Sunday, December 12, 2010
Mainan lama: kapal-kapalan
Friday, December 03, 2010
Puncak Lawang
Belum pernah satupun dari kami yang pernah ke Puncak Lawang. Beberapa kali kami berhenti dan bertanya pada orang-orang yang kami termui di jalan. Sama seperti di Aceh, etika bertanya arah pada orang-orang sangat menentukan hasil. Adalah tidak sopan jika saat bertanya, orang yang bertanya masih berada dalam mobil, atau masih duduk di atas sadel sepeda motor. Jawaban yang diberikan bisa asal jawab dan ngawur, bahkan bisa menyesatkan. Jadi, saat melintasi serombongan orang-orang tua yang sedang mengobrol di pinggir jalan, kami berhenti, dan saya turun serta mengucapkan salam dengan santun. Jawaban salam yang saya terima lebih santun dan syahdu, diiringi dengan sedikit bungkukan badan. Arah jalan ke Puncak Lawang diberikan dengan jelas, dan diulang-ulangi sepaya saya bisa mengerti. Sambil mengucapkan terima kasih, saya menyalami mereka dan permisi untuk melanjutkan perjalanan.
Melewati pasar Matur, selelah Mesjid, kami berbelok ke kanan, melalui jalan sempit. Perjalanan mendaki sepanjang beberapa kilometer. Kiri kanan jalan dipenuhi dengan kebun tebu, diselingi dengan rumah-rumah penduduk, mesjid dan sarana umum lainnya. Ditengah kerimbunan batang tebu, kilang-kilang penggilingan tebu tradisional sedang beroperasi. Gilingan kayu ditarik oleh seekor kerbau dengan mata tertutup supaya tidak pusing karena jalannya yang melingkar. Daerah ini merupakan penghasil gula tebu tradisional yang dikenal dengan sebutan saka Lawang. Rencananya dalam perjalanan pulang kami akan singgah di salah satu kilang saka ini untuk melihat-lihat. Kabarnya kita bisa juga memesan air tebu segar yang baru digiling untuk diminum. Dan sudah pasti bisa membeli saka Lawang sebagai oleh-oleh.
Mendekati puncak, kami berbelok ke kanan, kearah lokasi yang sering dipakai untuk take off terbang layang. Jika terus, akan menuju ke lokasi wisata lainnya yang baru dibuka. Dua orang remaja tanggung mendekati kami dan menanyakan berapa orang yang akan masuk ke lokasi wisata. Biayanya lima belas ribu rupiah untuk lima orang, belum termasuk parkir. Biaya parkir sebesar lima ribu rupiah akan dibayarkan langsung di tempat parkir. Di ujung pendakian, barisan pohon pinus yang nampak samar-samar karena tertutup kabut menyambut kami. Sebelah kiri terletak lokasi parkir, yang hanya muat untuk belasan kenderaan roda empat saja. Beberapa kenderaan roda empat sudah parkir duluan di area tersebut, sebuah minibus milik agen perjalanan dan beberapa kenderaan pribadi. Diujung jalan, terletak tangga yang menuju ke atas. Dan kesanalah kami menuju, menaiki belasan anak tangga ke ruang terbuka yang tertutup kabut.
Di atas, hamparan wilayah terbuka menanti. Di semacam pondokan, beberapa wisatawan - dari gerak gerik dan bahasanya sepertinya berasal dari luar negeri - sedang menikmati pemandangan. Sebenarnya yang bisa dinikmati saat itu terbatas sekali, kareka pemandangan ke arah danau Maninjau sepenuhnya tertutup kabut, putih dan tebal. Seperti memandang dari ketinggian ke arah awan tebal di bawah. Batas ke arah tebing diberi semacam pagar pengaman. Di sebelah kanan, melewati pagar, hamparan tanah berumput yang dipotong rapi dan bersih menanti. Kabut menutupi pohon pinus menciptakan suasana magis yang misterius. Kami menuju ke tempat tersebut.
Lokasi terbuka ini ke arah tebing curam tidak ada pagar sama sekali. Bisa dibayangkan seandainya ada yang bernasib buruk karena terlalu ke pinggir tebing dan terjatuh ke bawah, nasibnya bisa ditebak. Jatuh dari ketinggian ratusan meter, rasanya sulit untuk bertahan hidup. Yang membawa anak-anak kecil harus ekstra hati-hati, supaya anak-anak tidak lepas dari pengawasan dan bermain terlalu kepinggir.
Tidak banyak yang bisa dinikmati di sini saat ini. Hanya udara dingin dan kabut tebal menutupi pemandangan, padahal hari sudah mendekati jam sebelas siang. Lalu secara tiba-tiba, pelan dan pasti, kabut di bawah mulai menyibak, menampilkan pemandangan ke arah kota Maninjau di bawah. Rasanya jauh sekali kebawah, seperti memandang dari pesawat udara. Danau mulai nampak, tenang seperti kaca, misterius dan berwarna biru menyeramkan. Semakin kabut menghilang, pemandangan luar biasa semakin jelas terpampang di hadapan kami. Danau Maninjau nampak jelas dari ketinggian Puncak Lawang, dikelilingi oleh gunung dan pebukitan yang nampak samar-samar di balik kabut. Keramba ikan berjejer di pinggir danau. Sayang sekali, langit berawan. Seandainya langit bersih dari awan, pemandangan akan lebih indah. Kami semua tegak nyaris tanpa kata menikmati pemandangan yang begitu mempesona.
Sumatra Barat memang dianugerahi alam yang luar biasa.






Thursday, December 02, 2010
Bukik Takuruang
Kira-kira seratus meter melewati lokasi Bukik Takuruang, beberapa cottage sedang dibangun. Sebuah cafe sudah beroperasi, dengan lokasi yang menghadap ke arah bukit yang menawarkan pemandangan yang mempesona. Dikejauhan, membelah bukit, sebuah air terjun menderu menuju ke bawah. Di jalan, serombongan anak sekolah sedang melakukan kegiatan lintas alam.
Di sebelah kanan jalan, dengan sedikit mendaki tebing yang membatasi jalan, terpampanglah pemandangan yang tidak terduga: hamparan sawah bertingkat-tingkat yang dipagari oleh bukit-bukit kecil dengan tebing yang nyaris terjal. Sungguh sebuah panorama yang tidak terlupakan.



Tuesday, November 30, 2010
Kobokannya mana?
Acara pernikahan di Sumbar rumit dan berliku, setidaknya untuk beberapa acara pernikahan yang pernah kami hadiri. Jika di Aceh, dalam setiap acara yang mengundang tamu-tamu, biasanya acara makan mendapat porsi paling utama dari seluruh acara, dengan tidak mengenyampingkan acara inti, tentu saja. Di sini, acara makan merupakan bagian terakhir dari seluruh rangkaian acara, yang memakan waktu yang lama.
Pernah kami menghadiri acara pernikahan seorang kawan yang diadakan di ibukota provinsi tempat kami tinggal. Kami diundang untuk datang jam delapan malam, karena acara pernikahannya dilakukan sekitar jam delapan lewat. Mengikuti kebiasaan di Aceh, biasanya tamu-tamu makan dulu sebelum acara lainnya, jadi kami datang ke acara tersebut dengan perut kosong. Sesampai di rumah yang punya hajat, kami mendapati makanan sudah terhidang dan tersusun rapi, siap untuk disantap. Tamu-tamu semakin ramai, tetapi ajakan untuk makan tidak kunjung tiba. Teman-teman yang sama berasal dari Aceh mulai berbisik-bisik - maklum semuanya datang dengan perut kosong - saling mempertanyakan kapan akan makan. Rangkaian acara pernikahan kemudian dimulai, dan memakan waktu sangat lama. Kedua belah pihak saling berpidato, panjang dan seolah tidak habisnya. Disusul oleh acara berbalas pantun antara kedua pihak mempelai, dan tidak ada yang mau mengalah. Waktu berlalu, jam sudah menuju ke angka tengah malam. Seorang yang kelihatan bijak dan berwibawa maju kedepan, menengahi lomba pidato dan lomba pantun antara kedua pihak keluarga mempelai. Semuanya pemenang, dan tidak ada yang nomor dua. Kemudian, sebelum kedua mempelai dinikahkan, pidato-pidato dan kata sambutan kata sambutan lainnya susul menyusul. Perut semakin lapar, dan mata mulai mengantuk. Kami menyingkir dari ruangan tempat acara dan keluar mencari udara segar. Nampaknya acara makan tidak akan dimulai sebelum tengah malam terlewati. Sesekali kawan-kawan melirik makanan yang terhidang rapi, yang seolah melambai untuk diambil. Dari pengeras suara yang dipasang, kami mendengat ijab kabul diucapkan. Nah, berakhir sudah, dan semua akan makan sekarang, batin saya. Ternyata masih ada pidato susulan tentang segala hal yang berkaitan dengan kehidupan berumah tangga dan lain-lainnya. Menjelang jam satu acara selesai dan semua tamu dipersilahkan untuk makanan yang sudah terhidang. Nasinya sudah keras dan dingin seperti pasir curah. Dengan pengalaman tersebut, jika ada acara-acara seperti itu, saya makan dulu sepelum pergi.
Jadi, sebelum menghadiri pernikahan kawan di atas, kami mengisi perut dulu sekedar untuk mengganjal. Bisa jadi walaupun kata kawan tersebut acaranya jam satu siang, acara makannya bisa molor sampai jam empat sore atau bahkan lebih. Lebih baik bersiap-siap daripada kelaparan lagi.
Kami nyaris terlambat sampai di lokasi. Acara sudah dimulai. Ternyata acaranya tidak rumit dan tidak lama. Hanya kata sambutan dari kedua belah pihak dan lain-lainnya. Pihak marapulai - mempelai laki-laki- mengharapkan anak kemenakan mereka bisa diterima dengan baik di lingungan keluarga yang baru. Pihak anak daro - mempelai perempuan - meminta maaf karena sambutan mereka yang sangat sederhana. Kemudian disusul dengan ceramah dari penghulu untuk kedua mempelai dan seluruh yang hadir mengenai kehidupan berumah tangga yang baik. Kemudian acara ijab kabul dilakukan. Wali mempelai perempuan nampak sedikit grogi sehingga ucapan ijab menjadi salah dan harus diulang berulang kali, yang membuatnya semakin grogi. Sedangkan mempelai laki-laki dengan tangkas menyambar ucapan ijab yang dilontarkan wali mempelai perempuan. Karena terus salah mengucapkan kata-kata ijab, acara ditunda sebentar. Wali mempelai perempuan diberi kesempatan sejenak untuk menenangkan diri dan menghapal kembali kata-kata ijab yang harus diucapkan. Setelah semuanya nampak beres, acara ijab kabul kembali dilakukan dan selesai dalam satu kali pengucapan saja. "Sah", kata para saksi. Semuanya mengucapkan syukur.
Dari mesjid, semua yang hadir dipersilahkan ke rumah mempelai perempuan untuk menikmati makanan. Rumah tersebut terletak persis di sebelah mesjid, ke arah ke belakang. Tenda berwarna cerah sudah didirikan, kursi-kursi tamu juga dibalut dengan kain yang berwarna senada. Makanan terhidang rapi di meja sebelah kiri, berupa-rupa lauk, tinggi dalam pinggan lebar menunggu untuk diambil. Nasi ditempatkan dalam termos tertutup untuk menjaganya tetap hangat. Piring-piring kosong dan sendok-sendok tersusun rapi diujung meja. Air minum seperti biasanya adalah air dalam kemasan, yang berupa gelas-gelas plastik yang tertutup rapat. Paktis dan bersih. Kami segera mencari meja yang kosong dan bersiap untuk mengambil makanan.
Ternyata utusan tuan rumah mempersilahkan kami untuk masik ke dalam, untuk bergabung dengan rombongan mempelai laki-laki yang sudah duluan. Kami sebenarnya lebih suka makan diluar - lebih bebas - tetapi undangan tersebut jelas tidak bisa ditampik, karena kami dianggap bagian dari rombongan mempelai laki-laki. Kamipun masuk ke ruangan, berdesakan dengan tamu-tamu lain, karena ruangan tersebut tidak mampu menampung semua tamu. Sudah jelas untuk duduk saja tidak nyaman, karena tidak bisa duduk lepas. Beragam makanan sudah terhidang rapi, ikan, gulai, rendang, ayam, sayur-sayuran, buah-buahan dan kue. Air minum dalam kemasan diedarkan secara beranting begitu kami berdesakan duduk. Nasi hangat dalam termos juga diedarkan secara beranting dari tangan ke tangan. Nasinya lepas dan gembur, cocok untuk dimakan dengan gulai dan rendang.
Setelah piring terisi nasi dan lauk-pauk yang diambil dari lokasi yang terjangkau tangan, matapun melirik kiri kanan, mencari air untuk pencuci tangan. Ada beberapa, di lokasi yang berjauhan. Biasanya, air cuci tangan disediakan dalam mangkok kecil-kecil, dengan jumlah yang sesuai dengan tamu yang hadir. Kali ini tidak. Hanya beberapa mangkok kobokan untuk semua tamu yang makan dalam ruangan. Juga tidak ada sendok yang tersedia, sehingga harus makan dengan tangan. Tetapi, semua orang nampaknya merasa nyaman dan biasa saja. Air kobokan setelah dipakai dialihkan ke orang berikutnya, dipakai lagi dan dialihkan lagi. Begitu berulang kali. Karena tidak biasa, saya memilih untuk mencuci tangan dengan menggunakan air minum. Makanannya enak. Gulai daging rasanya enak, begitu juga dengan palai ikan nila, rendang daging dan rendang ayam. Mi goreng juga tersedia, keras dan kenyal seperti wayer listrik, tetapi rasanya enak. Berulang kali saya dan kawan-kawan menambah nasi dan lauk, yang memang tersedia dalam jumlah yang cukup. Selesai makan, mata kembali lirik kiri kanan mencari kobokan terdekat - bekas pakai cuci tangan tadi beraman-ramai sebelum makan - untuk duluan mencuci tangan. Kalau dapat giliran kedua dan seterusnya air kobokan yang jumlahnya paling seratus cc itu akan berubah menjadi kotor, dan tidak mungkin lagi bisa untuk membersihkan sisa makanan yang ada di tangan. Ternyata kalah cepat, orang sebelah saya langsung mencelupkan tangannya kedalam kobokan. Kembali saya memakai air minum untuk mencuci tangan, jelas jumlahnya tidak mampu untuk membersihkan tangan yang belepotan minyak dan lemak makan. Kemudian lap tangan dengan banyak tisu untuk berusaha menghilangkan bau makanan dari tangan.
Ternyata saya ketahui kemudian, cara mencuci tangan setelah makan adalah tidak dengan mencelupkan tangan ke dalam mangkok air kobokan. Air dari mangkok dituang sedikit ke tangan dan ditampung di piring bekas makan. Cuma sedikit saja, kemudian mangkok kobokan diletakkan lagi atau diedarkan ke orang sebelah dan seterusnya. Bagi yang tidak mengetahui, seperti kami, langsung saja main celup, sehingga air kobokan menjadi kotor dan tidak bisa lagi dipergunakan untuk mencuci tangan. Karena alasan itu pula - mungkin - orang-orang makan nasi yang nyaris kerontang, dengan kuah sedikit saja. Makannyapun dengan ujung jari, jadi hanya sedikit saja bagian tangan yang kontak dengan makanan.
Jadi, dengan tangan yang masih kotor dan berbau rendang dan gulai saya dan mungkin juga kawan-kawan lain menyalami marapulai dan anak daro untuk mengucapkan selamat.
Tuesday, November 09, 2010
Situjuh ...
Akhir pekan lalu seorang tetangga mengajak kami ke kampungnya di daerah Situjuh, Payakumbuh. Terletak di lereng pebukitan, Tanjuang Simantuang bercuaca dingin sepanjang tahun. Desa tersebut terletak sekitar empat belas kilometer dari kota Payakumbuh. Dari arah Payakumbuh menuju ke Bukittinggi, di simpang empat Ngalau Indah berbelok ke kanan, menyusuri jalan mulus. Semakin keluar kota, jalanan semakin menyempit, walaupun kondisinya tetap aspal yang mulus. Jika ada kenderaan roda empat yang berselisih jalan, salah satu harus mengalah untuk membiarkan yang lainnya lewat.
Kami berangkat selepas magrib. Sebenarnya perjalanan hanya berjarak sekitar dua ratus lima puluh kilometer saja, tetapi karena sering berhenti di sepanjang jalan, kami baru sampai di tujuan jam empat dinihari. Tuan rumah meyambut kami dengan ramah.
Setelah sempat tidur sebentar, selesai shalat subuh saya mengajak Sarah jalan-jalan. Cuaca dingin berkabut, jadi kami memakai jaket untuk melawan dingin. Kami menempuh jalan yang basah karena bekas hujan semalam. Dedaunan menghijau dari pohon dan perdu yang tumbuh di kiri kanan jalan. Di depan rumah sebatang durian sarat dengan buah durian yang besar-besar.
Sekitar dua puluh menit berjalan, kami sampai di pesawahan. Sawah di daerah ini ditanami sepanjang tahun, nyaris tidak pernah kosong. Nampak petak sawah yang baru dipanen, sementara petak-petak yang lainnya masih menghijau. Sementara beberapa petak di sebelahnya sedang dibajak dengan traktor tangan. Air tersedia sepanjang tahun.
Panorama yang nampak luar biasa. Sawah berjenjang dengan hamparan padi yang hijau, diselingi oleh petak-petak sawah berisi padi yang menguning siap panen membuat pemandangan yang memukau. Udara sejuk segar mengisi paru-paru kami, sangat berbeda dengan udara tercemar limbah industri yang biasa kami hirup di tempat kami tinggal.
Banyak sekali anjing di sini. Nyaris setiap rumah memelihara anjing – kecuali rumah tempat kami berkunjung, tidak nampak anjing berkeliaran - kadang lebih dari satu ekor. Anjing-anjing tersebut adalah untuk menjaga rumah, walaupun ada juga anjing buruan, yang dipergunakan untuk olehraga buru babi yang sangat populer di daerah ini. Anjing-anjing yang kami lewati kadang menggertak dengan menggeram dan memamerkan giginya. Tidak ada masalah kalau cuma satu ekor. Tetapi kalau banyak, jika yang satu mulai menyalak karena kehadiran kami yang asing, yang lainnya ikut-ikutan. Ini mengkhawatirkan. Seorang kawan yang pecandu buru babi pernah mengingatkan cara menghadapi anjing-anjing kampung ini. “Jangan pernah lari kalau mereka menyalak, karena mereka akan menjadi agresif dan mengejar. Jika yang satu mengejar,hadapi saja. Mereka tidak akan berani. Tongkat akan sangat berguna. Pukul anjing terdekat sekuatnya, sehingga kaingnya bisa membuat yang lainnya ketakutan”. Tetapi saya tidak sampai perlu seperti itu di sini. Beberapa kali kami melewati gerombolan anjing-anjing, aman-aman saja. Kadang anjing-anjing tersebut mengendus-ngendus dalam jarak yang sangat dekat, sehingga Sarah ketakutan. Tetapi sebentar kemudian pemiliknya memanggil mereka. Anjing-anjing tersebut dengan patuh meninggalkan kami.
Rumah-rumah yang kami lewati kebanyakan rumah sederhana, walaupun beberapa ada yang berupa gedung yang cukup bagus. Penghidupan masyarakat di sini bertumpu pada pertanian, sawah dan ladang. Sapi-sapi dan kerbau-kerbau dalam berbagai ukuran mengisi kandang-kandang dekat rumah penduduk. Kerupuk opak – salah satu produksi dari daerah ini – dijemur berjejer dalam jumlah besar di panggung-panggung di pinggir jalan.
Cuaca dingin membuat selera makan menjadi besar. Semua makanan terasa enak. Makanan khas daerah ini, pangek atau gulai (sebenarnya lebih mirip asam pedas dibandingkan gulai) ikan atau daging menjadi menu utama. Tuan rumah minta maaf berulang kali karena tidak cukup menjamu kami, padahal semua macam makanan sudah terhidang.
Sabtu siang kami ke Harau. Kemarau yang sudah berlangsung hampir dua bulan membuat debit air terjun menjadi kecil. Di salah satu air terjun yang ada kolam pemandiannya, kolamnya malah kosong sama sekali. Tumpukan sampah menggunung di dasar kolam, menunggu untuk dibersihkan. Dua air terjun yang lain, masih ada airnya walaupun sedikit. Suasana ramai oleh pengunjung yang mandi atau sekedar bersantai.
Hanya dua hari kami di sini. Minggu siang kami balik ke tempat kami tinggal, setelah sebelumnya sempat lagi singgah ke Harau. Pengunjung ramai, karena sekarang hari Minggu. Kolam menjadi penuh dengan orang-orang dan anak-anak yang mandi. Menjelang jam empat sore kami meninggalkan Harau. Di jalan kami sempat berhenti dan beristirahat di Tanjung Alai, menikmati makanan kecil dan suasana matahari terbenam.


Friday, September 24, 2010
Mudik - Belantara Jalan Raya
Pengemudi yang peduli dengan dirinya, kenderaan dan orang-orang lain di jalan raya mengemudi dengan kecepatan yang wajar. Mereka yang tidak peduli dengan orang lain di jalan raya, mengemudi dengan kecepatan tinggi. Dan mereka yang tiak peduli apa-apa mengemudi dengan kecepatan lebih tinggi dan ugal-ugalan. Orang-orang seperti ini, menganggap pemakai jalan lain sebagai penghalang. Orang-orang lain harus minggir seminggir-minggirnya saat mereka ingin melaju kencang. Terlambat menepi sedikit, klakson keras meraung, diikuti dengan tatapan tajam dan mengancam. Jalanan memang dikuasai oleh orang-orang gila.
Etika berkendara di jalan raya sepertinya menghilang. Anak-anak tanggung dengan sepeda motor merupakan ancaman besar bagi orang-orang lain di jalan raya. Satu-satunya keahlian yang mereka miliki adalah memutar gas sepeda motor dan menekan rem. Tidak lebih dari itu. Mobil-mobil pribadi dengan plat nomor dari berbagai daerah juga menunjukkan tabiat yang sama. Seolah jalan ini ada hanya untuk mereka saja, dan pemakai jalan yang lain harus menyingkir saat mereka berada di sana.
Jalan raya berubah menjadi belantara yang mengerikan. Berbagai kenderaan dengan berbagai jumlah roda melaju kencang. Butuh sampai sepuluh menit untuk menyeberang jalan raya di kampung yang biasanya sangat sepi. Menyeberang harus cepat karena jalanan hanya kosong selama beberapa detik. Kenderaan kecil dengan jumlah roda paling sedikit justru yang paling beringas, baik kenderaannya ataupun pengendaranya. Mereka menyelip kiri kanan setiap ada celah kosong. Kenderaan yang lebih besar justru lebih toleran, apalagi truk-truk yang merayap lambat.
Tidak heran kalau kecelakaan sering terjadi. Lepas dari Lhok Nibong, disebuah tikungan yang tidak seberapa patah di ujung jembatan, kami mendapati orang-orang ramai berkerumun. Kenderaan-kenderaan berhenti untuk menengok, sehingga kemacetan kecil terjadi. Kami ikut berhenti. Rupanya sebuah SUV yang tidak bisa dikendalikan ditikungan tersebut menabrak sebuah pickup tua yang berjalan pelan didepannya. Laju SUV yang cukup tinggi menyebabkan pickup tersebut terpental dari jalan dan jatuh ke jalan tanah sekitar dua meter dibawahnya. Tidak cukup sebuah pickup untuk menghentikan laju SUV tersebut, yang terus meluncur sehingga ikut terguling ke bawah. Dan disanah mereka berada: pickup yang pintu bak belakangnya terlepas, dan SUV yang terbaring telentang dengan roda menghadap langit. Bagian depan SUV tersebut berantakan. Para penumpangnya babak beelur dan cedera. Pengemudi pickup sebenarnya tidak apa-apa, hanya kaget setengah mati. TIdak terima ada kenderaan lain yang melaju pelan di depan sehingga menghalangi jalan mereka sehingga menyebabkan kecelakaan, supir SUV tersebut mengamuk dan memukuli supir pickup tersebut. Masyarakat yang berdatangan ke tempat kejadian, digertak dengan kekuasaan dan taring yang dimililiki: pamer senjata api genggam untuk menunjukkan siapa mereka. Karena masyarakat semakin ramai, mereka melarikan diri meninggalkan korbannya yang babak belur.
Saya membayangkan seandainya di depan mereka tadi bukan pickup butut yang berjalan pelan, tetapi pohon besar yang tumbuh di pinggir jalan, atau tiang jembatan yang kokoh. Apakah mereka akan membawa chainsaw ataupun excavator untuk memotong pohon tersebut atau mengeruk habis tiang jembatan tersebut karena berada di tempat yang salah pada saat mereka ingin ngebut? Seharusnya jalan yang harus ada di situ, di depan mereka, bukan tiang jembatan, bukan pohon. Apalagi pickup butut yang berjalan pelan sehingga menghalangi kenderaan mereka yang ngebut kencang.
Kami di sana juga diinterogasi oleh warga, apakah kami satu rombongan dengan penumpang SUV tersebut? Apakah kami kenal nereka? Tidak, kami tidak kenal mereka. Kami hanya pelintas yang kebetulan lewat. Ada apa rupanya? "Jangan mentang-mentang punya senjata bisa memukuli orang seenak perutnya saja! Kami juga bisa emosi, bukan hanya mereka!", seorang warga memberi penjelasan dengan muka sangar. Orang-orang semakin berkerumun dan kami pelan-pelan menjauh. Entah apa tindakan yang ingin diambil mereka. Bisa saja mereka kalap dan membakar SUV tersebut. Tetapi sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Saat kami meneruskan perjalanan, serombongan polisi bersenjata tiba dilokasi dengan sirene yang meraung-raung.
Malam hari, memasuki Tanjungpura, jalanan semakin ramai oleh kenderaan. Roda dua melintas dengan cepat, roda empat dan lebih banyak merayap pelan mengikuti antrian dalam kemacetan. Tiba-tiba semua laju kenderaan terhenti, tidak ada yang bergerak lagi. Di depan kami sebuah truk besar menghalangi. Orang-orang berlarian ke depan. Sebuah kecelakaan telah terjadi. Beberapa menit kemudian, seorang perempuan muda dipapah dua orang melintas di samping kami, sedang menangis. Dibelakangnya seorang ibu-ibu berteriak, "Hancur! Betul-betul hancur!". Kami tidak mengerti apa yang dimaksud dengan hancur. Apakah kenderaannya, atau sekalian dengan pengendaranya. Selama sepuluh menit tidak ada gerakan kenderaan sama sekali, hanya sepeda motor yang menyelip diantara kenderaan-kendaraan yang lebih besar. Tiba-tiba seseorang muncul di depan kami, menuruh untuk maju. "Motor kecil bisa lewat", katanya. Motor adalah istilah Sumater bagian utara untuk mobil. Kamipun bergegas untuk maju, diikuti oleh kenderaan lainnya. Beberapa puluh meter dari tempat kami berhenti tadi, terpampanglah pemandangan yang mengerikan: seorang lelaki muda tertelentang di tengah jalan. Dalam temaram lampu mobil-mobil kami melihat dengan jelas, sepeda motor terbalik dengan kondisi yang betul-betul berantakan. Darah memenuhi jalan. Samar-samar kami bisa melihat - walaupun sebenarnya kami tidak ingin melihat - muka korban yang hancur. Sangat mengerikan. Tidak dketahui apa yang menabraknya. Kenapa orang-orang tidak berinisiatif untuk menutup korban - setidaknya bagian wajahnya dengan sesuatu?
Di Aek Kanopan, dalam antrian kemacetan dari kedua arah, sebuah sepeda motor melaju cukup kencang dari arah depan dan menyelip untuk menyeberang ke sebuah SMU. Tidak terkendali, roda depan tergelincir dan jatuh Pengendara dan penumpangnya tersungkur, seseorang malah meluncur dalam kondisi telungkup di pinggiran jalan yang berbatu-batu kerikil. Tidak ada yang parah, memang, hanya memar-memar dan goresan-goresan yang berdarah-darah. Seharusnya hal ini tidak akan terjadi jika mereka bisa lebih bersabar.
Melewati Kandis, kembali kami mendapati sebuah truk yang terbalik di sebuah penurunan curam yang diikuti oleh tikungan patah. Kami tidak berhenti karena sedang berada dalam antrian kemacetan, dan juga tidak ada tempat untuk berhenti. Pinggiran jalan terlalu sempit, dan kenderaan ramai dari kedua arah jalan.
Jalanan memang belantara yang kejam.
Thursday, September 23, 2010
Mudik - Jalan-jalan ...
Tidak seperti Batee Iliek yang ramai, lokasi tujuan wisata Sarah di Aceh Besar (sekitar tiga puluhan kilometer dari Banda Aceh ke arah Meulaboh lewat Lhoknya) justru seperti dilupakan orang. Dulu sebelum tsunami menghantam pesisir Aceh, daerah ini juga merupakan salah satu tujuan wisata lokal yang sangat diminati warga setempat. Lokasinya berupa sungai berbatu-batu, dengan air dangkal dan tenang (walaupun ada juga lokasi yang dalam dan berarus kencang), airnya sejuk dan dingin. Lokasinya cukup dekat dengan lintasan jalan Banda Aceh - Meulaboh lama. Setelah jalan raya tersebut direlokasi, agal sulit untuk menemui lokasi ini. Tidak ada tanda ataupun penunjuk jalan yang jelas. Beberapa kali kami bertanya di warung-warung sebelum akhirnya mendapatkan jalan masuk ke lokasi tersebut. Jalan akses ke lokasi jelak, dulunya aspal, tetapi sekarang kondisinya rusak parah. Hanya sedikit pengunjung saat kami sampai di sana. Beberapa oplet dan pickup yang membawa keluarga (mereka warga Aceh yang tinggal di Medan) dan satu pasangan yang menggunakan mobil pribadi. Mobilnya lengket di pasir, sehingga harus didongkrak dan didorong beramai-ramai. Tidak ada satupun orang yang berjualan di lokasi tersebut, sehingga semuanya nampaknya membawa bekal tersendiri. Kami tidak membawa apa-apa, karena biasanya nyaris di setiap lokasi wisata ada para penjual makanan dan minuman. Anak-anak dan beberapa laki-laki dan perempuan sedang mandi dalam kesejukan air sungai. Pemandangannya bagus, walaupun matahari sangat terik. Setidaknya air sungai cukup sejuk dan udara cukup dingin. Harusnya tempat ini dikelola lebih baik, karena daya tariknya tidak berkurang sejak dahulu.
Kalau lokasi tujuan wisata lainnya menghimbau orang-orang untuk singgah, lokasi wisata irigasi Keumala justru memasang papan nama yang melarang orang-orang untuk berwisata ke lokasi tersebut. Terletak sekitar dua puluhan kilometer dari Beureunuen ke arah Tangse, Keumala menawarkan pemandangan pedesaan yang mempesona. Sungai yang menjadi tujuan wisata merupakan sungai berbatu-batu kecil dengan air yang jernih dan sejuk. Selepas lokasi irigasi, airnya dangkal dan pelan. Lokasi inilah yang dimanfaatkan orang untuk berekreasi. Dulu, setiap ada liburan ataupun hari raya, tempat ini ramai dipadati pengunjung. Orang berdatangan dari berbagai tempat untuk menikmati lokasi ini. Sekarang, suasanya sangat berbeda. Di jalan masuk ke lokasi, papan nama dengan tulisan dalam cat merah mengancam. "Dilarang berekreasi di lokasi ini". Kami bertanya pada seorang ibu yang lewat, apakah kami bisa masuk ke lokasi tersebut. Tidak ada masalah, katanya. Kamipun masuk dan mendapati suasana yang betul-betul berbeda. Suasananya betul-betul sepi dan mirip hutan belantara. Tidak ada satu orang yang beraktivitas di sana. Deru air yang mengalir dari saluran utama ke saluran-saluran pembagi merupakan satu-satunya suara di keheningan hutan. Penasaran, kami terus bergerak ke hilir. Juga tidak ada siapa-siapa. Rumah-rumah untuk keperluan kegiatan irigasi - yang dulu dimusim liburan berubah menjadi kedai penjual makanan dan minuman - telah rusak parah dan sepertinya tida dihuni lagi. Jejeran anak tangga yang berjumlah ratusan yang mendaki dan menuruni punggung bukit bisa ditandai lagi lokasinya. Salah satu tulisan bernada tegas terpampang di pintu air "Yang membawa pasangan tidak sah adalah babi". Tempat yang menakutkan.
Di sebuah jembatan sempit kami berhenti. Sungai dalam di bawah kami dengan salah satu sisi nyaris tegak lurus, menawarkan pemandangan yang mempesona. Airnya dangkal, dengan dasar pasir dan betu kerikil. Pepohonan rindang tumbuh di kedua sisi sungai. Airnya mengalir pelan, sayup dan teduh. Sebuah tempat yang cocok untuk rekreasi keluarga. Disebelah hilir, truk-truk sedang memuat pasir. Hamparan sungai yang begitu luas, mungkin lebarnya mencapai lebih dari seratus meter, berisi pasir dan kerikil. Hanya sedikit dari bagian sungai yang dialiri air, dangkal, jernih dan tenang.
Seorang tua melintas pelan dengan sepeda motor. Saya mengucapkan salam dan dia berhenti. Dari dia saya mendapat penjelasan kenapa lokasi ini dilarang untuk dijadikan lokasi rekreasi. "Banyak yang berbuat yang tidak-tidak di sini. Pasangan-pasangan yang mencari tempat sepi, anak-anak muda yang membuat keributan, dan lokasi yang merimba". Merimba maksudanya pohon-pohon dan belukar yang tumbuh tidak terkendali dan menjadi hutan. "Sebenarnya, ada juga keluarga-keluarga yang berkunjung ke sini. Biasanya mereka turun ke bawah, ke pinggiran sungai. Makan-makan, mandi dan beristirahat", lanjutnya. Kamipun bisa, katanya. Ada jalan kecil yang langsung ke bawah, menuju ke pinggiran sungai, yang bisa dilewati oleh kenderaan roda dua dan empat. Tidak ada yang melarang, katanya. Dulu, katanya - tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan - daerah ini adalah daerah yang ramai. Setiap liburan dan akhir pekan, para mengunjung meramaikan lokasi. Penduduk setempat mendapat berkahnya. Ada yang berjualan, ada yang menjadi tukang parkir, menyewakan tikar dan lain-lain. Biaya dari tiket masuk juga dimanfaatkan untuk perawatan lokasi dan juga untuk masyarakat setempat. Dia sendiri ("mungkin anak masih ingat") berjualan air tebu di depan pintu masuk."Cukup lumayan untuk menambah penghasilan", katanya. Sekarang semuanya tidak ada lagi. Papan penunjuk lokasi dan tulisan-tulisan di dinding bangunan yang bernada tegas dan mengancam mengusir para pengunjung yang mau kemari. Jadi kemana saja pengunjung yang kami temui di jalan - baik berombongan ataupun sendiri-sendiri- di jalan yang searah dengan kami tadi? "Mereka terus ke Tangse, Krueng Meuriam", kata bapak tersebut. Daerah Krueng Meuriam menjadi ramai sekarang, di lokasi air terjun kecil yang lokasinya bersih di pinggir jalan ke Meulaboh lewat Geumpang. Sungai - lebih tepatnya jurang - yang berair jernih dan melingkar nyaris berbentuk huruf C, yang lokasinya berseberangan dengan lokasi air terjun Krueng Meuriam. Sepanjang jalan antara Tangse dan Gempang banyak terdapat pinggiran sungai yang landai, berair jernih dan berbatu-batu, yang menarik untuk di singgahi. Sebenarnya kami ingin terus kesana, tetapi karena hari sudah sore dan lokasinya masih cukup jauh, niat tersebut kami urungkan.
Itulah beberapa lokasi yang kami kunjungi selama kami berada di Aceh. Sebenarnya daftar kami jauh lebih panjang, cuma tidak kesampaian. Mungkin lain kali.

