cuaca dingin yang membuat orang malas keluar rumah. Jalanan berkilat bekas hujan. Kami langsung menuju ke Lab air CRS di kantor Dinas Kesehatan Aceh Barat. Rasa puas melanda setelah kembali dari perjalanan panjang selama seminggu – Meulaboh – Subusssalam – Singkil – Subussalam – Medan – Sigli – Beureunuen - Geumpang – Meulaboh. Tinggal sekarang mempersiapkan laporan untuk Ross dan pertanggungjawaban dana dengan Department Finance. Esok hari adalah hari Senin – berarti segalanya harus kami siapkan malam ini. Berarti kami harus menunda istirahat lagi untuk malam ini ...


Membaca sejarah Kubu Aneuek Manyak

Kenderaan tangguh untuk medan yang berat...

Antri menunggu ditarik satu persatu di pendakian terjal dan licin

Antri menunggu ditarik satu persatu di pendakian terjal dan licin

Singkil Nopember 2005 (6)

Dari Beureunuen ke Tangse perjalanan ditempuh selama lebih kurang satu jam. Kami berangkat dari Sigli jam sembilan pagi, berhenti sebentar di kota Beureunuen untuk ngopi. Juanto menyempatkan diri berbelanja pakaian, yang ternyata harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan di Banda Aceh, apalagi dengan Meulaboh. “Barang-barang disini kami ambil dari Jawa langsung,” kata penjaga toko. Juanto jelas kesenangan, memborong baju, jeans, sepatu dan topi.

Cuaca cukup cerah, sedikit berawan. Kayaknya bakal hujan lebat di gunung nantinya, didaerah antara Geumpang dan Tutut. Jalanan yang belum diaspal sekitar 20 km di daerah Glee Kuburan Aneuek Manyak bakal menjadi medan berat, karena berlumpur, licin. Keadaan bisa menjadi lebih buruk karena kondisi jalan yang mendaki dan menurun yang curam. Tidak menjadi masalah, kata Anto. Ranger akan sanggup menghadapi medan seperti itu. Menarik satu L-300 sambil mendakipun masih sanggup, katanya. Ya, mudah-mudahan saja.

Menjelang tengah hari kami mencapai Tangse, yang seperti biasanya, sepi. Toko-toko yang hanya dua baris yang dipisahkan oleh jalan raya tampak sepi dari pengunjung. Pasar ini akan ramai pada hari Rabu, hari pekan. Penduduk dari daerah sekitar akan berdatangan untuk membeli kebutuhan mereka sehari-hari. Rencananya kami akan mencari durian, karena kabarnya durian Tangse adalah yang terbaik di daerah ini. Tetapi tidak ada satu penjual durianpun yang kami temui, baik di kota Tangse atau sepanjang jalan.

Sekitar jam sebelas siang kami berhenti di Tangse untuk makan siang. Rumah makan terletak di pinggir jalan, dengan sungai yang berair jernih dibelakangnya. Menunya adalah daging rusa – sesuatu yang tidak bisa ditemui setiap hari, dan menjadi sesuatu yang sangat langka pada masa belum damai. Sekarang ini, banyak rumah makan didaerah bergunung dan berhutan seperti di Saree, Tangse dan Geumpang yang kembali menyediakan daging rusa dalam menunya. Tidak setiap hari, tentu saja, tergantung pasokan dari pemburu.

Hari sudah mulai mendung. Hampir bisa dipastikan kami akan menghadapi hujan dalam perjalanan.

Kira-kira lima belas menit dari Tangse, ada sungai yang berbatu, dengan air yang jernih. Sekitar lima puluh meter ke arah hulu, nampak sungai ini merupakan gabungan dari dua sungai yang lebih kecil. Sungai ini menuju ke Jantho, kabarnya. Kami berhenti di sana. Juanto, seperti biasanya, bersiap-siap untuk berenang. Saya berkeliling, melihat-lihat jembatan gantung yang kabarnya peninggalan jaman Belanda yang tidak terpakai lagi. Penggantinya adalah jembatan yang dibangun disebelahnya. Jembatan gantung tersebut dibiarkan berkarat termakan usia. Masih nampak sisa-sisa cat warna perak pada besi-besinya. Gerimis mulai turun. Matahari sudah menghilang, walaupun panasnya masih terasa.

Disebuah air terjun, yang kira-kira berjarak sekitar 40 menit dari Tangse ke arah Geumpang, kami berhenti lagi. Pondok-pondok tempat orang berjualan sudah didirikan orang di sini, beberapa bulan lalu belum ada. Di sebelah kiri yang langsung berbatasan jalan, jurang menganga, dengan aliran sungai yang deras. Orang harus berhati-hari berkenderaan di sini. Beberapa waktu yang lalu, sebuah L-300 yang penuh penumpang dari Banda Aceh menuju Tapak Tuan jatuh ke jurang di sini sekitar jam 3 malam. Disambut oleh batu besar, kenderaan tersebut remuk. Dua orang meninggal, sisanya luka-luka berat dan ringan.

Hujan mulai melebat. Cuaca dingin. Juanto, seperti biasa setiap melihat air, mulai bermain air lagi, walaupun tidak berenang. Pengunjung tidak banyak, hanya ada dua mobil yang berisi keluarga yang berwisata ke sini. Pondok-pondok orang berjualan hanya sedikit berisi pengunjung yang ingin berteduh dari hujan sambil ditemani secangkir minuman hangat. Kamipun ikut berteduh dan memesan teh dan kopi.

Geumpang kami lewati dalam hujan yang semakin lebat. Rencananya kami akan berhenti lagi di tempat perhinggahan terakhir sebelum Tutut, yaitu di Glee Kuburan Aneuk Manyak. Jalanan sepi dari kenderaan bermotor, hanya satu dua L-300 berisi penumpang yang menuju ke Banda Aceh atau ke Medan. Beberapa truk dan pikap melintas, kosong atau berisi barang-barang dari atau ke Meulaboh. Tidak ada kenderaan roda dua.

Sekitar tiga puluh kilometer selepas Geumpang, jalan aspal digantikan oleh jalan tanah berbatu. Perjalanan menjadi lambat, jalanan berlubang, tikungan-tikungan tajam dan pendakian serta penurunan membuat Anto harus lebih berhati-hari menyetir.

Mendekati tanjakan pertama, nampak banyak kenderaan mengantri. Hujan membuat jalan menjadi sangat licin, kederaan susah untuk mendaki. Berpuluh kenderaan nampak terhenti ditengah hujan lebat, sementara diujung sama nampak sebuah kenderaan berjuang untuk mendaki dengan suara yang menderu-deru. Penumpang yang laki-laki sudah pada membuka baju, sebagian mendorong mobil dari belakang, sebagian lagi menarik dengan tali yang selalu dipersiapkan supir bus yang melewati daerah ini. Ada truk yang sudah bermalam di sini selama dua hari, karena tidak sanggup mendaki dikarenakan beban yang berat. Kamipun menepi untuk memberi jalan bagi kenderaan dari depan yang mendapat giliran untuk lewat. Anto keluar dari mobil untuk mengecek terpal yang membungkus barang-barang dibak belakang.

Mobil-mobil melewati kami: L-300 berisi penumpang, pikap yang bermuatan barang-barang dagangan dari Meulaboh, truk-truk berukuran sedang yang kosong tanpa muatan. Kedengaran seorang supir mengatakan ditanjakan di depan lebih parah lagi, dengan antrian yang panjang dari kedua arah jalan.

Supir L-300 yang ada dibelakang mobil kami minta tolong untuk menarik mobilnya. Penumpangnya kebanyakan perempuan, katanya. Kami memutuskan bahwa tidak ada masalah, selama talinya mereka yang sediakan. Lagipula dengan membantu kenderaan lain, kami akan mendapat kesempatan untuk lewat duluan.

Kebiasaan aneh mobil penumpang yang melewati daerah ini adalah tidak adanya kernet atau pembantu supir. Jadi hanya ada supir bus, yang kadang-kadang juga pemilik, sendirian. Kalau ada masalah seperti sekarang ini, yang diandalkan adalah tali dan penumpang laki-laki. Mungkin untuk mengurangi biaya operasi.

Talipun dicantolkan dengan kuat kemobil kami. Supir L-300 mendekati aparat TNI yang secara sukarela mengatur lalu lintas – supaya tidak saling serobot yang menyebabkan macet bertambah parah – supaya diperbolehkan berangkat duluan. Nampaknya aparat tersebut memperbolehkan, karena supir L-300 tersebut balik dengan senyum lebar dari kuping ke kuping.

Kamipun bersiap untuk berangkat lagi. Anto menjalankan Ranger pelan pelan sampai ketempat yang lebih lapang, untuk kemudian menekan gas dalam-dalam. Dengan sentakan, Ranger meraung dan menyeret L-300 dibelakangnya dengan gampang. Gas ditekan terus, roda belakang agak sedikir spin. Dari jendela belakang saya tengok L-300 tersebut meliuk-liuk karena roda belakangnya spin. Setengah tanjakan, kecepatan Ranger terasa menurun. Anto tambah menekan gas, deru mesin bertambah, sentakan-sentakan kecil karena liukan L-300 di belakang kami, kamipun selamat mendaki. Di depan kami berpuluh kenderaan menunggu kesempatan untuk turun. Kami menepi, tali pencantol dilepaskan, supir L-300 mengucapkan terima kasih dengan senyum lebar, kamipun meneruskan perjalanan. Hujan tidak berkurang derasnya. Lima belas menit kemudian kamipun sampai di tempat persinggahan di Glee Kuburan Aneuk Manyak.

Secangkir minuman hangat – kopi ataupun teh, plus sepiring mi aceh terasa sangat nikmat dalam cuaca dingin menusuk tulang. Diwarung tempat kami berteduh sedang ramai oleh pengunjung, penumpang dari L-300 dari atau ke Banda Aceh. Kebanyakan bus-bus penumpang berhenti disini, sekedar memberi kesempatan kepada penumpangnya untuk istirahat ataupun untuk salat. Mobil-mobil diparkir berjejer – tempat ini ramai sekali sekarang. Dibandingkan dengan kondisi sekitar bulan April 2005, tempat ini masih berupa hutan belantara dengan hanya satu pondok sederhana yang diperuntukkan untuk pelintas yang ingin beristirahat dan salat. Jalan lintas ke Meulaboh melalui pantai barat yang hancur total oleh tsunami – di sebagian tempat malah hilang – membuat jalur ini yang selama ini nyaris terlupakan menjadi satu-satunya jalur yang ada ke Meulaboh. Lalu lintas yang ramai membuat penduduk didaerah yang berdekatan dengan Glee Kuburan Aneuk Manyak membuka warung-warung. Awalnya sederhana saja, warung-warung tenda yang menjual mi instan dam minuman. Tambah lama tambah ramai, apalagi jalur ini oleh pemerintah diperbaiki dan diaspal. Warung-warung tenda menjadi lebih permanen, musholla yang kokoh sudah dibangun dengan dana dari pengunjung, sumber air dan WC sudah permanen. Lebih mirip kota kecil sekarang. Disamping kiri jalan yang sekarang, jalan pintas sedang dikerjakan. Jadi nanti tidak banyak perlu banyak melewati pendakian lagi mulai dari titik ini ke arah Geumpang.

Lebih kurang satu jam kami duduk diwarung tersebut, sambil mengamati lalu lintas. Kenderaan yang melintas tambah ramai sekarang, hujan tinggal gerimis saja. Sebuah jip Willis nampak menarik kenderaan dari Metro TV, kameramennya berjalan kaki sambil merekam suasana di situ. Sekelompok pengendara sepeda motor memarkir motornya dekat dengan mobil kami, pengendara dan motornya berlepotan lumpur dari kaki sampai kepala.


Keumala

Tangse

Sungai di Krueng Meuriam, Tangse

Air terjun pinggir jalan di Krueng Meuriam, Tangse. Lokasinya persis di pinggir jalan, sementara di seberang jalan adalah sungai Krueng Meuriam

Krueng Meuriam, Tangse

Krueng Meuriam, Tangse

Sungai berbatu-batu, Tangse

Sungai berbatu-batu, Tangse

Mandi sungai ...

Jembatan lama dan baru, Tangse

Antrian kenderaan, memasuki daerah Kubu Aneuek Manyak

Hujan deras, jalanan licin. Antri untuk lewat satu-satu.

Medan berat di gunung ...

Kubu Aneuek Manyak

Wartawan Metro TV sedang mengambil gambar di Kubu Aneuek Manyak

Wednesday, September 07, 2011

Singkil Nopember 2005 (2)

Sesaat setelah magrib kami mencapai Subussalam, sebuah kota kecil yang ramai. Truk-truk penuh muatan dari atau menuju Meulaboh diparkir dengan rapi disebelah kiri jalan, di depan sebuah rumah makan yang besar. Mobil-mobil penumpang jenis L300 juga berhenti di sini, membiarkan penumpangnya beristirahat atau sekedar mengisi perut sebelum kembali melanjutkan perjalanan jauh ke Medan ataupun ke Meulaboh. Orang-orang lalu lalang dalam suasana senja menjelang malam. Kami berhenti di depan sebuah rumah makan yang cukup ramai oleh pengunjung, sebagian besar merupakan penumpang kenderaan umum yang sedang beristirahat. Makanan segera dihidangkan, tidak ada yang istimewa, hanya masakan Aceh umum yang bisa ditemui disetiap rumah makan lainnya di Aceh. Saya dan Anto minta izin sama pemilik rumah makan untuk salat magrib.

Sekitar jam delapan malam perjalanan kami lanjutkan kembali. Rumah-rumah penduduk mulai jarang, hingga akhirnya kiri kanan jalan yang kami lalui diselimuti kegelapan total kebun sawit. Tidak ada tanda-tanda lampu ataupun cahaya lainnya dari rumah-rumah penduduk. Jalanan kecil dan bergelombang, dengan lubang-lubang menganga di sana-sini. Sesekali kami berpapasan dengan truk-truk yang bermuatan berat. Sepeda motor jarang nampak.

Tiba-tiba saja jalan mulus dan lebar menyambut kami. Kami sudah memasuki daerah Aceh SIngkil, yang nampaknya sedang menggeliat mempercantik diri. Cahaya terang mulai nampak dikejauhan, rumah-rumah penduduk semakin rapat. Sekitar jam dua belas malam, tugu Kota Singkil menyambut kami.

Jalanan menuju Hotel tempat kami menginap tergenang air, air pasang yang naik setiap malam. Disitulah dia, bangunan tiga lantai mendongak dengan angkuh bermandikan cahaya, sementara bangunan sebelah kiri dan kanan hotel dan juga di seberang jalan nampaknya tidak berpenghuni lagi. Kenderaan ramai parkir di depan hotel. Juanto memesan kamar untuk kami. Perjalanan jauh dari Meulaboh ke Singkil sudah sampai ke tujuan. Kami berharap bisa tidur dengan nyenyak malam ini, membuang kepenatan selama perjalanan, untuk mempersiapkan diri menghadapi pekerjaan besok hari.

Pada saat gempa 28 Maret 2005, permukaan tanah di daerah Singkil turun sekitar 60 cm. Akibatnya, setiap pasang, air laut akan menggenangi daratan. Kota Singkil paling parah. Setiap sore, pada saat pasang naik, air menggenangi pemukiman. Penduduk banyak yang pindah mencari lokasi baru. Mereka yang tidak mampu tinggal dipengungsian, atau kamp-kamp sementara yang dibangun seadanya sekedar cukup ada dinding dan atap. Dengan bonus jendela dan pintu ala kadarnya.

Tempat penginapan kami adalah sebuah hotel bertingkat tiga. Namanya Hotel Island, berlokasi di daerah Pulo Sarok. Dulu daerah ini adalah daerah yang ramai, dengan prospek pengembangan yang cukup bagus. Sekarang, hanya tinggal hotel ini sendiri yang masih berpenghuni. Pemukiman di seberang jalan di depan hotel sudah ditinggalkan. Jalannya sendiri mempunyai dua ruas, yang segera berubah menjadi sungai setiap pasang naik. Usaha pemerintah sudah dimulai, ditandai dengan tumpukan batu dan kerikil untuk meninggikan jalan.

Kami – saya, Juanto dan Anto – sekamar bertiga. Kamar-kamar lainnya penuh oleh tamu – rata-rata karyawan atau undangan CRS. Mereka akan mengadakan seminar selama dua hari mulai besok, mengenai pengumpulan data-data awal yang akan dipergunakan untuk program kesehatan CRS di Aceh Singkil.

Kami makan nasi goreng disebuah cafe – atau lebih tepat disebut warung – yang berjarak kira-kira dua ratus meter dari hotel. Nasi gorengnya terasa aneh menurut lidah saya. Diseberang jalan nampak samar-samar bangunan dan rumah-rumah kosong yang tidak lagi berpenghuni, dan pada malam hari tergenang air pasang. Jalanan sebelah kanan hotel berubah menjadi genangan air bergelombang. Tidak ada kenderaan yang melintas. Laut hanya berjarak sekitar tiga ratus meter dari hotel, tenang dan berminyak tanpa ombak. Dikejauhan nampak lampu-lampu sebuah kapal yang sedang berlabuh.

Pagi-pagi seusai subuh saya berjalan-jalan sekeliling hotel ke arah pantai. Bangunan-bangunan melompong ditinggalkan penghuninya. Bekas genangan air pasang semalam masih nampak dibeberapa tempat. Disebuah muara sungai kecil, nampak beberapa perahu nelayan yang baru pulang dari mencari ikan. Perahu kecil-kecil, dengan awak satu orang. Seorang pengumpul sudah menunggu. “Kami butuh jaring yang lebih baik”, kata seorang nelayan yang baru mendarat. Tidak banyak ikan yang dibawanya pagi itu. Beberapa kilogram ikan berpindah tangan, bertukar dengan beberapa lembar uang kertas. Beberapa kali lagi transaksi terjadi dengan nelayan-nelayan lainnya, sebelum akhirnya pengumpul ikan mengayuh sepedanya dan meninggalkan tempat tersebut.

Tugas kami adalah mengumpulkan sampel-sampel air dari berbagai lokasi di Singkil, kemudian memetakannya. Sebuah rencana sudah dibuat: awalnya kami akan mengambil sampel sekitar kota Singkil, kemudian malamnya kami akan melakukan analisa kualitas air. Besoknya kami akan mengambil sampel-sampel air dari Kecamatan Danau Paris. Terakhir, kembali kami akan ke Kecamatan Danau Paris untuk mengambil sampel air dari air terjun Bisgang dan kemudian menuju ke danau Paris. Selesai semuanya, kami akan balik ke Meulaboh melalui jalur yang berbeda. Perjalanan pulang akan kami lakukan lewat Medan – Beureunuen – Geumpang – Meulaboh.


Bangunan yang ditinggalkan karena terendam pasang setiap hari

Lokasi ini dulunya ramai, sekarang tidak berpenghuni lagi ...

Hotel Island Singkil

Bekas air pasang semalam...

Genangan air pasang yang belum surut

Menunggu nelayan pulang, suatu pagi di Pulau Sarok, Singkil

Merapat membawa hasil pencaharian semalaman

Menunggu transaksi

Rezeki hari ini

Sepakat, transaksi terjadi

Yang lainnya agak terlambat ...

Tidak banyak perolehan kali ini.

Timbunan material untuk meninggikan jalan raya

Melompong ditinggalkan penghuninya ...

Bekas air pasang di mana-mana

Bekas air pasang di mana-mana

Bekas air pasang di mana-mana

Bekas air pasang di mana-mana

Bekas air pasang di mana-mana

Bekas air pasang di mana-mana

Sama sekali terendam air sekarang ...

Air, air dan air

Hancur ...

Tidak berpenghuni lagi ...

SIngkil Nopember 2005 (1)

Tanggal 6 September 2011 bumi Aceh kembali diguncang gempa. Gempa berskala 6.7 skala Richter yang berpusat sekitar 59 km timur laut di Aceh Singkil menyebabkan kerusakan di wilayah Singkil dan sekitarnya.

Akhir Nopember 2005 kami pernah ke Singkil, untuk melakukan analisa air di berbagai lokasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Department Health INGO CRS untuk wilayah Singkil dan sekitarnya, untuk pemetaan kualitas air dari berbagai sumber air di lokasi tersebut. Berikut adalah catatan perjalanan kami ke sana.

Akhirnya keberangkatan kami ke Singkil dipastikan juga. Setelah beberapa kali tarik ulur – seperti biasanya – boss kami Ross Tomlinson menyetujui rencana tersebut, dengan membawa sebuah Ranger plus supir. Kami bertiga semuanya, saya, Juanto dan Surianto sebagai supir. Bak belakang kami muati penuh-penuh dengan peralatan laboratorium – beberapa barang tersebut jelas hanya akan menjadi beban dan tidak akan ada gunanya selama di Singkil. Autoclave, genset (untuk berjaga-jaga seandainya di Singkil tidak ada listrik – hal yang terlalu pesimis), kotak-kotak untuk incubator dan asesorisnya, bahan-bahan kimia untuk keperluan analisa, lampu darurat dan barang-barang lainnya. Tidak ketinggalan barang-barang untuk keperluan pribadi: pakaian, peralatan mandi, laptop untuk masing-masing kami – kecuali supir, dua kamera digital beserta asesorisnya, sepatu cadangan. Bagaikan pindah rumah rasanya. Basa basi kami mengajak Ross ikut serta dalam misi ini ditolaknya dengan dingin, karena dia tahu kami mengejek. Ada tugas penting yang harus dikerjakannya, katanya dengan senyum mengembang lebar. Tugas penting tersebut adalah berlibur selama empat hari di Prapat menikmati Danau Toba. Ganti kami yang senyum kecut.

Minggu pagi, 27 November 2005 yang cerah kami berangkat. Cuaca cukup bagus – cocok sekali untuk melakukan perjalanan jauh. Kami sarapan di salah satu kedai kopi di Meureubo. Penjaga kedai bergegas melayani kami layaknya tamu penting. Seperti kedai-kedai kopi di bagian Aceh lainnya, pesanan kopi atau teh selalu diiringi dengan piring yang berisi beberapa jenis kue basah. Barang-barang di bak belakang tertutup rapi dengan terpal biru, dan Anto melakukan pemeriksaan sekali lagi untuk memastikan semuanya pada kondisi yang seharusnya.

Perjalanan dilakukan dengan santai, dan banyak hal bisa dinikmati sepanjang perjalanan. Dari Meulaboh sampai ke Alue Bilie, hanya sisa kehancuran bekas tsunami yang nampak, dengan geliat pembangunan sarana dan prasarana di berbagai tempat. Dua jam kemudian kami sampai di Blang Pidie, dan Anto membelokkan Ranger melalui sebuah lorong sempit. Kami akan mampir ke rumah salah satu pamannya. Undangan makan siang dari sang paman tidak bisa ditolak, lagipula sekarang adalah saatnya makan siang.

Sehabis salat zuhur, perjalanan kami teruskan kembali, tetap santai seperti sebelumnya. Toh tidak ada yang dikejar, dan Anto memastikan kami akan sampai ke Singkil sekitar jam 6 atau 7 sore.

Pemandangan sepanjang jalan sungguh mengagumkan. Jalan yang berbatasan dengan laut yang biru kehijauan, dengan langit yang biru cerah sedikit berawan menyambut kami begitu kami memasuki daerah Tapak Tuan. Ada air terjun kecil dengan telaga yang jernih yang saat itu lagi ramai dengan pangunjung. Kami juga ikut berhenti disitu. Diseberang jalan nampak pantai yang berpasir putih yang bebas dari sampah, dengan laut yang biru. Kota Tapak Tuan nampak samar-samar disebelah kanan jalan.

Tapak Tuan adalah kota kecil yang cantik. Berbatasan langsung dengan laut, tidak terkena imbas tsunami tanggal 26 Desember 2004 lalu. Semasa hidupnya, adik perempuan saya tinggal di sini bersama suami dan dua anaknya, menjadi pegawai negeri sebagai Kepala Pegadaian unit Tapak Tuan. Ini adalah kali kedua saya kemari. Pertama kali dulu adalah bulan Januari 2005, sehabis tsunami melanda Aceh, untuk mencari keluarga yang selamat. Waktu itu, kami hanya bermalam di sini, paginya kami langsung kembali ke Meulaboh. Sebelum bencana, jarak Tapak Tuan ke Meulaboh bisa ditempuh dengan empat jam perjalanan dengan mobil.

Kami beristirahat di Hotel Dian, yang terletak di pinggir laut. Sambil menikmati makanan ringan dan minuman dingin, kami menikmati suasana pantai yang tenang. Matahari sore tidak lagi memancarkan panas seperti siang tadi. Juanto sibuk mendownload foto dari kamera digitalnya ke laptop. Jam lima lewat sedikit perjalanan kami lanjutkan. Kami sempat keliling kota Tapaktuan untuk melihat ”tapak” yang penampilan fisiknya lebih mirip kuburan yang luar biasa panjang. Tempat tersebut berpagar dengan gapura yang cukup bagus, bagian dalamnya dihiasi dengan bentuk kerang-kerangan raksasa yang mirip sekali dengan aslinya. Pengunjungnya banyak juga pada saat itu. Kabarnya tapak yang satu lagi ada di pantai (entah dimana). Dijembatan dekat dengan kantor Pegadaian saya minta berhenti sebentar. Di kantor Pegadaian inilah adik perempuan saya dulu bertempat tinggal selama beberapa tahun sampai akhir hayatnya di Meulaboh pada saat tsunami melanda Aceh…

Sekitar Tapak Tuan banyak sekali tempat dengan pemandangan yang bagus. Beberapa kilometer dari Tapak Tuan, kami berhenti di sebuah bukit, menikmapi pemandangan laut yang indah. Matahari yang sedang turun membuat suasana menjadi sedikit dramatis, yang terlalu sayang untuk dilewatkan. Banyak orang sedang memancing di tepi pantai. Yang lainnya cuma minum-minum sambil menikmati suasana sore. Seorang pencari ikan menebar jalanya di batu-batu pemecah ombak. Tidak banyak yang tersangkut saat dia mengangkat kembali jalanya, hanya beberapa ikan kecil menggelepar dalam usaha sia-sia untuk melepaskan diri dari belitan jala. Perahu-perahu nelayan berlabuh dengan tenang. Hampir tidak ada ombak di sini. Setelah beberapa kali berhenti untuk mengambil gambar, perjalanan dilanjutkan kembali, kali ini agak lebih tergesa.

Lepas dari Tapak Tuan, jalan mulai mendaki dan berliku. Di sebelah kanan, jurang menganga dalam, sementara sebelah kiri kami tebing gunung menjulang tinggi dalam cahaya matahari sore yang keemasan. Matahari turun perlahan-lahan, menimbulkan nuansa merah pada laut. Nampaknya sulit untuk mencapai Singkil sesuai dengan waktu yang direncanakan.

Didaerah Bakongan, jalanan mulus dan lurus. Kiri kanan jalan tidak ada tanda-tanda rumah penduduk. Anto memacu Ranger dengan kecepatan 140 km/jam. Agak sedikit ngeri, saya memperketat seat belt. Juanto sudah tertidur.


Kota Blang Pidie

Sungai di Babah Rot

Daerah Sawang Bunga

Pantai di Tapak Tuan

Pantai di Tapak Tuan

Pantai di Tapak Tuan

Pantai di Tapak Tuan

Air terjun di pinggir jalan sebelum memasuki kota Tapak Tuan

Pantai di seberang jalan dari lokasi air terjun

Pantai di Tapak Tuan

Tapak Tuan

Lokasi "Tapak" Tuan


Kantor Pegadaian Tapak Tuan

Pantai di Tapak Tuan

Pantai di Tapak Tuan