Dari Desa Brembeng kami meluncur ke objek wisata Alas Kedaton, yang juga terletak di wilayah Tabanan. Jalan aspal yang mulus membawa kami ke ketinggian. Udara mendung dan berkabut tipis, dan gerimis mulai turun. Kami menjadi rombongan pengunjung pengunjung pertama pagi itu. Setelah membayar tiket masuk, kenderaan kami diparkir di depan deretan kios suvenir. begitu turun dari kenderaan, kami langsung disambut oleh sekelompok kera. Kera-kera lainnya bertebaran di semua tempat, selang-seling dengan anjing, dan nampaknya hubungan antara kedua makhluk yang berbeda tersebut baik-baik saja. Kera-kera berbagai ukuran bergantungan di pepohonan, merangkak di lantai dan di kalanan, duduk di trotoar. Kera-kera ini bagian dari tempat ini, sebuah pura suci agama Hindu yang dikelilingi oleh hutan alam yang dipertahankan keasliannya. Rupanya dari hutan inilah para kera ini berasal. Sedikit berbeda dengan kera lain yang saya kenal, kera di sini memiliki semacam punuk di kepalanya, yang terdiri dari rambut yang meruncing di tengah kepalanya.
Dua orang wanita penjaga suvenir mendekati kami, mengatakan mereka akan memandu kami. Nanti, selesai mengelilingi pura, mereka sangat mengharapkan kami untuk singgah di kios suvenis milik mereka dan membeli beberapa oleh-oleh dengan harga yang "sangat wajar". Lebih jauh mereka menjelaskan, bahwa para penjual suvenir di sini menganut semacam sistem antrian, jadi mereka harus menunggu giliran untuk memandu para pelancong dan kemudian mengajaknya ke kios mereka. Karena banyaknya kios suvenir, di musim sepi, masa tunggu bisa berhari-hari, kata mereka.
Ada aturan mengunjungi objek wisata dan pura Alas Kedaton. Monyet-monyet itu, yang merupakan bagian dari pura tersebut, tidak boleh diapa-apakan. Karena kebebasannya tersebut, dan nampaknya para monyet mengetahuinya dan memanfaatkannya betul-betul, monyet-monyet tersebut bertidak sesuka hati mereka. Jika ada pengunjung yang membawa kantong, dengan segera gerombolan monyet akan mendekat merubung karena mengira kantong tersebut berisi makanan untuk mereka. Jika kita menggenggam tangan, para monyet akan berusaha menarik tangan dan membuka untuk mengambil isinya. Dan pengunjung tidak diperbolehkan untuk bertindak kasar kepada monyet-monyet tersebut.
Monyet tetaplah monyet, di pura suci atau tidak. Beberapa ekor monyet nakal melarikan sepotong pakaian yang dijual di sebuah kios suvenir, dan meninggalkannya di atas atap. Pemiliknya berteriak-teriak menghalau. Seorang lelaki memanjat atap dan mengambil kembali pakaian yang dilarikan oleh para monyet tersebut.
Terhadap pengunjung monyet bersikap lebih seenaknya lagi. Saat kita lengah, ada saja monyet yang berusaha memnjat ke bahu bahkan ke kepala. "Jangan diusir", kata perempuan pemandu kami."Kasih kacang, nanti dia akan turun sendiri". Atau, kalau tidak punya kacang, "Jongkok saja. Monyetnya akan turun". Kacang yang sudah dibeli sebelumnya disebarkan di jalanan, dan para monyet merubung, termasuk monyet yang masih hinggap di kepala. Jika monyet bertingkah berlebihan dan pengunjung merasa terganggu, pemandu akan mengusir monyet dengan tongkat yang mereka bawa.
Pengunjung lain mulai berdatangan. Ada beberapa pengunjung yang sepertinya berasal dari India, lengkap dengan pakaian tradisional mereka.
Kios-kior suvenir menjual berbagai cenderamata yang unik. Ada kaus dan pakaian khas Bali, kain pantai, berbagai ukiran, gantungan kunci, sampai patung unik berbentuk alat kelamin laki-laki yang berukuran raksasa. Tetapi, sepertinya aturan harus berbelanja di kios milik pemandu kami tidak mutlak berlaku. Kami juga singgah di kios lainnya dan membeli beberapa barang, dan tidak ada masalah apa-apa.
Friday, July 20, 2012
Thursday, July 19, 2012
Brembeng, Tabanan, Bali
Akhirnya, perjalanan panjang kami dari Mojokerto berakhir. Sekitar jam setengah empat pagi, kenderaan kami berbelok memasuki jalan kecil dan berhenti di pintu pagar sebuah rumah. Sunyi senyap di sekeliling kami, warga sedang berada pada puncak lelapnya. Setengah mengantuk kami turun. Lampu-lampu yang bersinar redup dibalik embun dinihari memancarkan cahaya temaram. Mengikuti tuan rumah, kami melangkah mkelewati pura di depan rumah, terus ke sebuah rumah yang lebih mirip dengan bale-bale tempat bersantai. Dalam keremangan cahaya, kami mengamati bahwa bale-bale tersebut lebih indah dari yang kami sangka, lukiran-lukisan di dinding, ukiran pada tiang-tiang penyangga, ukiran pada pintu masuk yang dibuat dengan penuh kehalusan. Bahkan rangka penyangga atap juga nampak artistik dan penuh selera pembuat dan pemiliknya. Tiga kamar berjejer sejajar di balik beranda. Tidak ada dapur. Kamar mandi terletak di bagian belakang. Ini adalah rumah khas Bali. Tidak ada yang menunggui di rumah ini. Keluarga yang lain, keponakan pemilik rumah, menempati rumah utama, yang terletak di depan rumah yang kami datangi. Dua ekor anjing kecil menyalak kencang dekat kami tuan rumah, sambil mengibas-ngibaskan ekornya. Sebuah geraman kasar berasal dari seekor anjing berukuran raksasa yang terikat dengan rantai di sudut rumah utama, dekat dengan bale-bale lainnya. Aman.
Tuan rumah mengeluarkan beberapa alas lantai dari kamar. Ternyata pintu kamar tidak ada yang dikunci. "Di sini sangat aman. Tidak ada maling. Rumah-rumah tidak dikunci, sepeda motor diletakkan di luar rumah." Tuan rumah menjelaskan. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat? "Belum pernah terjadi. Tetapi kalau orang luar yang melakukan, bisa dipastikan akan dikerjai warga sampai tewas".
Dua kawan kami beristirahat dalam kamar, tidur di atas tempat tidur yang tersedia. Kami memilih untuk duduk-duduk di luar, menikmati suasana tenteram sambil menunggu azan subuh. "Nanti azan subuh kedengaran dari mesjid yang ada di dekat sini", tuan rumah menjelaskan.
Keluarga tuan rumah membawa bungkusan makanan. Nasi uduk dengan lauk ayam. Membaca pikiran saya, tuan rumah berucap, "Ndak usah khawatir. Halal kok. Wong penjualnya muslim". Saya menjadi malu dan menelan kembali pertanyaan saya yang tidak pernah terucap.
Tempat rumah ini berada - lebih tepat disebut kompleks - terdiri dari beberapa rumah. Di bagian depan, di belakang sebuah kios yang dipakai berjualan berbagai barang kebutuhan sehari-hari, terdapat pura, tempat keluarga tuan rumah melakukan puja. Bentuk-bentuk dibuat dengan sangat artistik, patung-patung buto penjaga yang berwajah menyeramkan, atap-atap yang simetris yang dirancang dengan penuh selera keindahan.
Di bagian belakang rumah, terdapat pura yang lebih besar dan lebih indah. Sebuah bale tempat semedi berdiri teduh, dalam suasana hening yang damai. Sebuah sungai kecil membelah kebun, mengalir tenang di sebelah pura, manawarkan bunyi gemericik air yang sayup. Rumpun bambu yang lebat menawarkan keteduhan yang mistis.
Rata-rata penduduk desa ini memelihara anjing. Nyaris setiap rumah memiliki anjing, lebih dari seekor. Saat saya mencoba mengambil gambar pura di rumah tetangga di depan rumah yang kami kunjungi, tiga ekor anjing berkejaran. Seelor berlari kencang melewati kaki saya, yang karuan saja terloncat karena kaget. Anjing-anjing tuan rumah mendenking kecil sambil mengibaskan ekornya dengan kencang di sekeliling kami, mencoba untuk berteman. Anjing besar yang nampaknya sangat galak tetap terikat kencang di tempatnya, di bagian belakang rumah utama, tetang dan diam, mengawasi dengan matanya yang separuh terpejam. Dengan kondisi terikat rantai yang kuat, kami merasa aman.
Selesai sarapan dan mandi, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tuan rumah akan membawa kami berkeliling pulau Bali, mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan eksotis.
Tuan rumah mengeluarkan beberapa alas lantai dari kamar. Ternyata pintu kamar tidak ada yang dikunci. "Di sini sangat aman. Tidak ada maling. Rumah-rumah tidak dikunci, sepeda motor diletakkan di luar rumah." Tuan rumah menjelaskan. Bagaimana kalau ada yang berniat jahat? "Belum pernah terjadi. Tetapi kalau orang luar yang melakukan, bisa dipastikan akan dikerjai warga sampai tewas".
Dua kawan kami beristirahat dalam kamar, tidur di atas tempat tidur yang tersedia. Kami memilih untuk duduk-duduk di luar, menikmati suasana tenteram sambil menunggu azan subuh. "Nanti azan subuh kedengaran dari mesjid yang ada di dekat sini", tuan rumah menjelaskan.
Keluarga tuan rumah membawa bungkusan makanan. Nasi uduk dengan lauk ayam. Membaca pikiran saya, tuan rumah berucap, "Ndak usah khawatir. Halal kok. Wong penjualnya muslim". Saya menjadi malu dan menelan kembali pertanyaan saya yang tidak pernah terucap.
Tempat rumah ini berada - lebih tepat disebut kompleks - terdiri dari beberapa rumah. Di bagian depan, di belakang sebuah kios yang dipakai berjualan berbagai barang kebutuhan sehari-hari, terdapat pura, tempat keluarga tuan rumah melakukan puja. Bentuk-bentuk dibuat dengan sangat artistik, patung-patung buto penjaga yang berwajah menyeramkan, atap-atap yang simetris yang dirancang dengan penuh selera keindahan.
Di bagian belakang rumah, terdapat pura yang lebih besar dan lebih indah. Sebuah bale tempat semedi berdiri teduh, dalam suasana hening yang damai. Sebuah sungai kecil membelah kebun, mengalir tenang di sebelah pura, manawarkan bunyi gemericik air yang sayup. Rumpun bambu yang lebat menawarkan keteduhan yang mistis.
Rata-rata penduduk desa ini memelihara anjing. Nyaris setiap rumah memiliki anjing, lebih dari seekor. Saat saya mencoba mengambil gambar pura di rumah tetangga di depan rumah yang kami kunjungi, tiga ekor anjing berkejaran. Seelor berlari kencang melewati kaki saya, yang karuan saja terloncat karena kaget. Anjing-anjing tuan rumah mendenking kecil sambil mengibaskan ekornya dengan kencang di sekeliling kami, mencoba untuk berteman. Anjing besar yang nampaknya sangat galak tetap terikat kencang di tempatnya, di bagian belakang rumah utama, tetang dan diam, mengawasi dengan matanya yang separuh terpejam. Dengan kondisi terikat rantai yang kuat, kami merasa aman.
Selesai sarapan dan mandi, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tuan rumah akan membawa kami berkeliling pulau Bali, mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan eksotis.
Wednesday, July 18, 2012
Ancol, Jambi, pagi hari
Selepas hiruk pikuk malam akhir pekan yang ramai semalam, Ancol manyisakan sepi di pagi hari. Tidak ada para pedagang yang semalam ramai memenuhi tempat ini. Hanya sedikit pengunjung yang singgah untuk menikmati suasana tepi sungai Batanghari yang berkabut. Sungai sedang surut, permukaan air menyusut rendah, dengan kaput tipis menggantung di atas permukaan menunggu terusir sinar matahari.
Seseorang mendekati kami, menawarkan kami untuk berkeliling sungai Batanghari dengan menggunakan perahu sewaan. Dengan halus kami menolak. Pak Arif, berwajah Arab, mengaku sudah dua puluh delapan tahun menjadi pengojek perahu. Dia adalah warga kampung seberang. Biasanya, katanya, karena lokasi jembatan penyeberangan yang relatif jauh, penduduk memilih menyeberang di lokasi ini. Sepeda motor juga bisa diseberangkan dengan perahu.
Beberapa perahu hilir mudik di sungai. Penumpang datang dan pergi. Ancol tetap sepi di siang hari. Malam nanti Ancol akan kembali ramai, penuh oleh para pedagang dan pengunjung yang melepas penat sambil menikmati air tebu dan jagung bakar.
Seseorang mendekati kami, menawarkan kami untuk berkeliling sungai Batanghari dengan menggunakan perahu sewaan. Dengan halus kami menolak. Pak Arif, berwajah Arab, mengaku sudah dua puluh delapan tahun menjadi pengojek perahu. Dia adalah warga kampung seberang. Biasanya, katanya, karena lokasi jembatan penyeberangan yang relatif jauh, penduduk memilih menyeberang di lokasi ini. Sepeda motor juga bisa diseberangkan dengan perahu.
Beberapa perahu hilir mudik di sungai. Penumpang datang dan pergi. Ancol tetap sepi di siang hari. Malam nanti Ancol akan kembali ramai, penuh oleh para pedagang dan pengunjung yang melepas penat sambil menikmati air tebu dan jagung bakar.
Monday, July 16, 2012
Saturday, July 14, 2012
Kragilan - Serang
Menghindari razia polisi karena tidak memiliki surat-surat kenderaan yang lengkap, angkot yang kami tumpangi dari Kragilan menuju Serang memilih untuk melalui jalan kecil yang melintasi pedesaan dan pesawahan. Ternyata dari arah yang berlawanan, banyak kenderaan lain yang memilih jalan yang sama. Karena jalan kecil tersebut hanya muat untuk dilalui satu kenderaan saja, kemacetan terjadi. Perlu waktu lama supaya lepas dari kemacetan karena tidak ada yang mau mengalah.
Friday, July 13, 2012
Meuriam Trieng
Bulan puasa belum lagi tiba, tetapi lorong-lorong perumahan tempat kami tinggal sudah mulai berisik oleh gemeretak petasan yang dimainkan oleh anak-anak. Usai magrib, anak-anak kecil berkumpul, membakar lilin, memainkan kembang api dan membanting petasan. Anak-anak yang lebih kecil berlarian ke sana kemari, dikejar oleh anak-anak yang lebih besar dengan kembang api di tangannya.
Di kampung, dulu, kami tidak mengenal petasan. Petasan adalah mainan anak-anak kota yang tidak terjangkau oleh kami yang tidak punya uang saku. Sesekali saat hari raya anak-anak kampung kami yang tinggal di kota pulang membawa petasan, dan saat dimainkan, kami merubung dengan kagum.
Mainan kami yang seru di bulan puasa adalah meuriam trieng - meriam bambu dalam bahasa Aceh. Perlu nyali berlebih untuk memainkannya, karena berbahaya. Saat meletup, api akan menyembur keluar dari lubang sundut. Jika terlalu dekat, bisa kesambar.
Sebelum puasa - biasanya beberapa hari menjelang puasa sekolah sudah diliburkan - kami sudah masuk belukar untuk mencari bambu yang cocok untuk dijadikan meriam. Bambu yang cocok adalah dari jenis trieng phet - bahasa aceh untuk bambu betung - yang berdaging tebal dan beruas pendek yang sangat kuat. Biasanya yang dipilih adalah pangkalnya. Dengat gesit beberapa anak akan bergantian menebang pangkal bambu, menyingkirkan duri yang mengganggu. Bambu dipotong sepanjang sekitar dua setengah meter hingga tiga meter, kemudian disodok dengan menggunakan galah kayu untuk membuang ruas-ruasnya. Beberapa ruas di bagian pangkal akan ditinggalkan. Sebuah lubang dipahat di bagian atas, sebesar satu atau dua sentimeter, tempat untuk memasukkan bensin dan menyundut meriam. Sebagai bahan bakar, kami menggunakan bensin, bukan minyak tanah. Jika menggunakan minyak tanah, bunyinya redup, dibandingkan dengan menggunakan bensin yang suaranya menggelegar. Selesai dilubangi, bambu akan dijemur seharian sehingga menjadi liat. Ujung bambu kemudian diikat dengan tali yang cukup kuat, kadang kala menggunakan kawat, sehingga tidak pecah oleh getaran suaranya yang cukup kencang.
Untuk bahan bakar, kami iuran dengan uang saku kami yang tidak seberapa. Kadang kami juga mendapat sumbangan dari perantau yang pulang kampung.
Malah pertama bulan puasa, usai tarawih, anak-anak mulai memainkan meriam bambu. Karena suaranya yang cukup keras, orang-orang dewasa tidak membolehkan kami kami meriam dekat dengan rumah ataupun meunasah. Jadi kami memindahkan meriam kami ke pesawahan. Justru lebih mengasyikkan memainkan meriam bambu di pesawahan, karena suaranya menggelegar bersipongang dan berderak-derak oleh gema, bersahutan dengan meriam-meriam dari desa lain yang berdekatan.
Sebelum dinyalakan, bensin dalam bambu harus dipanaskan dulu. Ujung meriam diganjal sehingga sedikit mendongak. Sebuah tempurung kelapa kami isi dengan tanah kering, kemudian disiram dengan sedikit bensin, lalu diletakkan dibawah meriam tempat bensin betada. Api dari tempurung bambu akan memanaskan bensin. Setelah dirasa cukup, seorang anak akan menduduki meriam dan menyundut bensin melalui lubang sundut. Api akan membakar uap bensin seketika dengan letupan. Api akan menyembur dari lubang depan meriam dan dari lubang sundut. Saat masih dingin, suaranya tidak seberapa. Asap bekas bakaran harus dibuang dengan cara ditiup melalui lubang sundut. Asap tebal bercampur uap bensin akan keluar melalui lubang depan meriam. Kemudian meriam disundut kembali. Makin lama suaranya makin keras, dari letupan kecil menjadi ledakan menggelegar, yang bisa memekakkan telinga untuk sesaat. Bola api yang menyembur menerangi kegelapan malam sekitar kami. Kadang kami meletakkan tempurung kelapa di lubang depan meriam dan akan terbang saat meriam disundut.
Semakin puasa mendekati akhir, permainan meriam bambu semakin ramai. Kadang beberapa meriam diletakkan bergandengan dan disundut berurutan. Dentuman suaranya bersipongang panjang berirama, bergema dipantulkan oleh pepohonan di pinggiran desa sebelah.
Puncaknya adalah pada malam lebaran. Saat yang lain bertakbir di meunasah, kami anak-anak sibuk dengan meriam-meriam bambu. Sekali waktu kami meminjam becak barang seorang warga, dan mengikat dua meriam di atanya. Dengan berpindah-pindah tempat kami menyalakan meriam.
Memainkan meriam bambu bukan tidak ada bahayanya. Jika bambunya tidak kuat menahan ledakan, bambu bisa pecah dan menyebarkan bensin panas kemana-mana. Yang berdekatan bisa dipastikan akan kesambar oleh bensin dan api. Seorang kawan kami pernah kesambar bensin dan api ketika meriam yang disundutnya pecah. Dengan panik kami hanya bisa berteriak-teriak dan tidak berbuat apapun. Untung yang terkena api tidak kehilangan akan. Dia langsung melompat ke kubangan dan berguling-guling. Setelah api padam, kami memeriksa kerusakan: baju yang nyaris terbakar, alis gundul dan sebagian rambut tersambar api. Secara ajaib kawan kami tidak mengalami luka yang berarti.
Penyundut meriam jika terlalu dekat dengan lubang sundut juga bisa menuai bahaya. Semburan api dari lubang sundut bisa menyambar alis dan rambut. Tidak jarang setelah meriam meletup, kami membaui bau rambut hangus, berasal dari alis yang tersambar api. Jika bensin diisi terlalu banyak dalam meriam, saat meriam meletup, percikan bensin bisa tersembur keluar bersama api dari lubang sundut. Penyundut meriam harus sigap mengelak.
Seorang kawan sewaktu di SMP pernah terpaksa tidak bersekolah selama satu bulan setelah lebaran gara-gara meriam bambu. Sewaktu dimainkannya, meriam bambu tidak mau meledak. Suara yang keluar hanya desisan kecil dan api yang menyala di lubang sundut. Api dipadamkannya dengan memukulkan sandal pada lubang sundut, kemudian dihembus kembali untuk membuang asapnya. Disundut kembali, meriam tetap tidak mau meledak. Setelah kembali memukul-mukul lubang sundut untuk mematikan apinya, kawan tersebut pindah ke depan meriam untuk melihat dari lubang depan apakah lubang depan tersumbat - biasanya sehabis dimainkan lubang depan dan lubang sundut ditutup dengan dedaunan untuk mencegah bensin menguap. Persis saat mukanya berada di depan lubang meriam, meriam bambu tersebut meledak dengan suara luar biasa. Kawan tersebut tercampak ke depan, kemudian merangkak-rangkak ditanaj karena kaget. Kemudian diketahui alisnya habis terbakar, begitu juga dengan rambut depannya. Mukanya merah kehitaman, kemudian mulai membengkak. Orang tuanya membawanya berobat ke puskesmas. Untung luka bakarnya tidak parah, hanya saja dia harus berdiam diri di rumah sampai tidak bisa berlebaran dan tidak bisa bersekolah selama satu bulan.
Saat konflik memuncak di Aceh, permainan meriam bambu menghilang. Tidak ada yang berani memainkan meriam pada kondisi genting seperti itu. Nyaris selama lima belas tahun dentuman meriam bambu menghilang dari kampung kami dan daerah lainnya di Aceh. Setelah damai tercapai pada tahun 2005, gelegar meriam bambu kembali mulai terdengar di pelosok-pelosok. Malam-malam bulan puasa kembali riuh oleh dentuman meriam bambu yang dimaninkan bukan saja oleh anak-anak, kadang juga oleh orang-orang dewasa.
Di kampung, dulu, kami tidak mengenal petasan. Petasan adalah mainan anak-anak kota yang tidak terjangkau oleh kami yang tidak punya uang saku. Sesekali saat hari raya anak-anak kampung kami yang tinggal di kota pulang membawa petasan, dan saat dimainkan, kami merubung dengan kagum.
Mainan kami yang seru di bulan puasa adalah meuriam trieng - meriam bambu dalam bahasa Aceh. Perlu nyali berlebih untuk memainkannya, karena berbahaya. Saat meletup, api akan menyembur keluar dari lubang sundut. Jika terlalu dekat, bisa kesambar.
Sebelum puasa - biasanya beberapa hari menjelang puasa sekolah sudah diliburkan - kami sudah masuk belukar untuk mencari bambu yang cocok untuk dijadikan meriam. Bambu yang cocok adalah dari jenis trieng phet - bahasa aceh untuk bambu betung - yang berdaging tebal dan beruas pendek yang sangat kuat. Biasanya yang dipilih adalah pangkalnya. Dengat gesit beberapa anak akan bergantian menebang pangkal bambu, menyingkirkan duri yang mengganggu. Bambu dipotong sepanjang sekitar dua setengah meter hingga tiga meter, kemudian disodok dengan menggunakan galah kayu untuk membuang ruas-ruasnya. Beberapa ruas di bagian pangkal akan ditinggalkan. Sebuah lubang dipahat di bagian atas, sebesar satu atau dua sentimeter, tempat untuk memasukkan bensin dan menyundut meriam. Sebagai bahan bakar, kami menggunakan bensin, bukan minyak tanah. Jika menggunakan minyak tanah, bunyinya redup, dibandingkan dengan menggunakan bensin yang suaranya menggelegar. Selesai dilubangi, bambu akan dijemur seharian sehingga menjadi liat. Ujung bambu kemudian diikat dengan tali yang cukup kuat, kadang kala menggunakan kawat, sehingga tidak pecah oleh getaran suaranya yang cukup kencang.
Untuk bahan bakar, kami iuran dengan uang saku kami yang tidak seberapa. Kadang kami juga mendapat sumbangan dari perantau yang pulang kampung.
Malah pertama bulan puasa, usai tarawih, anak-anak mulai memainkan meriam bambu. Karena suaranya yang cukup keras, orang-orang dewasa tidak membolehkan kami kami meriam dekat dengan rumah ataupun meunasah. Jadi kami memindahkan meriam kami ke pesawahan. Justru lebih mengasyikkan memainkan meriam bambu di pesawahan, karena suaranya menggelegar bersipongang dan berderak-derak oleh gema, bersahutan dengan meriam-meriam dari desa lain yang berdekatan.
Sebelum dinyalakan, bensin dalam bambu harus dipanaskan dulu. Ujung meriam diganjal sehingga sedikit mendongak. Sebuah tempurung kelapa kami isi dengan tanah kering, kemudian disiram dengan sedikit bensin, lalu diletakkan dibawah meriam tempat bensin betada. Api dari tempurung bambu akan memanaskan bensin. Setelah dirasa cukup, seorang anak akan menduduki meriam dan menyundut bensin melalui lubang sundut. Api akan membakar uap bensin seketika dengan letupan. Api akan menyembur dari lubang depan meriam dan dari lubang sundut. Saat masih dingin, suaranya tidak seberapa. Asap bekas bakaran harus dibuang dengan cara ditiup melalui lubang sundut. Asap tebal bercampur uap bensin akan keluar melalui lubang depan meriam. Kemudian meriam disundut kembali. Makin lama suaranya makin keras, dari letupan kecil menjadi ledakan menggelegar, yang bisa memekakkan telinga untuk sesaat. Bola api yang menyembur menerangi kegelapan malam sekitar kami. Kadang kami meletakkan tempurung kelapa di lubang depan meriam dan akan terbang saat meriam disundut.
Semakin puasa mendekati akhir, permainan meriam bambu semakin ramai. Kadang beberapa meriam diletakkan bergandengan dan disundut berurutan. Dentuman suaranya bersipongang panjang berirama, bergema dipantulkan oleh pepohonan di pinggiran desa sebelah.
Puncaknya adalah pada malam lebaran. Saat yang lain bertakbir di meunasah, kami anak-anak sibuk dengan meriam-meriam bambu. Sekali waktu kami meminjam becak barang seorang warga, dan mengikat dua meriam di atanya. Dengan berpindah-pindah tempat kami menyalakan meriam.
Memainkan meriam bambu bukan tidak ada bahayanya. Jika bambunya tidak kuat menahan ledakan, bambu bisa pecah dan menyebarkan bensin panas kemana-mana. Yang berdekatan bisa dipastikan akan kesambar oleh bensin dan api. Seorang kawan kami pernah kesambar bensin dan api ketika meriam yang disundutnya pecah. Dengan panik kami hanya bisa berteriak-teriak dan tidak berbuat apapun. Untung yang terkena api tidak kehilangan akan. Dia langsung melompat ke kubangan dan berguling-guling. Setelah api padam, kami memeriksa kerusakan: baju yang nyaris terbakar, alis gundul dan sebagian rambut tersambar api. Secara ajaib kawan kami tidak mengalami luka yang berarti.
Penyundut meriam jika terlalu dekat dengan lubang sundut juga bisa menuai bahaya. Semburan api dari lubang sundut bisa menyambar alis dan rambut. Tidak jarang setelah meriam meletup, kami membaui bau rambut hangus, berasal dari alis yang tersambar api. Jika bensin diisi terlalu banyak dalam meriam, saat meriam meletup, percikan bensin bisa tersembur keluar bersama api dari lubang sundut. Penyundut meriam harus sigap mengelak.
Seorang kawan sewaktu di SMP pernah terpaksa tidak bersekolah selama satu bulan setelah lebaran gara-gara meriam bambu. Sewaktu dimainkannya, meriam bambu tidak mau meledak. Suara yang keluar hanya desisan kecil dan api yang menyala di lubang sundut. Api dipadamkannya dengan memukulkan sandal pada lubang sundut, kemudian dihembus kembali untuk membuang asapnya. Disundut kembali, meriam tetap tidak mau meledak. Setelah kembali memukul-mukul lubang sundut untuk mematikan apinya, kawan tersebut pindah ke depan meriam untuk melihat dari lubang depan apakah lubang depan tersumbat - biasanya sehabis dimainkan lubang depan dan lubang sundut ditutup dengan dedaunan untuk mencegah bensin menguap. Persis saat mukanya berada di depan lubang meriam, meriam bambu tersebut meledak dengan suara luar biasa. Kawan tersebut tercampak ke depan, kemudian merangkak-rangkak ditanaj karena kaget. Kemudian diketahui alisnya habis terbakar, begitu juga dengan rambut depannya. Mukanya merah kehitaman, kemudian mulai membengkak. Orang tuanya membawanya berobat ke puskesmas. Untung luka bakarnya tidak parah, hanya saja dia harus berdiam diri di rumah sampai tidak bisa berlebaran dan tidak bisa bersekolah selama satu bulan.
Saat konflik memuncak di Aceh, permainan meriam bambu menghilang. Tidak ada yang berani memainkan meriam pada kondisi genting seperti itu. Nyaris selama lima belas tahun dentuman meriam bambu menghilang dari kampung kami dan daerah lainnya di Aceh. Setelah damai tercapai pada tahun 2005, gelegar meriam bambu kembali mulai terdengar di pelosok-pelosok. Malam-malam bulan puasa kembali riuh oleh dentuman meriam bambu yang dimaninkan bukan saja oleh anak-anak, kadang juga oleh orang-orang dewasa.
Jejak cahaya oleh kembang api anak-anak
Subscribe to:
Posts (Atom)