Saturday, February 25, 2012

Sungai Lalan, Musi Banyuasin

Dalam bulan Januari - Februari, dua kali kami menelusuri permukaan sungai Lalan di Musi Banyuasin untuk mengumpulkan dan menganalisa sampel air. Sebagian parameter kualitas bisa dilakukan di tempat, sebagian lagi harus dilakukan di laboratorium. Sampel air diambil pada berbagai kedalaman dengan menggunakan alat pengambil sampel buatan sendiri, untuk megetahui sebaran kualitas air yang bisa saja tidak seragam.

Tim kami terdiri dari empat orang, dua orang dari lab dan dua orang lagi dari unit pengolahan air. Kami berangkat meninggalkan kota tempat kami tinggal hari Rabu menuju ke kota Jambi, dan singgah sebentar di sister company grup perusahaan tempat kami bekerja yang ada di Tebingtinggi. Perjalanan melelahkan melalui lintas timur Sumatera selama nyaris sepuluh jam sebelum mencapai Tebingtinggi. Jalan antara Belilas dan perbatasan Riau - Jambi rusak parah, terutama di daerah Kritang yang kondisinya luar biasa rusak. Jalan sepanjang sekitar dua puluhan kilometer ditempuh selama nyaris dua jam. Bantingan-bantingan yang disebabkan oleh lubang besar yang menganga di badan jalan membuat perut mual. Di sana-sini nampak kenderaan truk bermuatan berat yang terseok-seok melintasi badan jalan yang menggelembung dan naik turun. Debu tebal menutupi tanaman dan rumah-rumah penduduk yang berada di pinggir jalan. Sebuah sedan terpaku di pinggir jalan, pengemudi dan penumpangnya turun dan dengan putus asa menatap kondisi jalan yang nyaris tidak akan terlewati oleh mereka. Melewati perbatasan Riau - Jambi, jalan mulus membentang, lebar dan licin. Bagai bumi dengan langit dibandingkan dengan jalan yang baru kami lewati.

Kami hanya singgah sebentar di Tebingtinggi, karena supir harus melapor dan mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Jambi. Dari jalan lintas ke lokasi tujuan singgahan kami di Tebingtinggi adalah sekitar satu jam perjalanan, melintasi jalan truk bermuatan kayu untuk pabrik pulp yang rusak dan berdebu. Kiri kanan jalan didominasi oleh hutan tanaman industri dan kebun sawit. Debu tebal menutupi pandangan ke depan setiap ada truk bermuatan kayu balak di depan kami. Pepohonan tertutup oleh debu tebal, kuning kemerahan dan merana. Perumahan warga tidak nampak.

Memasuki wilayah pemukiman, rumah-rumah penduduk mulai ada dan semakin merapat. Tiang-tiang listrik sepertinya tidak berfungsi sebagaimana seharusnya, kabel-kabel listrik bergantungan tidak terurus, sebagian malah terjulur sampai ketanah. Ternyata memang tidak ada arus listriknya. "Listrik untuk lokasi yang berdekatan dengan pabrik disediakan oleh pabrik", kata supir kami menjelaskan. "Warga lainnya menggunakan mesin diesel". Lalu tiang-tiang listrik dengan kabel-kabel yang semrawut tadi? Tidak ada informasinya. Yang jelas sama sekali tidak berfungsi.

Sekitar setengah jam kami berada di lokasi pabrik. Kami ditumpangkan di mess tamu, di mana kami bisa salat zuhur dan beristirahat sejenak.

Jam setengah tiga siang kami melanjutkan perjalanan ke kota Jambi. Melewati jalan kami datang tadi, kiri kanan adalah pemandangan membosankan hutan tanaman industri dan kebun sawit. Kemudian kami berbelok ke jalan aspal mulus, jalan lintas timur menuju Jambi. Jalanan betul-betul mulus, nyaris tidak ada cacat. Di beberapa tempat malah sedang diperbaiki, padahal kondisinya belum rusak. Berbeda sekali dengan jalanan di Riau.

Lewat magrib kami singgah di sebuah rumah makan yang menjual soto betawi untuk makan malam. Kemudian kami melewati jembatan yang melintasi Sungai Batanghari, lalu menyeberangi kota ke sisi lainnya, ke tempat kami akan menginap malam ini.

Tempat kami menginap adalah sebuah kantor cabang grup perusahaan tempat kami bekerja, yang juga dilengkapi dengan mess. Lokasinya walaupun bukan di pusat kota ternyata cukup ramai. Kiri kanan jalan ramai oleh para penjual makanan, beragam mulai dari jajanan sampai ke makanan berat. Lalu lintas cukup ramai, terutama oleh kenderaan roda dua yang semrawut. Menyeberang jalan betul-betul butuh nyali, dan harus cepat. Jalanan di sini bagai rimba belantara yang mengancam keselamatan.

Jam setengah tujuh pagi kami dijemput. Ada tiga kenderaan yang akan berangkat ke lokasi hari ini. Saya berpisah kenderaan dangan kawan-kawan satu tim. Hanya bertiga kami sekendaraan termasuk supir. Perjalanan berlangsung dengan kencang, membuntuti kenderaan di depan yang menjadi pemimpin rombongan. Selama dua jam kami membelah jalan mulus yang lenggang dengan kecepatan tinggi, sebelum kemudian kami berbelok ke jalan tanah berdebu. Satu jam berikutnya adalah perjalanan melintasi jalan tanah yang kondisinya cukup bagus. "Tunggu saat hujan, jalanan ini berubah menjadi lumpur licin dan kubangan-kubangan besar", supir kami menjelaskan. Sebuah kampung di tengah hutan tanaman industri menyambut kami. Nyaris semua rumah punya semacam tempat pemujaan di depannya. "Ini warga Bali. Pura pemujaan itu yang membedakan rumah warga Bali dengan rumah warga Jawa", kawan seperjalanan menjelaskan. Mereka adalah warga Bali yang beragaman Hindu. Mereka adalah bagian dari program transmigrasi yang dicanangkan pemerintah di masa silam.

Kemudian kamipun sampai. Kenderaan tumpangan kami berbelok dengan halus ke sebuah lapangan seperti terminal. Beberapa kenderaan lainnya sudah parkir duluan dengan rapi di tempat teduh di pinggir lapangan. Ada beberapa kios penjual berbagai hal di sana. Seratus meter di depan kami, sungai Lalan membentang, tenang kecoklatan. Beberapa orang lainnya sudah menunggu, mereka bagian dari tim survey. Hanya saja tujuannya berbeda, kami akan melakukan survey kualitas air, mereka akan survey lokasi untuk dermaga.

Barang-barang dan peralatan kami turunkan dari kenderaan dan kami bawa ke dermaga pinggir sungai. Dari titik ini kami akan menyeberang dengan menggunakan boat ke base camp, kira-kira lima belas menit dengan menggunakan boat.

Beberapa boat sandar di pinggir dermaga. Rumah yang berada di sebelah jembatan ke dermaga ternyata adalah dibangun di atas rakit dan merupakan semacam toko yang menyediakan berbagai barang kebutuhan. Meja kursi juga disediakan bagi mereka yang ingin makan minum di sini. Supaya tidak dihanyutkan arus pasang surut sungai, rumah rakit tersebut ditambatkan dengan kuat.

Dua speedboat mendekat dari sungai dan merapat ke dermaga. Kami memuat perlengkapan ke atas boat, dan segera berangkat. Rombongan lainnya juga mulai bergerak dengan speedboat yang satunya. Kami kira perjalanan ke sungai sudah dimulai, rupanya hanya menyeberang ke base camp saja. Di sana kami ganti speedboat dan bergerak ke arah berlawanan dengan rombongan pertama.

Air sungai lalan berwarna kecoklatan, dengan gumpalan-gumpalan lumpur seperti flock melayang dalam air. Semakin ke hulu flock semakin besar dan semakin banyak. Ternyata airnya jernih sekali, kotoran yang berbentuk flock dengan cepat mengendap saat sampel air diambil. pH air sangat rendah. Semua sampel yang kami kumpulkan di berbagai lokasi sepanjang lebih kurang enam puluhan kilometer memberikan keasaman dibawah empat. "Kami jarang sekali minum air sungai ini, terlalu asam", kata pengemudi speedboat. "Jika dipakai untuk masak dengan menggunakan peralatan yang terbuat dari aluminium, alat masak dengan cepat menjadi menipis dan bocor". Rumah rakit yang kami temui sepanjang perjalanan di nyaris semuanya mempunyai tangki air yang dipergunakan untuk menampung air hujan dari cucuran atap. Rekan yang mendampingi kami yang berasal dari perusahaan forestry menjelaskan bahwa tanah tebing sungai di kedua sisi tersusun dari marine clay, sejauh lebih kurang satu setengah kilometer ke darat. Selebihnya gambut. Nyaris sepanjang perjalanan, tebing sungai ditumbuhi oleh tanaman pandan.

Sepanjang sungai, hutan alam dan tumbuhan pandan mendominasi. Sesekali tiba-tiba saja perkampungan muncul, rumah-rumah berdiri rapat di atas tiang-tiang tinggi yang menjorok ke dalam sungai. Rumah-rumah rakit berayun pelan mengikuti gerakan arus sungai, tertambat kuat supaya tidak hanyut. Melewati Karangagung, pemandangan sisi sungai berubah. Di balik tumbuhan nipah yang tumbuh rapat, bentangan sawah yang menghijau berisi tumbuhan padi muda terhampar mulai dari tebing sungai.

Kami mengambil sampel air pada berbagai kedalaman pada setiap lokasi. Lokasi sampling ditandai koordinatnya dengan menggunakan GPS, dan kedalaman sungai diukur dengan menggunakan alat depth sounding. Sebagian parameter kualitas air langsung dianalisa di tempat karena akan berubah jika disimpan. Kondisi sungai sedang pasang mati, dengan level air terdalam pada satu siklus pasang surut, yang berlangsung satu kali sehari. Semakin ke hilir, ombak di sungai semakin besar. Hempasan motor boat ke air sungai diteruskan oleh kayu tempat duduk kami yang dialasi busa tipis langsung ke tulang punggung secara konstan, menimbulkan pegal berkepanjangan.

Keesokan harinya kami bergerak ke hulu sungai, ke arah kota Bayung Lencir. Sampel-sampel air sungai kembali diambil di lokasi-lokasi tertentu. Sepanjang sungai kami bertemu dengan rumah-rumah rakit, ada yang tunggal dan ada juga yanbg berkelompok. Bentuknya seperti rumah biasa, lengkap dengan terasnya, hanya saya berada di sungai di atas rakit yang terapung. Beberapa berfungsi sebagai toko dan warung, yang menyediakan berbagai kebutuhan bagi mereka yang melintas.Bahkan ada juga yang berfungsi sebagai penyedia bahan bakar bagi mesin perahu dan speedboat.

Dua hari di atas sungai dengan bantingan konstan dari perahu yang dihantam riak air membuat badan serasa rontok. Istirahat semalam di base camp tidak menghilangkan kelelahan, karena kami berempat berjejalan dalam kamar sempit tanpa ventilasi yang memadai. Akhirnya kami berdua memilih pindah ke mushalla yang ternyata jauh lebih nyaman dimana kami bisa tertidur nyenyak, apalagi ada kipas angin yang sangat membantu untuk mengusir nyamuk.

Total perjalanan kami pada perjalanan pertama adalah sekitar seratus empat puluh kilometer pulang pergi. Perjalanan yang kedua jauh lebih panjang, mulai dari kota Bayung Lencir sampai ke lokasi Parit Dua, melintasi jembatan Lalan, dengan jarak sekitar seratus enam puluh empat kilometer. Total pulang pergi adalah sekitar tiga ratusan kilometer. Pengemudi speedboat kali ini, Firman, lebih halus dalam mengemudi. Perjalanan melintasi sungai dalam rute yang lebih jauh tidak secapek perjalanan pertama dulu. Hanya saja, saat pulang dari lokasi Parit Dua, malam sudah turun, sehingga Firman harus meraba-raba kondisi sungai dengan lampu sorot supaya speedboat tidak melanggar potongan-potongan kayu dan sampah lainnya yang hanyut di sungai.

Beberapa warga setempat yang kami temui mengatakan tidak meminum air dari Sungai Lalan. Selain pengemudi speedboat tumpangi yang mengatakan air sungai terlalu asam untuk diminum, Ibu Amna dari Muara Medak juga mengatakan hal yang sama. "Untuk air minum kami mengumpulkan air hujan dan membeli air isi ulang dari penyedia". Penyedia air isi ulang berkeliling dengan speedboat atau dengan kenderaan roda dua dan roda empat di darat. Harga air jelas lebih mahal. "Di Palembang, untuk satu galon hanya sekitar 3000 - 4000 Rupiah", kata Pak Matkirom di Karangagung. "Di sini, harganya mencapai dua kali lipat". Pada musim badai, harga air bahkan bisa mencapai tiga kali lipat. "Air sungai ini terasa asin, apalagi saat musim kemarau", kata Pak Imron Buayo, yang juga tinggal di Karangagung. "Lagi pula sekarang ini di daerah hulu banyak pabrik pengolahan kelapa sawit yang membuang limbah ke sungai". Di Pulai Gading, pemilik warung kecil tempat kami beristirahat sedang mengosongkan galon-galon yang diantar oleh penyedia dengan kenderaan roda empat. Air dituang dari galon-galon ke dalam ember penampung yang mempunyai tutup. "Air sungai hanya untuk mencuci", kata ibu pemilik warung tersebut, yang juga ternyata orang tua Firman, pengemudi speedboat tumpangan kami.

Untuk urusan makan, tidak menjadi masalah yang berarti. Selama di perjalanan, kami bisa makan di berbagai rumah makan, mulai dari yang berharga sederhana sampai yang berharga wah. Kebanyakan rumah makan Minang Melayu yang rasanya sudah sangat familiar di lidah dan perut. Melewati Belilas sampai ke perbatasan Riau - Jambi, tersedia rumah makan yang membawa nama berbagai suku dan daerah. Ada rumah makan Jawa, rumah makan Sidempuan, rumah makan Toba, beberapa rumah makan Aceh dari berbagai daerah, rumah makan Siantar dan lain-lain. Di base camp tempat kami menginap, ada kantin yang menyediakan makanan untuk kebutuhan karyawan yang menetap di sana. Makanannya biasa-biasa saja, dan bagi yang tidak biasa perut bisa berontak. Pada kunjungan yang pertama, kami makan dan tinggal melapor pada pengelola kantin. "Nanti akan dibayar kantor", kata pengelola kantin. Pada perjalanan yang kedua, rupanya fasilitas tersebut tidak ada lagi. Jadi kami harus membayar sendiri apa yang akan kami makan. Juga, di belakang mess tamu tempat kami menginap, ada ibu-ibu yang bersedia menyediakan makanan dan minuman, dan langsung diantar ke pemesan. Jadi kami memesan makanan rakyat, mi instan, dan tinggal menunggu. Praktis.

Perjalanan pulang ke kota kami juga melalui beberapa tahapan. Dari base camp, kami menyeberang dengan menggunakan speedboat. Kemudian perjalanan diteruskan dengan menggunakan kenderaan roda empat melintasi jalan tanah selama sekitar empat puluh lima menit, jika kondisi jalannya bagus. Jika baru turun hujan, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur dan perjalanan bisa menjadi lebih lama. Kemudian kami mencapai jalan aspal yang mulus, jalan lintas timur Jambi - Palembang. Dari lokasi ini perjalanan ke kota Jambi memakan waktu sekitar dua jam. Dari Jambi, perjalanan akan berlanjut kembali ke Tebingtinggi, yang akan makan waktu sekitar tiga jam, termasuk melintasi jalan tanah selama satu jam. Di Tebingtinggi supir akan melapor dan mengisi bensin, tidak lupa mengecek jadwal feri penyeberangan. Jika beruntung dan ferry penyeberangan ada, kami hanya perlu satu jam untuk melintasi jalan tanah dan sekitar lima belas menit kemudian kami akan mencapai perbatasan Jambi - Riau. Jika air sedang surut dan fery penyeberangan tidak beroperasi, kami punya dua pilihan: menunggu air pasang selama beberapa jam, atau melanjutkan perjalanan melalui jalan lain yang kami lewati dari Jambi tadi, dengan beda waktu sekitar sekitar dua jam untuk mencapai perbatasan Jambi - Riau.

Bukan hanya masalah pasang surut dan mengejar fery penyeberangan saja masalah kami. Saat perjalanan pulang pada perjalanan pertama, beberapa menit memacu kenderaan pada jalan berdebu tebal sehabis fery penyeberangan, masalah lain menghadang di depan. Sebatang akasia besar tumbang melintang jalan dan tidak mungkin di terobos. Pada arah berlawanan, sebuah dump truk bermuatan tanah juga sudah menunggu. Supirnya mencoba memotong dahan-dahan akasia dengan menggunakan sebilah golok kecil. Golok tersebut sepertinya lebih berfungsi sebagai perhiasan dibandingkan dengan sebagai alat potong. Kami semua turun dan ikut membantu, memotongi dahan pohon dengan susah payah dan membuat celah sehingga setidaknya kenderaan kami bisa lewat. Truk tanah tersebut jelas harus menunggu bantuan yang lebih memadai untuk memindahkan pohon tumbang tersebut.


Jalan rusak parah di daerah Kritang

Beratnya perjalanan ...

Bisa lewat nggak ya?!

Debu tebal menutupi perjalanan...

Nyaris tidak terlewati!

Persiapan di atas speedboat

Menuju Sungai Lalan: dermaga speedboad di Pulai Gading

Ada flock di sungai, seperti di water treatment plant

Siap-siap untuk mengambil sample air pada kedalaman tertentu dengan menggunakan deep water sampler

Rumah rakit yang banyak terdapat di sepanjag Sungai Lalan

Rumah rakit lainnya

Terapung mengikuti arus sungai ke hulu atau ke hilir

Tempat pengisian bahan bakar terapung

Keluarba yang tinggal di rumah perahu di Pulai Gading

Jemputan datang. Siap untuk menjelajah Sungai Lalan.

Tumbuhan pandan yang mendominasi pinggiran Sungai Lalan

Rumah rakit lainnya yang lebih lengkap fasilitasnya.

Warga yang melintas di pagi hari

Anak-anak sekolah sepanjang pinggiran sungai Lalan menggunakan transportasi air ke sekolah

Rumah panggung bertiang tinggi di pinggir Sungai Lalan

Dua anak kecil mengamati kami penuh rasa ingin tahu dari pagar teras belakang rumah panggung mereka.

Aktivitas warga menggunakan air Sungai Lalan

Melintas jembatan Sungai Batanghari, Jambi

Menyingkirkan pohon tumbang di jalan supaya kenderaan bisa melintas

... membuat lubang yang cukup untuk kenderaan lolos

Yang penting bisa lewat!

Akhirnya lolos juga...

Dermaga speedboad Pulai Gading saat pasang tinggi

Hamparan sawah di pinggir sungai Lalan

Istirahat sebentar di kebun warga di pinggir sungai ...

Jembatan Lalan, daerah P-2

Dermaga speedboat Desa Karangagung

Dermaga speedboat Desa Karangagung

Imron Buayo (tengah), warga Desa Karangagung

Sebuah perahu menarik hamparan kayu log di Sungai Kepayang menuju Sungai Lalan

Membongkar muatan hasil survey

Warga melintasi dermaga speedboat Pulai Gading

Penjual madu hutan di Pulai Gading

Tanaman pandan di pinggir Sungai Lalan di daerah Pirikan

Anak-anak sekolah menunggu jemputan di rumah rakit di daerah Muara Medak

Kejernihan air sungai Lalan yang menyamai air minum dalam kemasan.

Wednesday, February 01, 2012

Nasi Gemuk Jambi

Tidak banyak pilihan untuk sarapan di bagian kota tempat kami menginap di Jambi. Tempat-tempat makan yang di malam harinya ramai bertebaran di kiri kanan jalan, pagi hari tidak ada yang buka. Kedai-kedai dan gerobak-gerobak makanan melompong tanpa penunggu dan entah jam berapa mereka akan buka kembali. Jadi kami bertiga berjalan kaki tanpa arah dengan harapan ada kedai makanan yang menjual menu sarapan pagi. Sekitar dua puluh menit berjalan santai, kami sampai di sebuah rumah makan yang buka. Menu yang tersaji di rak adalah lontong sayur, nasi goreng dan nasi gemuk. Penasaran, saya memesan nasi gemuk, sementara kedua kawan saya memesan lontong. Yang melayami kami adalah ibu-ibu yang sudah berumur, sementara yang muda-muda sibuk dengan urusan mereka sendiri di dalam.

Ternyata nasi gemuk adalah nasi uduk biasa, atau di Aceh dikenal dengan nama nasi guri. Berbeda dengan nasi uduk yang dijual di kota kami, yang ini lebih 'nendang'. Asesorisnya cukup lengkap, mulai dari kacang tanah goreng, teri goreng, telur, dan kerupuk yang berwarna merah. Seonggok besar sambal yang berwarna merah diletakkan di atas nasi. Masih jauh, memang dibandingkan dengan nasi uduk Medan atau nasi guri Aceh yang dilengkapi dengan sambal goreng kering dan sambal goreng ati (basah), tauco, rendang dan lain-lain. Porsinya cukup banyak untuk membuat kenyang.

Inilah salah satu bentuk keberagaman: satu jenis makanan yang sama punya nama yang berbeda di tempat yang berbeda.

Monday, January 30, 2012

Pelangi

Gambar pelangi yang diambil Sarah di dekat sekolahnya.

Sunday, January 29, 2012

Deep Water Sampler

Adalah Ross Tomlinson - orang Inggris mantan atasan saya dulu sewaktu bekerja di CRS di Aceh tahun 2005 - yang mengatakan bahwa kualitas air bisa berbeda di setiap titik kedalaman tertentu pada suatu badan air. Perbedaannya bisa sangat signifikan, bukan hanya masalah kejernihannya, tetapi juga pada kandungan bahan-bahan terlarut di dalamnya. Selama ini, saat mengumpulkan sampel air dari sungai, kami hanya mengambil air permukaan saja dan menganggap sampel air tersebut sudah mewakili air secara keseluruhan pada titik tersebut. "Itu mungkin tidak benar" kata Ross menjelaskan. "Memang bisa jadi sampel tersebut mewakili air secara keseluruhan dari lokasi tersebut, tetapi juga bisa berbeda". Lebih jauh dia menjelaskan mengenai perlunya untuk mengambil air dari setiap kedalaman tertentu untuk mengetahui distribusi kualitas air di tempat tersebut. Sungai-sugai tertentu yang tenang di permukaan tetapi berarus kuat di tengah kedalaman dan di dasar sungai mungkin mempunyai sebaran kuaitas air yang berbeda pada setiap kedalamannya.

Saat Crux Roja Espanola (Palang Merah Spanyol) merencakakan untuk merekondisi PDAM Meulaboh yang infrastrukturnya rusak karena gempa, mereka merencakan untuk membangun raw water intake yang baru. Kami ditugaskan untuk bekerja sama dengan mereka untuk memetakan kualitas air Sungai Meureubo, mulai dari muara sungai yang berhadapan langsung dengan laut sampai beberepa kilometer ke arah hilir dari lokasi rencana raw water intake point yang baru. Sampel air akan diambil dari setiap kedalaman tertentu dan sebagian parameter akan langsung dianalisa ditempat. Sebagian lagi akan kami bawa ke laboratorium untuk dianalisa lebih jauh. Untuk keperluan pengambilan sampel tersebut, Ross mengadakan kerja sama dengan sebuah NGO lain dari Swiss untuk meminjam alat untuk mengambil sampel di kedalaman tertentu. Bukan saja mereka bersedia untuk meminjamkan alatnya, seorang anggota mereka juga akan ikut bersama kami. Sayang sekali, pada suatu Minggu pagi yang cerah, ahli kualitas air yang berasal dari Amerika Serikat tersebut tewas saat berselancar di pantai Lhok Nga, Banda Aceh. “Fate is funny, isn’t it? This very guy was scheduled to meet us today, but last day he just had already gone to meet his maker”, kata Ross Senin paginya saat membawakan alat tersebut.

Alat tersebut bernama Deep Water Samper. Berbentuk tabung transparan untuk dipergunakan secara vertikal, mekanisme kerjanya ternyata sangat sederhana. Beberapa hari sebelum kepulangannya ke Inggris, Jamie Ashe - Technical Manager untuk Water and Sanitation Department CRS Meulaboh Field Office - menjelaskan cara kerja alat tersebut ke pada kami. Sebuah kait akan menahan tabung tetap terpisah dari tutup atas dan tutup bawahnya. Kait tersebut terhubung pada tali yang mempunyai penanda dalam meter. Masukkan alat tersebut dengan kait terpasang kedalam badan air yang akan diambil sampelnya. Air akan masuk ke dalam tabung dan keluar lewat bagian atas, terus berganti selama tabung bergerak menuju kedalaman tertentu. Setelah kedalaman yang diinginkan tercapai, jatuhkan beban yang terpasang pada tali. Beban akan menghantam kait, dan tutup atas dan tutup bawah tabung akan berberak mengunci tabung sehingga air yang di dalam tabung tidak akan bertukar lagi. Naikkan tabung dengan menyeret talunya ke atas. Sampel air bisa dikeluarkan melalui sebuah keran yang terpasang di tutup bagian bawah tabung. Secara keseluruhan, perlu dua tindakan untuk membuat deep water sampler bekerja. Jatuhkan alatnya ke kedalaman tertentu, kemudian jatuhkan bebannya untuk menutup tabung. Praktis dan sederhana, dan sampel air dijamin tidak akan terkontaminasi oleh air lainnya pada kedalaman yang berbeda.

Saat balik ke tempat kerja lama tahun 2006, berdasarkan cara kerja deep water sampler tersebut, kami membuat alat tersebut dengan menggunakan pipa PVC. Rancangannya berbentuk horizontal, karena akan dipergunakan di sungai. Alatnya berfungsi dengan baik.

Awal tahun 2012, kami ditugaskan untuk melakukan survey kualitas air Sungai Lalan di Musi Banyuasin untuk keperluan pembangunan pabrik baru di sana. Deep water sampler jelas diperlukan untuk mengambil sampel air pada kedalaman yang berbeda. Alat yang dibuat tahun 2006 entah dimana keberadaannya sekarang. Jadi kami memutuskan untuk membuat yang baru. Saat menunjukkan gambar Deep Water Sampler yang kami pergunakan di Meulaboh dan alat yang kami buat tahun 2006, seorang rekan punya pendapat yang berbeda. "Karena sampel air yang akan kita ambil volumenya lebih banyak, kita perlu alat yang lebih besar dan tentu saja akan lebih berat", katanya. Dengan kondisi lebih berat, sulit untuk merancang mekanisme buka kait yang bisa bekerja dengan baik. Juga butuh beban lebih berat untuk membuka kait. Berdasarkan ide rekan tersebut, rancangan dirubah. Mekanisme tutup alat yang menggunakan kait dihilangkan. Beban dirubah menjadi penutup atas yang akan mengunci alat sehingga kedap. Alatnya terdiri dari tiga bagian: tutup bawah yang juga berfungsi sebagai beban pemberat, bodi tabung, dan tutup atas. Keran sampel dipasang pada bodi tabung. Cara kerjanya lebih kurang sama: turunkan tutup bawah sampai kedalaman yang diinginkan, kemudian jatuhkan bodi tabung. Terakhir jatuhkan tutup atas yang akan mengunci tabung. Naikkan alat dengan menyeret talinya. Hasilnya sama. Sampel air yang diambil dari kedalaman tertentu akan terkurung dalam tabung dan tidak akan terkontaminasi selama perjalannya ke permukaan. Setelah di atas, sampel air bisa dikeluarkan melalui keran yang dipasang pada bodi tabung. Praktis dan sederhana.

Saat mengujinya di bak air, ternyata penutupnya terlalu berat dan membuat sisi tabung bagian atas menjadi sompel. Rekan saya mengakalinya dengan menambahkan paking karet untuk meredam sentakan saat tutup atas dijatuhkan.

Saat mengumpulkan sampel air sungai Lalan, alat tersebut berfungsi dengan sangat baik. Kami mengambil air dari berbagai posisi di sungai Lalan pada penambahan kedalaman satu meter, sampai ke dasar sungai. Walaupun kerannya patah karena menghantam dinding boat, sumbat darurat yang dibuat dari karet potongan sandal jepit bisa menyelesaikan permasalahan.

Deep Water Sampler

Tutup atas dan tutup bawah yang dilengkapi dengan keran

Mekanisme kerja kait untuk menutup tabung

Jamie Ashe menjelaskan cara kerja alat Deep Water Sampler

Pastikan kaitnya terpasang sebelum menurunkan alat ke kedalaman air

Turunkan alat pada kedalaman yang diinginkan

Jatuhkan beban untuk membuka kait dan menutup tabung sampel

Naikkan kembali alat ke permukaan untuk mengambil sampel yang di dalamnya

Survei kualitas air Sungai Meureubo pada bulan September 2005 dengan menggunakan alat Deep Water Sampler

Alat Deep Water Sampler buatan sendiri untuk keperluan pengumpulan sampel air Sungai Lalan, Musi Banyuasin

Pengujian alat sebelum dipakai di lapangan

Tutup atas alat yang sekaligus berfungsi sebagai beban

Jatuhkan tutup bawah pada kedalaman yang diinginkan

Jatuhkan bodi tabung

Jatuhkan penutup atas. Sampel akan terisolasi dalam tabung dan bisa dinaikkan ke permukaan

Penggunaan Deep Water Sampler buatan sendiri di Sungai Lalan, 26-27 Januari 2012

Rusak, tetapi masih bisa berfungsi dengan baik