Friday, July 20, 2012

Kera-kera Alas KEdaton

Dari Desa Brembeng kami meluncur ke objek wisata Alas Kedaton, yang juga terletak di wilayah Tabanan. Jalan aspal yang mulus membawa kami ke ketinggian. Udara mendung dan berkabut tipis, dan gerimis mulai turun. Kami menjadi rombongan pengunjung pengunjung pertama pagi itu. Setelah membayar tiket masuk, kenderaan kami diparkir di depan deretan kios suvenir. begitu turun dari kenderaan, kami langsung disambut oleh sekelompok kera. Kera-kera lainnya bertebaran di semua tempat, selang-seling dengan anjing, dan nampaknya hubungan antara kedua makhluk yang berbeda tersebut baik-baik saja. Kera-kera berbagai ukuran bergantungan di pepohonan, merangkak di lantai dan di kalanan, duduk di trotoar. Kera-kera ini bagian dari tempat ini, sebuah pura suci agama Hindu yang dikelilingi oleh hutan alam yang dipertahankan keasliannya. Rupanya dari hutan inilah para kera ini berasal. Sedikit berbeda dengan kera lain yang saya kenal, kera di sini memiliki semacam punuk di kepalanya, yang terdiri dari rambut yang meruncing di tengah kepalanya.

Dua orang wanita penjaga suvenir mendekati kami, mengatakan mereka akan memandu kami. Nanti, selesai mengelilingi pura, mereka sangat mengharapkan kami untuk singgah di kios suvenis milik mereka dan membeli beberapa oleh-oleh dengan harga yang "sangat wajar". Lebih jauh mereka menjelaskan, bahwa para penjual suvenir di sini menganut semacam sistem antrian, jadi mereka harus menunggu giliran untuk memandu para pelancong dan kemudian mengajaknya ke kios mereka. Karena banyaknya kios suvenir, di musim sepi, masa tunggu bisa berhari-hari, kata mereka.

Ada aturan mengunjungi objek wisata dan pura Alas Kedaton. Monyet-monyet itu, yang merupakan bagian dari pura tersebut, tidak boleh diapa-apakan. Karena kebebasannya tersebut, dan nampaknya para monyet mengetahuinya dan memanfaatkannya betul-betul, monyet-monyet tersebut bertidak sesuka hati mereka. Jika ada pengunjung yang membawa kantong, dengan segera gerombolan monyet akan mendekat merubung karena mengira kantong tersebut berisi makanan untuk mereka. Jika kita menggenggam tangan, para monyet akan berusaha menarik tangan dan membuka untuk mengambil isinya. Dan pengunjung tidak diperbolehkan untuk bertindak kasar kepada monyet-monyet tersebut.

Monyet tetaplah monyet, di pura suci atau tidak. Beberapa ekor monyet nakal melarikan sepotong pakaian yang dijual di sebuah kios suvenir, dan meninggalkannya di atas atap. Pemiliknya berteriak-teriak menghalau. Seorang lelaki memanjat atap dan mengambil kembali pakaian yang dilarikan oleh para monyet tersebut.

Terhadap pengunjung monyet bersikap lebih seenaknya lagi. Saat kita lengah, ada saja monyet yang berusaha memnjat ke bahu bahkan ke kepala. "Jangan diusir", kata perempuan pemandu kami."Kasih kacang, nanti dia akan turun sendiri". Atau, kalau tidak punya kacang, "Jongkok saja. Monyetnya akan turun". Kacang yang sudah dibeli sebelumnya disebarkan di jalanan, dan para monyet merubung, termasuk monyet yang masih hinggap di kepala. Jika monyet bertingkah berlebihan dan pengunjung merasa terganggu, pemandu akan mengusir monyet dengan tongkat yang mereka bawa.

Pengunjung lain mulai berdatangan. Ada beberapa pengunjung yang sepertinya berasal dari India, lengkap dengan pakaian tradisional mereka.

Kios-kior suvenir menjual berbagai cenderamata yang unik. Ada kaus dan pakaian khas Bali, kain pantai, berbagai ukiran, gantungan kunci, sampai patung unik berbentuk alat kelamin laki-laki yang berukuran raksasa. Tetapi, sepertinya aturan harus berbelanja di kios milik pemandu kami tidak mutlak berlaku. Kami juga singgah di kios lainnya dan membeli beberapa barang, dan tidak ada masalah apa-apa.













































Thursday, July 19, 2012

Brembeng, Tabanan, Bali

Akhirnya, perjalanan panjang kami dari Mojokerto berakhir. Sekitar jam setengah empat pagi, kenderaan kami berbelok memasuki jalan kecil dan berhenti di pintu pagar sebuah rumah. Sunyi senyap di sekeliling kami, warga sedang berada pada puncak lelapnya. Setengah mengantuk kami turun. Lampu-lampu yang bersinar redup dibalik embun dinihari memancarkan cahaya temaram. Mengikuti tuan rumah, kami melangkah mkelewati pura di depan rumah, terus ke sebuah rumah yang lebih mirip dengan bale-bale tempat bersantai. Dalam keremangan cahaya, kami mengamati bahwa bale-bale tersebut lebih indah dari yang kami sangka, lukiran-lukisan di dinding, ukiran pada tiang-tiang penyangga, ukiran pada pintu masuk yang dibuat dengan penuh kehalusan. Bahkan rangka penyangga atap juga nampak artistik dan penuh selera pembuat dan pemiliknya. Tiga kamar berjejer sejajar di balik beranda. Tidak ada dapur. Kamar mandi terletak di bagian belakang. Ini adalah rumah khas Bali. Tidak ada yang menunggui di rumah ini. Keluarga yang lain, keponakan pemilik rumah, menempati rumah utama, yang terletak di depan rumah yang kami datangi. Dua ekor anjing kecil menyalak kencang dekat kami tuan rumah, sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Sebuah geraman kasar berasal dari seekor anjing berukuran raksasa yang terikat dengan rantai di sudut rumah utama, dekat dengan bale-bale lainnya. Aman.

Tuan rumah mengeluarkan beberapa alas lantai dari kamar. Ternyata pintu kamar tidak ada yang dikunci. "Di sini sangat aman. Tidak ada maling. Rumah-rumah tidak dikunci, sepeda motor diletakkan di luar rumah." Tuan rumah menjelaskan. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat? "Belum pernah terjadi. Tetapi kalau orang luar yang melakukan, bisa dipastikan akan dikerjai warga sampai tewas".

Dua kawan kami beristirahat dalam kamar, tidur di atas tempat tidur yang tersedia. Kami memilih untuk duduk-duduk di luar, menikmati suasana tenteram sambil menunggu azan subuh. "Nanti azan subuh kedengaran dari mesjid yang ada di dekat sini", tuan rumah menjelaskan.

Keluarga tuan rumah membawa bungkusan makanan. Nasi uduk dengan lauk ayam. Membaca pikiran saya, tuan rumah berucap, "Ndak usah khawatir. Halal kok. Wong penjualnya muslim". Saya menjadi malu dan menelan kembali pertanyaan saya yang tidak pernah terucap.

Tempat rumah ini berada - lebih tepat disebut kompleks - terdiri dari beberapa rumah. Di bagian depan, di belakang sebuah kios yang dipakai berjualan berbagai barang kebutuhan sehari-hari, terdapat pura, tempat keluarga tuan rumah melakukan puja. Bentuk-bentuk dibuat dengan sangat artistik, patung-patung buto penjaga yang berwajah menyeramkan, atap-atap yang simetris yang dirancang dengan penuh selera keindahan.

Di bagian belakang rumah, terdapat pura yang lebih besar dan lebih indah. Sebuah bale tempat semedi berdiri teduh, dalam suasana hening yang damai. Sebuah sungai kecil membelah kebun, mengalir tenang di sebelah pura, manawarkan bunyi gemericik air yang sayup. Rumpun bambu yang lebat menawarkan keteduhan yang mistis.

Rata-rata penduduk desa ini memelihara anjing. Nyaris setiap rumah memiliki anjing, lebih dari seekor. Saat saya mencoba mengambil gambar pura di rumah tetangga di depan rumah yang kami kunjungi, tiga ekor anjing berkejaran. Seelor berlari kencang melewati kaki saya, yang karuan saja terloncat karena kaget. Anjing-anjing tuan rumah mendenking kecil sambil mengibaskan ekornya dengan kencang di sekeliling kami, mencoba untuk berteman. Anjing besar yang nampaknya sangat galak tetap terikat kencang di tempatnya, di bagian belakang rumah utama, tetang dan diam, mengawasi dengan matanya yang separuh terpejam. Dengan kondisi terikat rantai yang kuat, kami merasa aman.

Selesai sarapan dan mandi, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tuan rumah akan membawa kami berkeliling pulau Bali, mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan eksotis.



























Wednesday, July 18, 2012

Ancol, Jambi, pagi hari

Selepas hiruk pikuk malam akhir pekan yang ramai semalam, Ancol manyisakan sepi di pagi hari. Tidak ada para pedagang yang semalam ramai memenuhi tempat ini. Hanya sedikit pengunjung yang singgah untuk menikmati suasana tepi sungai Batanghari yang berkabut. Sungai sedang surut, permukaan air menyusut rendah, dengan kaput tipis menggantung di atas permukaan menunggu terusir sinar matahari.

Seseorang mendekati kami, menawarkan kami untuk berkeliling sungai Batanghari dengan menggunakan perahu sewaan. Dengan halus kami menolak. Pak Arif, berwajah Arab, mengaku sudah dua puluh delapan tahun menjadi pengojek perahu. Dia adalah warga kampung seberang. Biasanya, katanya, karena lokasi jembatan penyeberangan yang relatif jauh, penduduk memilih menyeberang di lokasi ini. Sepeda motor juga bisa diseberangkan dengan perahu.

Beberapa perahu hilir mudik di sungai. Penumpang datang dan pergi. Ancol tetap sepi di siang hari. Malam nanti Ancol akan kembali ramai, penuh oleh para pedagang dan pengunjung yang melepas penat sambil menikmati air tebu dan jagung bakar.