Sunday, August 16, 2009

Kacang Sihobuk

Inilah dia kota Tarutung, ibukota Tapanuli Utara, dengan jalan mulus membelah kota, dihiasi dengan bangunan-bangunan khas Batak di kiri kanan jalan. Lalu lintas ramai, tetapi teratur. Orang-orang berlalu lalang dengan santai, tanpa beban. Bukit-bukit di sebelah kanan kami nampak rimbun, diselang seling dengan rumah-rumah penduduk dan kuburan-kuburan Batak yang berukuran besar. Gereja-gereja berdiri megah, selang seling dengan mesjid-mesjid yang juga megah. Toleransi beragama nampaknya tidak menjadi masalah di sini.



Di sebelah kanan kami, sebuah bangunan menjulang: monument si Raja Panggabean. Atap-atap khas Batak berbentuk tinggi runcing menantang langit. Di depan bangunan, sebuah tiang berbentuk totem tinggi tegak. Kami berhenti di sini. Karena pintu pagarnya dalam keradaan terkunci, kami hanya mengambil gambar dari luar. Dua orang anak kecil mendekat dengan penuh rasa ingin tahu. Mereka membawa sebuah tangguk dan sebuah kantong berisi beberapa ekor ikan. Cengar cengir, mereka minta difoto. Saya mengambil gambar mereka, kemudian menunjukkannya kepada mereka dan menanyakan nama merea. Yang seorang memperkenalkan diri sebagai Yoshua, yang seorang lagi bernama Benni. Mereka berlalu dan kamipun meneruskan perjalanan. Melewati pertigaan, kami berbelok ke kiri menuju pusat kota. Kearah kanan adalah lokasi wisata Salib Kasih. Lalu lintas ramai, nyaris macet karena ada ruas jalan karena sedang diperbaiki.

Joshua dan Benny dari Tarutung
Semakin keluar kota, lalulintas semakin sepi. Bangunan semakin jarang. Tiba-tiba saja, melewati sebuah tikungan tajam, sebelah kiri kami berderet-deret kios dengan nama dan barang dagangan yang sama, kacang sihobuk. Dikemas dalam berbagai ukuran dan harga, semuanya menyandang label yang sama. Inilah kacang sihobuk yang terkenal kemana-mana. Rasanya khas. Di sebuah kios kami berhenti dan seorang anak belasan tahun keluar untuk melayani kami. Di samping kios, sebuah kuali besar tersandar. Kancah tersebut dipergunakan untuk menggongseng kacang dengan menggunakan pasir.

Beragam kemasan tersedia: bungkusan plastik kecil, sedang dan besar. Ada juga kemasan kaleng yang lebih besar. Tidak ada yang dijual kiloan atau curah.

Kacang tersebut memiliki karakter rasa yang kuat, sangat berbeda dengan jenis kacang yang dijual di berbagai swalayan. Rasa khas dan gurih itu tak lepas dari proses pembuatannya. Kacangnya pilihan, diutamakan yang berkulit tebal supaya tidak hangus selama proses. Kacang tersebut direndam di dalam air semalaman. Kadang garam ditambahkan untuk memperkuat rasa kacang. Kemudian dijemur sejenak, kemudian setelah kering digongseng dengan pasir dalam kancah besar sehingga suhu panasnya terjaga dan cita rasa kacang tidak berkurang. Selama proses penggongsengan, campuran kacang dan pasir harus terus diaduk. Cara ini melelahkan. Kemudian cara lain ditemukan, kacang digongseng dalam tabung berisi pasir yang bisa berputar dengan menggunakan tungku gas. Namum rasa kacang tetap terjaga.
Setelah digongseng beberapa jam, kembali kacang disortir. Setelah itu baru kacang siap untuk dibungkus dan dijual.

Aslinya kacang ini, berasal dari Desa Sihobuk, Pearaja. Tepatnya di Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara. Memang banyak jenis kacang yang persis sama dengan kacang ini. Bahkan, tak jarang pembeli bingung menilai mana sebenarnya yang asli. Tapi, yang asli, sekali lagi, masih dari Desa Sihobuk. Bukan yang lain.


Kami membeli sebungkus untuk dimakan di kenderaan, bukan untuk oleh-oleh. Rasanya renyah, khas, unik, seperti seharusnya kacang sihobuk terasa. Berbeda dengan kacang lainnya, rasanya khas campuran asin dan manis serta renyah. Rasa memang tidak bohong. Seperti juga harganya.


Saturday, August 15, 2009

Teratai


Lewat Panyabungan, kami berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Disebelah warung tersebut terdapat kolam ikan yang luas yang dipenuhi teratai pink yang sedang mekar ...





Sampuraga Na Maila Marina

Menjelang masuk Panyabungan, sebuah papan nama menarik perhatian kami: Sampuraga, 7 km. Nama tersebut membangkitkan kenangan lama mengenai sebuah legenda yang diceritakan oleh guru kami di Madrasah Ibtidayah dulu: Sampuraga, anak yang mengingkari ibunya. Rupanya disinilah tempatnya. Jadi kami memutar kembali dan masuk ke lokasi tersebut. Jalan aspal dengan kondisi berlubang-lubang hanya cukup dilewati oleh satu kenderaan roda empat. Jika ada mobil lain dari arah yang berlawanan, terpaksa salah satu mengalah dan menyingkir jauh-jauh. Sawah di sebelah kiri jalan berisi padi yang menguning, menunggu untuk dipanen. Anak-anak sekolah nampaknya sedang bersiap untuk mengadakan pawai tujuh belasan dalam pakaian yang beraneka ragam.

Perjalanan pendek sejauh 7 kilometer pun berakhir. Dan disinilah kami berada, sekitar seratus meter dari situs legenda Sampuraga. Kenderaan kami parkir di depan satu-satunya rumah yang ada di lokasi tersebut. Pintu dan jendela rumah tersebut tertutup rapat. Penghuninya mungkin sedang pergi bekerja.


Seorang anak belasan tahun sedang mencuci motor di sebuah sungai kecil di lokasi tersebut. Uap air berkepul dari beberapa bagian sungai, menyebarkan bau belerang yang menyengat. Saya mencoba menanyai sesuatu mengenai Sampuraga pada anak tersebut. Jawabannya hanya senyuman. Mungkin anak tersebut tidak mengerti apa yang saya maksud atau mungkin juga dia malah tidak bisa berbahasa Indonesia. Jadi kami tidak memperoleh informasi apa-apa.


Situs ini nampaknya tidak lagi dikelola dengan baik. Di pintu masuk tidak ada tanda apapun, selain sebuah papan yang menyatakan dengan jelas berapa jumlah uang yang harus dibayar oleh pengunjung yang ingin masuk ke situs. Belukar menyemak tidak pernah dibersihkan. Rumput dan ilalang tumbuh tidak terkendali. Sungai dangkal mengalir pelan. Lumpur mengendap di dasar sungai yang berkerikil. Di beberapa tempat uap air mengepul.
Di sebelah kiri kami, ada beberapa lokasi yang berpagar. Rupanya dari sinilah semuanya berasal: lubang-lubang mirip kancah untuk masak berisi air menggelegak dengan uap yang mengepul. Konon kabarnya, ini adalah bekas kancah untuk masak pada pesta perkawinan Sampuraga pada saat kutukan terjadi.

Dahulu, tersebutlah seorang pemuda bernama Sampuraga yang tinggal bersama ibunya di daerah Padang Bolak sebuah daerah Kecamatan di Kabupaten Padang Lawas Utara (dahulu masuk Tapanuli Selatan). Sampuraga dan ibunya hidup sangat miskin yang kesehariannya bekerja sebagai buruh tani di ladang orang sambil mencari kayu bakar. Pekerjaan keseharian ini dilakukan mereka dengan sungguh-sungguh dan jujur sehingga majikan menyayangi mereka. Kerajinan, kesungguhan dan kejujuran Sampuraga dan ibunya bekerja membuat sang majikan merasa iba akan tetapi tidak dapat berbuat banyak untuk membantu lebih dari apa yang mampu dia berikan.Disuatu sore sehabis bekerja di ladang majikannya dan sewaktu hendak pulang ke gubuknya, dia dipanggil oleh majikannya. Sambil duduk bersama dia disuguhkan makanan dan minuman sekedarnya sambil berbincang-bincang. Lalu majikannya membuka pembicaraan dengan menyarankan untuk mencari kehidupan baru disuatu daerah yang dikatakan sangat subur dan penduduknya makmur tersebut. Saran ini memunculkan semangatnya untuk berubah.Setelah Sampuraga pulang ke gubuknya, dia langsung mengutarakan kepada ibunya bahwa dia ingin pergi merantau ke negeri yang disebutkan oleh majikannya sangat subur dan penduduknya makmur. Tidak berapa lama kemudian Sampuraga pamitan dengan ibunya untuk memulai petualangannya merantau ke negeri orang. Ibunya merasa sedih untuk berpisah dari anaknya, namun dia harus teguh untuk melepaskan anaknya untuk mewujudkan cita-cita agar mereka tidak lagi miskin dan merana selamanya. Dengan derai airmata dan disertai doa seorang ibu maka Sampuragapun melangkahkan kakinya dengan pasti.Dalam perjalanannya yang melelahkan, Sampuraga sampai disuatu daerah yang disebut Pidelhi dan sekarang bernama Pidoli Lombang di Kecamatan Penyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Setelah berdiam di desa ini untuk beristirahat memulihkan tenaganya, lalu dia kemudian melanjutkan perjalanannya sehingga sampai disebuah desa bernama Sirambas. Pada saat inipun desa tersebut masih ada dan bernama Desa Sirambas Kecamatan Penyabungan Barat Kabupaten Madina di Sumatera Utara.Sampuraga merasa cocok tinggal di desa itu lalu dia memantapkan keputusannya untuk tinggal di desa itu. Pada saat itu, Desa Sirambas dipimpin oleh seorang raja bernama Silanjang, kemudian dikenal sebagai Kerajaan Silancang. Sampuraga berkesempatan untuk mendapat pekerjaan pada usaha dagang yang dimiliki oleh raja Silanjang. Kebiasaannya bekerja dengan rajin dan jujur mendapat pujian dari sang raja sehingga rajapun mempercayakan sepenuhnya kepada usaha perdagangannya sehingga menjadi maju sangat pesat. Dengan sendirinya Sampuraga menjadi kaya raya. Kehidupannya sudah menjadi saudagar kaya dengan penampilan bagaikan raja pula.Raja Silanjang menjadi jatuh hati kepada kesuksesan Sampuraga sehingga dia berniat mengawinkan putrinya dengan Sampuraga. Niatan itu tidak disia-siakan oleh Sampuraga lalu dia secara resmi melakukan pinangan. Tiba saatnya perkawinan dilangsungkan dalam suatu pesta meriah dengan mengundang raja-raja di sekitar negri itu. Berita pesta perkawinan itupun sampai ke telinga ibunya. Ibunya serasa tidak percaya bahwa anaknya ternyata telah sukses di negri orang dan menjadi seorang raja yang sedang melangsungkan perkawinannya.Sempat terlintas dipikiran ibunya dan bertanya dalam hatinya mengapa Sampuraga tidak memberitahukan rencana perkawinannya dengan putri raja itu kepada ibunya? Apakah dia sudah melupakan ibunya? Namun masih terngiang ditelinganya bagaimana Sampuraga meyakinkan ibunya bahwa dia harus berhasil untuk merubah nasib mereka. Ibunya memberanikan diri untuk menghadiri pesta perkawinan Sampuraga anaknya itu. Dengan bersusah payah maka diapun sampailah di tempat acara berlangsung.Dengan tubuh tua dan lusuh, ibunya terlihat menyolok disekitar pesta itu. Ibunya berusaha untuk bertemu langsung kepada Sampuraga, namun dia selalu tersingkir dari keramaian para undangan para raja-raja dan orang-orang kaya. Kemudian ibunya memberanikan diri berkata kepada seseorang agar menyampaikan langsung kepada Sampuraga bahwa ibunya ada datang menghadiri pesta perkawinannya. Karena orang itu tau bahwa ibu Sampuraga yang sedang meminta tolong itu, lantas dia mengajak si ibu itu mendekat kearah Sampuraga yang sedang bersanding.Sampuraga merasa sangat malu mengetahui bahwa ibunya ada dihadapannya dalam keadaan lusuh dan tua. Diapun menyangkal bahwa itu adalah ibunya lantas dia membentak dan mengusir ibunya dan mengatakan bahwa dia bukanlah ibunya. Mengetahui sikap Sampuraga yang menyangkal ibunya, sehingga ibunya menangis dan sedih, sembari dia dipinggirkan oleh orang-orang sekitar.Ibunya meronta dari usiran orang-orang. Sambil menangis dengan sangat sedih, ibunya berdoa dan mengutuk Sampuraga sebagai orang durhaka terhadap ibunya. Dia memeras susunya dan berkata bahwa Sampuraga hidup dari air susu ibunya, dan kalau memang benar Sampuraga telah durhaka terhadap ibunya, maka Tuhan akan menunjukkan keadilannya.Seketika itu juga, tiba-tiba langit diselimuti awan tebal dan hitam. Petir menyambar bersahut-sahutan. Tak lama kemudian, hujan deras pun turun diikuti suara guntur yang menggelegar seakan memecah gendang telinga. Seluruh penduduk yang hadir dalam pesta berlarian menyelamatkan diri, sementara ibu Sampuraga menghilang entah ke mana. Dalam waktu singkat, tempat penyelenggaraan pesta itu tenggelam seketika. Tak seorang pun penduduk yang selamat, termasuk Sampuraga dan istrinya..Beberapa hari kemudian, tempat itu telah berubah menjadi kolam air yang sangat panas. Di sekitarnya terdapat beberapa batu kapur berukuran besar yang bentuknya menyerupai kerbau. Selain itu, juga terdapat dua unggukan tanah berpasir dan lumpur warna yang bentuknya menyerupai bahan makanan. Penduduk setempat menganggap bahwa semua itu adalah penjelmaan dari upacara pernikahan Sampuraga yang terkena kutukan. Oleh masyarakat setempat, tempat itu kemudian diberi nama “Kolam Sampuraga”. Hingga kini, tempat ini telah menjadi salah satu daerah pariwisata di daerah Mandailing yang ramai dikunjungi orang.


Di sebelah kanan lokasi ada prasasti yang berisi relief kejadian. Semuanya tergambar dengan jelas, pesta yang meriah, ibu tua yang bersedih, dan anak durhaka yang pongah. Dan kutukan. Kutukan yang menyisakan lubang besar di tanah yang mirip kuali, yang berisi air menggelegak sepanjang tahun. Kutukan yang menyisakan legenda tentang bagaimana seorang anak seharusnya bisa memperlakukan ibunya dengan lebih baik. Guru kami dulu bercerita, jika kita mengatakan Oh Sampuraga Na Maila Marina (Sampuraga sidurhakan pada ibunya) air akan tambah menggelegak. Kami mencoba hal tersebut, tetapi gelegak airnya sama saja seperti semula. Mungkin karena kami tidak mengatakannya dengan sepenuh hati.

Paling ujung di kompleks ini adalah sebuah bangunan kecil berbentuk bulat beratap seng yang sudah sepenuhnya berwarna coklat karena berkarat. Secara keseluruhan, lokasi ini sama sekali tidak terawatt, bahka nyaris diabaikan oleh pemiliknya, Pemda setempat.
Satu-satunya yang tersisa adalah legenda itu sendiri. Legenda yang pernah menjadi bagian dari masa kecil kami, yang diceritakan oleh guru kami menjelang pulang sekolah – sebuah sekolah reyot di pelosok ujung barat Sumatra. Legenda yang mengingatkan kami dan semua orang untuk tidak memperlakukan orang tuanya – khususnya ibunya – seperti Sampuraga memperlakukan ibunya. Dan kami sudah menyaksikan sendiri akibatnya. Setidaknya, apa yang tersisa dari legenda tersebut.










Friday, August 14, 2009

Mudik


Jalur mudik yang kami pilih kali ini beda dari biasanya. Dari tempat kami tinggal, kami akan menuju Sumatera Barat melintasi Bukittinggi, kemudian ke Maninjau, terus turun melalui kelok empat puluh empat menuju Lubuk Basung dan Pariaman, kemudian kembali ke Bukittinggi melalui Lubuk Alung dan Lembah Anai. Dari Bukitinggi, kami akan meneruskan perjalanan ke Padang Sidempuan, melewati Lubuk Sikapung dan Kotanopan. Kemudian, perjalanan akan diteruskan ke Tarutung, melewati Sibolga atau Sipirok. Melewati Siantar, kami akan keluar ke Tebingtinggi, dan seterusnya akan sampai ke Medan Kami akan menikmati eksotisme pemandangan alam pegunungan Sumatera Barat yang terkenal.

Kami berangkat selepas magrib, karena rencananya kami akan banyak berhenti di jalan. Target kami adalah sampai di Bukittinggi pada pagi hari. Hujan mulai turun saat kami meninggalkan rumah. Jalanan rusak berlubang menyambut kami sepanjang dua puluh enam kilometer, sampai kami mencapai jalan lintas Sumatera yang kondisinya lumayan bagus. Menjelang Pekanbaru, hujan turun semakin lebat. Kami mengkhawatirkan jika hujan lebat di gunung yang bisa menyebabkan longsor sebagaimana yang sering terjadi. Tetapi kekhawatiran kami tidak beralasan, karena keluar dari Pekanbaru, hujan berhenti. Bahkan, di Bangkinang, nampaknya tidak ada tanda-tanda pernah hujan, semuanya kering. Dekat mesjid Agung Bangkinang kami berhenti untuk makan sate, sekedar pengisi perut yang lapar. Satenya agak aneh, kulit dan usus, dengan bumbu sate Padang yang pedas.

Melewati Bangkinang, penjalanan mulai mendaki. Kota-kota kecil kami lewati, semuanya sedang tidur lelap. Jembatan Rantau Berangin sepi total. Biasanya jam-jam seperti ini, Rantau Berangin ramai oleh kenderaan yang menginap untuk melanjutkan perjalanan selepas subuh. Di sebuah rumah makan di daerah Pangkalan kembali kami berhenti untuk beristirahat. Kantuk susah untuk dilawan, jadi saya mencoa tidur beberapa saat. Cuaca sangat dingin di pegunungan, udara lembab berkabut. Di Lubuk Bangku kembali kami berhenti untuk makan dan salat. Rumah makan kecil tersebut tidak menyediakan nasi, hanya makanan kecil Tersedua tempat salat dan panggung yang bisa dipakai untuk tidur. Kamar mandinya bersih dengan air gunung yang sangat dingin. Selesai salat kembali saya tidur sebentar.

Sekitar jam 6:30 kami memasuki kota Payakumbuh. Orang-orang yang baru pulang dari mesjid untuk salat subuh ramai di jalan. Kota ini mulai bangun, walaupun jalan masih sepi dari kenderaan. Di sebuah SPBU kami berhenti sebentar untuk salat dan mengisi bensin.
Memasuki Bukittinggi, jalanan mulai ramai oleh kenderaan dan orang-orang. Kami berhenti di pasar di depan Jam Gadang. Pasar masih sepi, pedagang-pedagang baru bersiap untuk membuka dagangannya. Menunggu pasar buka, kami menuju ke Taman Panorama yang sudah buka dan ramai oleh orang-orang yang berolah raga. Monyet-monyet berayun-ayun di pohon di pinggir jalan, menunggu makanan dilemparkan oleh orang-orang yang lewat. Seorang petugas kebersihan lewat dengan gerobaknya. Monyet-monyet tersebut langsung menyerbu makanan yang diberikan petugas kebersihan tersebut. Mereka makan dengan berebut, kadang saling usir. Orang-orang menonton.

Di Taman Panorama monyet-monyet lebih banyak lagi. Mereka merubungi kami, minta makanan, yang tidak ada sama kami. Kami terus berjalan kearah Ngarai Sianok, dan monyet-monyet tersebut terus mengikuti. Pemandangan kearah ngarai luar biasa. Kabut menggantung rendah, menutupi pemandangan kearah ngarai. Gunung Singgalang menjulang di balik kabut, hijau membiru dalam cuaca pagi sebelum matahari terbit.

Rencana untuk masuk ke Lubang Jepang – yang juga terletak di Taman Panorama – kami urungkan, karena masih sepi dalam suasana sepagi itu.













Di Taman Panorama monyet-monyet lebih banyak lagi. Mereka merubungi kami, minta makanan, yang tidak ada sama kami. Kami terus berjalan kearah Ngarai Sianok, dan monyet-monyet tersebut terus mengikuti. Pemandangan kearah ngarai luar biasa. Kabut menggantung rendah, menutupi pemandangan kearah ngarai. Gunung Singgalang menjulang di balik kabut, hijau membiru dalam cuaca pagi sebelum matahari terbit.

Rencana untuk masuk ke Lubang Jepang – yang juga terletak di Taman Panorama – kami urungkan, karena masih sepi dalam suasana sepagi itu.






Dari Taman Panorama, kami kembali ke Jam Gadang. Pasar sudah mulai ramai dengan orang-orang, pedagang dan pembeli. Lorong-lorong pasar sesak oleh kios-kios pedagang, yang membuat jalur untuk membeli menjadi sempit. Pembeli berdesakan, antara orang-orang yang lewat dan orang-orang yang berbelanja. Kami sarapan di sebuah kedai, yang menjual berbagai makanan.

Pasar ini merupakan pasar pariwisata. Produk khas Bukitinggi, aneka sulaman, bordiran dijual diseantero pasar. Penjual souvenir menawarkan berbagai hasil kerajinan masyarakat setempat. Makanan khas daerah sini, sanjai dengan berbagai rasa, jagung goreng, snak angka delapan (tidak tahu nama sebenarnya apa, tetapi semuanya menyebut dengan angka delapan), kerupuk jangek dalam kantong plastic berukuran besar. Aneka opak dan kerupuk mentah lainnya memenuhi sebuah meja jualan di sebuah kios. Belut-belut seukuran jari yang dikeringkan dan dikemas dengan jepitan bambu dari jauh nampak seperti umbul-umbul kecil yang melambai menunggu pembeli. Penjual sate menuang minyak berbumbu ke dalam arang dan mengipas-ngipas, membuat asap membumbung dan menyebarkan harum sate. Penjual majalah dan buku bekas sedang merapikan jualannya di ujung lorong. Musik tradisional berdentum keras dari loudspeaker penjual kaset, yang volumenya dipasang pada posisi maksimum.

Lorong lainnya merupakan tempat penjualan barang bekas, baju, sepatu, jaket, tas. Kiri kanan lorong dipenuhi lapak-lapak penjual yang mengisi lapaknya dengan tumpukan jualannya. Jaket-jaket digantung dengan rapi, begitu juga dengan tas-tas. Beberapa tas nampaknya bagus, walaupun bekas. Iseng-iseng saya menanyakan sebuah tas selempang kulit berbentuk petak. Harganya tiga ratus ribu rupiah. “Masih bisa ditawar,” kata ibu penjualnya. Saya tersenyum dan berlalu.




Sekitar jam sebelas siang kami meninggalkan Bukittinggi menuju Maninjau. Jalan kecil, sedikit rusak di beberapa tempat. Jika ada kenderaan besar melintas dari arah yang berlawanan, salah satu harus mengalah dan menepi. Kiri kanan jalan menawarkan pemandangan indah, sawah yang bertingkat yang sedang berisi padi yang menghijau, bukit-bukit kecil Sungai-sungai kecil yang kami lewati berair jernih mengalir deras. Polusi belum menjadi masalah di daerah ini.

Jalan semakin mendaki, berkelok-kelok dengan tikungan-tikungan tajam. Dari jendela kenderaan yang sengaja dibuka, angin sejuk segar masuk. Di Sungai Landia kami berhenti, menikmati pemandangan yang luar biasa. Sekelompok rumah dan mesjid nampak kecil di bawah sana. Ada toko souvenir di sini, menawarkan berbagai hasil kerajinan. Makanan dan minuman ringan juga dijual di sini. Beberapa turis asing sedang berbelanja. Saya membeli beberapa baterai untuk kamera di sini.

Di Embun Pagi kami kembali berhenti. Dari ketinggian, Danau Maninjau nampak jelas di bawah, berseliput awan tipis dipermukaannya. Matahari bersinar terik menyengat, tetapi angina dingin berhembus. Toko-toko souvenir yang berjejer sepi dari pengunjung. Sekarang memang bukan musim liburan. Saat liburan – kami pernah ke sini saat lebaran – tempat ini penuh sesak dengan pengunjung. Hotel di sebelah kiri kami berdiri megah menghadap danau. Seorang turis asing sedang menjelaskan menjelaskan sesuatu kepada kedua anak lelakinya, sambil sesekali menunjuk ke arah danau.

Maninjau adalah danau vulkanik. Cekungannya terbentuk karena letusan Gunung Merapi. Gunung berketinggian 2.891 meter dari permukaan laut (mdpl) itu berdiri di sekitarnya. Secara geografis, Maninjau berada di kecamatan Tanjung Raya, kabupaten Agam, sekitar 140 kilometer sebelah utara kota Padang. Danau ini berada di ketinggian 461,50 mdpl. Sementara, luas permukaan danau sekitar 99,5 kilometer persegi, dengan kedalaman maksimum 495 meter.







Perjalanan kami teruskan menuruni kelok 44. Orang setempat menyebutnya kelok ampek puluah ampek. Ada empat puluh empat buah tikungan tajam, sebagian besar nyaris berbentuk huruf U, yang harus dituruni dari sini. Setiap kelokan dinomori. Harus sangat berhati-hati. Mungkin karena sekarang tengah hari, tidak banyak kenderaan yang melintas. Sampai ke kelok 1, nyaris tidak ada kenderaan lain yang kami temui. Melewati kota Maninjau, kami terus melanjutkan perjalanan. Penginapan, homestay dan hotel berdiri di sebalah kiri jalan, rata-rata menghadap danau, menawarkan pemandangan indah. Warung-warung keci berdiri di tempat-tempat terbuka, semuanya menawarkan tempat untuk bersantai di pinggir danau yang membiru. Keramba-keramba ikan memenuhi pinggiran danau. Orang-orang berlalu lalang dengan sampan dari keramba ke keramba lainnya. Disebuah tempat kami kembali berhenti, mencari tempat duduk yang dekat dengan pinggir danau.




Kami makan siang di Warung Mak Uniang, yang lagi sepi. Mungkin karena jam makan siang sebenarnya sudah lama lewat. Rencana untuk mandi ditempat ini kami urungkan, karena air tidak ada. Tahun lalu sewaktu lebaran, kami pernah ke sini. Kamar mandinya diisi dengan air gunung yang mengalir deras, sejuk dan segar. Sekarang semuanya kering kerontang. Kolam-kolam ikan yang dulu berisi air jernih dengan ikan mas dan nila yang berenang jinak di dalamnya, sekarang berisi tumpukan lumpur yang mengering, menimbulkan kesan jorok.

Perjalanan selanjutnya melewati Lubuk Basung, yang berjarak sekitar 24 km dari Maninjau. Melewati Manggopoh, kami menuju ke Tiku, yang berdekatan dengan laut. Sebelah kiri kami, sawah sedang berisi padi yang sedang menguning, sementara sebelah kanan kami pantai Tiku dengan pasir putih dan ombak besar menderu. Beberapa tempat wisata pantai juga sepi dari pengunjung. Di sebuah sungai lewat Pariaman, kami berhenti. Sungainya dangkal, dengan dasar berbatu kerikir. Air jenih mengalir menuju muara sungai yang berjarak hanya beberapa ratus meter sebelah kanan kami.


Melewati Lubuk Alung, Sicincin dan Kayu Tanam, kami mencapai Lembah Anai sore hari. Udara mulai berkabut, matahari tidak tampak lagi. Di sebuah kamar mandi umum, kami menumpang mandi dengan membayar seribu rupiah seorang. Airnya sedingin es. Air terjun Lembah Anai yang terkenal menderu di depan, dekat jembatan kereta api lama. Tidak ada lagi pengunjung di sana. Kios-kios penjual makanan ringan berjejer, di seberangnya sebuah rumah makan besar dengan beberapa kenderaan parkir di depannya.


Saturday, July 25, 2009

Listrik



Krisis listrik semakin parah. Setiap hari lampu mati melebihi dosis obat: tiga kali sehari dengan total 12 jam.
Awan