Sunday, February 13, 2011

Sketsa jalan lintas di Sumatra Utara dengan perkiraan jarak

Yang memerlukan sketsa jalan di Sumatra Utara dengan perkiraan jarak dalam kilometer bisa download di sini:

http://www.ziddu.com/download/13657067/peta_sumut_jarak.jpg.html


Tebing Tinggi - Jambi



Untuk mencapai tujuan perjalanan kami, kira-kira lima belas menit perjalanan dari perbatasan Riau-Jambi, kami berbelok ke kiri di Simpang Rambutan. Seterusnya perjalanan melintasi jalanan tanah berdebu selama sekitar satu jam. Debu mengepul tepal di belakang kenderaan yang kami tumpangi, membuat putih pepohonan di pinggir jalan. Rumah-rumah penduduk jarang, hanya satu-satu yang kami lewati. Selebihnya perkebunan sawit dan tanaman hutan industri milik sebuah perusahaan bubur kertas di daerah ini.

Mencapai pinggiran sungai Kuala Tungkal, kenderaan berhenti. Air sungai sedang surut sehingga ferry penyeberangan tidak bisa beroperasi. Para penumpang turun untuk menyeberang dengan perahu. Penumpang dipungut biaya dua ribu rupiah perorang, sedangkan motor dikenakan ongkos lima ribu rupiah. Hanya perlu sepuluh menit untuk penyeberangan.

Kenderaan lain sudah disiapkan untuk membawa kami ke tujuan. Sedangkan kenderaan yang kami tumpangi tadi harus menunggu air sungai pasang supaya bisa menyeberang dengan ferry penyeberangan.







Saturday, February 12, 2011

Sup Tunjang Dwi Group Japura

Dalam perjalanan ke Jambi lewat lintas timur, kami makan siang di Japura - sebuah kota kecil di Kabupaten Indragiri Hulu Riau - di sebuah rumah makan Jawa. Menunya hanya sup: sup tunjang sapi dengan tulang kaki sapi berukuran besar berisi sumsum yang dimakan dengan menggunakan sedotan, sup rusuk, yang berisi potongan tulang iga sapi dengan tempelan-tempelan daging, sup daging berupa cincang daging yang diolah menjadi sup dan sup ayam, berupa ayam goreng berukuran jumbo yang dibenamkan ke dalam kuah sup. Saat kami sampai, rumah makan tersebut sedang ramai-ramainya. Rumah makan tersebut berukuran kecil, terletak di halaman luas rumah pemilik warung yang juga sekaligus menjadi lokasi parkir. Lokasinya sekitar seratus meter dari jalan lintas, dan tidak gampang dikenali kecuali oleh mereka yang sudah sering ke sana. Belasan mobil parkir di halaman, dan orang-orang sedang antri di depan pintu menunggu giliran. Semua meja penuh terisi orang-orang yang masing-masing menghadapi semangkuk sup. Mejanya berupa meja panjang sederhana, dengan kursi-kursi plastik sebagai tempat duduk. Di atas meja penuh dengan berbagai barang: tempat sendok dan garpu, gelas-gelas plastik air minum dalam kemasan yang disusun rapi, toples berisi kerupuk kulit sapi, botol-botol kecap dan cuka, tempat cabe, potongan-potongan jeruk nipis dan asbak rokok. Semua orang nampaknya menikmati makan siangnya.

Tidak lama kami menunggu. Setiap kursi yang kosong langsung terisi, jadi tidak perlu menunggu sampai semua kursi tersedia untuk kami bertiga. Kami memesan satu sup tunjang dan dua sup daging. Sebentar kemudian pesanan kami datang. Sup tunjang berisi tunjang sapi dengan lubang berisi sumsum yang akan diisap dengan sedotan. Potongan-potongan daging menempel di tulang, yang harus dipotong dengan pisau kecil yang disediakan. Sup daging kami berisi potongan-potongan daging cincang yang berenang-renang dalam kuah sup, kental berminyak-minyak. Sepiring sambal kacang tanah goreng teri menyusul di meja. Cukup menggiurkan untuk perut yang sudah lapar.

Supnya enak, walaupun tidak istimewa. Enak,tetapi hanya itu. Tidak ada sesuatu yang lebih yang membuatnya berbeda dari sup-sup lain, yang memang jarang saya makan.

Dua hari kemudian, saat pulang dari Jambi, kembali kami makan di situ. Hari sudah jam dua siang, tetapi tempat tersebut masih ramai dengan pengunjung. Kali ini saya mencoba menu yang berbeda: sup ayam, sementara kawan saya memesan sup rusuk. Sup ayamnya rasanya tidak berbeda dengan sup daging yang saya makan dua hari lalu, hanya saja isinya ayam goreng yang diguyur dengan kuah sup.

Sup tunjang memang menu andalah di warung ini dan di berbagai warung lain yang kami jumpai sepanjang jalan di daerah ini. Rumah makan padang dan rumah makan jawa menawarkan menu andalan yang sama: sup tunjang, yang diolah dari tulang kaki sapi. Dan sepertinya semuanya ramai oleh pengunjung.







Friday, February 11, 2011

Lintas Pematang Reba - Jambi

Menuju Jambi melalui jalur lintas timur antara Pematang Reba dan perbatasan Riau - Jambi merupakan siksaan. Kondisi jalan yang rusak parah nyaris sepanjang perjalanan membuat guncangan kenderaan yang membikin lambung mual. Tidak tanggung-tanggung, kadang kenderaan ronda empat harus antri untuk melewati satu titik jalan yang lubangnya sudah membentuk kubangan dalam sehingga tidak lagi bisa dilewati bahkan oleh truk besar sekalipun. Jarak sekitar seratusan kilometer ditempuh dalam tiga jam bahkan bisa lebih kalau lalulintas lagi ramai.

Pas di tugu perbatasan, sebiuah lubang menganga dalam, mengucapkan selamat jalan. Lubangnya begitu dalam sehingga kenderaan harus melintas satu-satu di sisi jalan yang kondisinya agak baik.

Memasuki wilayah Jambi, kondisi jalan berbeda bagaikan bumi dengan langit. Jalanan ulus nyaris tanpa cacat, dengan marka jalan yang jelas. Kenderaan bisa dipacu dengan kencang, dan penumpangpun bisa lebih menikmati perjalanan. Jarak sekitar seratus sembilan puluh kilometer ke Jambi dari perbatasan bisa dicapai dalam waktu sekitar dua jam saja.

Riau memang ketinggalan jauh dalam soal sarana jalan raya dibandingkan dengan berbagai daerah lain.







Friday, January 28, 2011

Sketsa jalan di Aceh dengan perkiraan jarak

Yang memerlukan sketsa jalan di Nanggroe Aceh Darussalam dengan perkiraan jarak dalam kilometer bisa download di sini:

http://www.ziddu.com/download/13656894/peta_aceh_jarak.jpg.html
http://www.4shared.com/photo/tI-obMlz/peta_aceh_jarak.html